Home Aqidah 12 Indikator Kebangkitan PKI versi Habib Rizieq

12 Indikator Kebangkitan PKI versi Habib Rizieq

279
0
SHARE

image

Kebangkitan Partai Komunis Indonesia (PKI) bukan isapan jempol. Saat ini PKI telah meninabobokan rakyat Indonesia, khususnya umat Islam. Perbuatan PKI itu bagian dari propaganda. Wajar jika umat Islam diminta untuk merapatkan barisan agar tidak terpecah akibat hasutan paham komunis.

Hal itu disampaikan Imam Besar Front Pembela Islam (FPI) Habib Rizieq di sela-sela acara Pemaparan dan Penguatan Aswaja serta Waspada PKI di gedung Gradika, Pasuruan, Kamis (7/1/2016).

“Kita bukan suudzon (buruk sangka) terhadap PKI tapi ini firasat umat Muslim. Pasca reformasi, PKI mulai mendapat kebebasan menyebarkan ideologinya,” terang Habib Rizieq.

Setidaknya ada 12 indikasi kebangkitan PKI di Indonesia. Berikut paparan selengkapnya Habib Rizieq kepada SICOM:

Pertama, tuntutan pencabutan TAP MPRS XXV/1966 tentang larangan paham komunisme di Indonesia dicabut. Dengan kuatnya tekanan pencabutan Tap MPRS tersebut, bukan tidak mungkin PKI punya peluang menyebarkan ideologinya. Seruan ini, sebut Habib Rizieq, acapkali dikumandangkan oleh Komnas HAM dan LSM-LSM liberal. Nah, TAP MPRS ini selalu menjadi dasar hukum bagi kelompok-kelompok komunis untuk kembali mengembangkan paham terlarang tersebut.

Kedua, penghapusan kurikulum pendidikan nasional soal sejarah PKI. Sebelum era reformasi 1998, generasi muda Indonesia selalu diberi bekal informasi tentang paham-paham komunis. Setiap tanggal 30 September diperingati sebagai hari kekejaman PKI. Sayangnya selepas reformasi, informasi seputar kejahatan PKI dihapus. Generasi muda di atas tahun 90 kini tidak lagi paham tentang masa lalu PKI dan sepak terjangnya. Mereka dibutakan oleh minimnya informasi. Habib Rizieq menyayangkan orang yang mempunyai kekuatan menghapus memori kelam tersebut. Orang-orang itu disebutnya sebagai pihak-pihak yang diuntungkan PKI.

Ketiga, film pengkhianatan PKI tidak diputar lagi. Menurut Habib Rizieq, film itu sejatinya menunjukkan pada kita betapa biadabnya PKI. Namun setelah 1998, film itu kini tinggal sejarah. Televisi swasta maupun TVRI tidak lagi menayangkan film kejahatan PKI. Media elektronik menjadi takut. Jangankan memutar tayangan tersebut, hal ini seperti menjadi tabu lagi. Info ini kian menyurutkan pengetahuan generasi muda bangsa soal PKI. Ini sangat disayangkan.

Keempat, penelitian khusus (litsus) dihapuskan pasca reformasi. Sehingga kini eks anggota PKI maupun keturunannya bisa bebas memasuki setiap lini kehidupan. Mereka bebas masuk ke kalangan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Padahal di era orde baru, yang namanya litsus sangat dibutuhkan untuk menjaring ideologi terlarang tersebut. Pasalnya, masih banyak keturunan PKI yang masih menerapkan ideologi tersebut, sehingga inilah yang dikhawatirkan negara. Habib Rizieq menilai, pihaknya tidak mempermasalahkan eks anggota PKI dan keturunannya masuk menjadi pejabat asalkan meninggalkan paham komunis. Buktinya, sekarang ini malah ada anggota parlemen yang secara terang-terangan bangga menjadi anak PKI. Ini menunjukkan jika paham PKI belum sepenuhnya bersih. Mereka bahkan duduk di partai dan menjadi pimpinan fraksi. Kini pertanyaannya, ada apa dengan kita yang punya negeri ini?

Kelima, PKI masuk ke partai-partai besar. Para tokoh eks PKI dan keturunannya kini mulai infiltrarisasi dan bergabung dengan partai besar maupun partai berasazkan Islam. Bahkan ada yang menjadi staf ahli kepresidenan dan mempengaruhi kebijakan di pemerintahan. Innalillahi wa innailaihi rajiun, sebut Habib Rizieq.

Keenam, buku-buku PKI dijual bebas. Sejak reformasi, banyak orang menulis buku PKI. Mereka bahkan tidak tanggung-tanggung membela PKI dan menyebarkan ideologi tersebut ke generasi muda. Banyak kalangan tokoh-tokoh Islam yang mengecam pelarangan tersebut sebagai kezaliman yang memundurkan bangsa ini ke zaman orde yang paling baru. Negara ini makin ngawur. Sebut saja buku ‘Aku Bangga Jadi Anak PKI’, ‘Anak PKI Masuk Parlemen’, ‘Gerwani’, ‘Palu Arit Dilarang’, Kabut G30S PKI’ dan masih banyak lagi. Buku-buku itu pada intinya membela PKI dan menjadikan PKI seolah-olah menjadi korban. Sayangnya, dalam hal ini pemerintah tidak berkutik bahkan terkesan melakukan pembiaran.

Ketujuh, setelah marak buku PKI beredar. Kini bermunculan film-film ‘pembela PKI’. Film-film ini dibuat untuk menarik simpati dari masyarakat. Sebut saja film ‘Senyap’ (dalam judul internasional disebut “The Look of Silence”) yang disutradarai Joshua Oppenheimer kelahiran Amerika Serikat. Film ‘Senyap’ adalah pelengkap film sebelumnya “The Act of Killing” atau “Jagal” (tayang 2012), yang lebih banyak menyoroti cerita para pembunuh tapol komunis. Kemudian ada film ‘Lestari’ yang disurtadarai Eros Djarot. Semua film-film ini memposisikan PKI sebagai korban. Komnas HAM dan LSM-LSM liberal sangat mengapresiasi film tersebut.

Kedelapan, munculnya Rancangan Undang-undang (RUU) Kebenaran dan Rekonsiliasi. Habib Rizieq menyebut, RUU ini merupakan hasil pemikiran anggota DPR yang pro PKI. Dalam RUU tersebut pemerintah diwajibkan meminta maaf ke PKI. Padahal sebelumnya RUU itu sudah ditentang pemerintah. Namun orang-orang PKI yang duduk di parlemen sampai sekarang terus memperjuangkan RUU tersebut. Dan apabila RUU Kebenaran dan Rekonsiliasi sampai disahkan, kata Habib Rizieq, maka bukan tidak mungkin negara harus mematuhi UU. Meminta maaf ke PKI.

Kesembilan, Komnas HAM, LSM komprador, LSM liberal, mulai berani menulis surat pembelaan PKI terhadap presiden. Kata Habib Rizieq, pembelaan ini sebagai bentuk kepentingan terhadap ideologi komunis. Mereka pada dasarnya ingin PKI bangkit lagi dengan mengatasnamakan hak asasi manusia. Gerakan-gerakan ini patut diwaspadai. Indonesia harus siaga dengan keberadaan lembaga-lembaga tersebut. Sebab, bukan tidak mungkin mereka akan membuat kembali kegaduhan politik seperti era 1965.

Kesepuluh, saat ini partai politik Indonesia dan partai komunis Cina secara terang-terangan menandatangani kerjasama politik. Partai komunis Cina memberi pelatihan terhadap kader-kader Indonesia. Secara tidak langsung, sebut Habib Rizieq, mereka telah membentuk generasi muda Indonesia masuk dalam paham komunis.

Kesebelas, anak PKI kini mulai berani melakukan konvoi, pawai keliling. Bahkan para artis dan generasi muda sudah merasa bangga dengan mengenakan kaos palu arit. Habib mengatakan, mereka (generasi muda) tidak tahu bahwa gambar itu bukan sekedar gambar biasa, melainkan bentuk pengakuan bahwa paham komunis sudah kembali ke Indonesia.

Keduabelas, Presiden Joko Widodo selalu ditekan LSM dan Komnas HAM untuk meminta maaf ke PKI. Ini jelas-jelas salah. Bahkan ada oknum kyai mendukung pemerintah meminta maaf ke PKI. Sampai sekarang eks PKI dan keturunannya masih terus memperjuangkan agar negara meminta maaf kepada PKI. Jika hal ini sampai terjadi dan negara meminta maaf, maka kata Habib Rizieq, menimbulkan implikasi yang cukup besar bagi negara. Sekali lagi, negara kalah oleh PKI. Permintaan maaf pada PKI akan memberi kesan bahwa PKI tidak salah. Jadi siapa yang salah? Yang salah tentu orang-orang yang selama ini memperjuangkan kedaulatan NKRI, di antaranya NU, Banser, Ansor, tentara, ulama, kyai, dan pesantren.

Di jaman dulu, lanjut Habib Rizieq, mereka jelas-jelas membela aqidah, membela rakyat, dan takut pada Allah. Padahal jelas-jelas yang salah pada saat itu adalah PKI. Namun para santri dan rakyat justru yang ganti disalahkan.

“Lihat saja, berapa banyak orang-orang Islam pada waktu itu dibantai PKI. Ada berita 200 warga NU dibunuh dan mayatnya dimasukkan di sumur. Lalu ada 60 warga Ansor yang diracuni di Banyuwangi dan kemudian disembelih. Para warga NU, ulama dan kyai, pada dasarnya membela aqidah, mereka membela yang haq. Sehingga negara tidak layak untuk meminta maaf ke PKI,” terang Habib Rizieq.

Jika sampai negara meminta maaf ke PKI, jelas Habib Rizieq, maka PKI akan mendapat rehabilitasi. Jika sudah dapat rehabilitasi, PKI akan mempunyai hak untuk menuntut Indonesia ke pengadilan HAM. Negara, kali ini yang ganti dianggap sebagai penjahat perang.

“Itu tidak boleh terjadi. Kami warga FPI akan membela berada di belakang NU dan Islam, dan melarang PKI berkembang di Indonesia. Kami akan mendesak presiden untuk tidak takut pada tekanan pihak lain. Jika sampai takluk, maka presiden yang harus kita taklukkan. Kita siap demo besar-besaran,” tutup Habib Rizieq berapi-api.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*