Home Aqidah Bocah Muslimah di Hari Natal

Bocah Muslimah di Hari Natal

227
0
SHARE

بسم الله الرحمن الرحيم
Bocah Muslimah di hari Natal

Seorang yang cukup tersohor di negeri ini baru saja membuat tulisan. Ditulisnya kisah (entah fiktif ataukah nyata). Tampak ada pesan yang ingin disampaikannya. Argumennya tampak indah namun seperti sarang laba-laba.

——————-
Bocah Muslimah di hari Natal
D**** **

Ayah,
Akankah Tuhan marah
Aku seorang muslimah
Selamat Natal aku ucapkan
Kepada temanku katolik dan protestan?

Ataukah Tuhan senang
Temanku menjadi riang
karena aku ikut bahagia
di hari Natal mereka?

Pak Ahmad tertegun dan terdiam
Ludahnya tak sengaja tertelan
Apa yang harus ia katakan
Putrinya baru usia belasan?

Haruskah ia ceritakan
Agama banyak aliran
Ulama banyak tak sepaham
Siapa menjadi pegangan?

————————
Setelah itu dia menggambarkan seolah-olah banyak versi dan perbedaan pendapat pada masalah-masalah seputar Islam. Dia melihat dari permukaan, bahwa banyak yang berbeda. Tanpa mengkaji apa dasar perbedaan dan dari mana perbedaan berasal.

Ibaratnya, ketika ada orang berkata: makanan khas jogja adalah gudeg, dia membantahnya. Dia berkata: saya ke sebuah pasar di Jogja, di sana ada gudeg, ada soto, ada gado-gado, ada juga yang berjualan nasi liwet. Jadi yang benar makanan khas Jogja yang mana?

Ibaratnya saat ada orang berkata: beginilah Islam yang benar, dia berkata: bukan begitu. Saya melihat di sana Islam begini. Di tempat lain Islam begitu. Berbeda-beda. Mana yang benar?

Kemudian pada akhirnya orang ini mengkisahkan bahwa Pak Ahmad mempersilakan anaknya mengucapkan selamat natal dengan mengatakan prinsip:

———–
“Lakukan saja untuk temanmu
Apapun yang kamu senang dilakukan
oleh temanmu padamu”

“Jangan lakukan pada temanmu
Apapun yang kamu tidak senang dilakukan
oleh temanmu padamu”

—————
Innaa lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun.

Mari kita bantu Pak Ahmad menjawab pertanyaan anaknya:

Alhamdulillaah…
Untuk pak D**** **, coba gunakan kalimat ini untuk menjawab pertanyaan anak pak Ahmad:

Nak, sesungguhnya kita ini adalah orang-orang yang lemah dengan ilmu terbatas. Bapakmu juga orang lemah dan manusia biasa. Nak, sesungguhnya yang paling pantas dihormati adalah Pencipta kita, yang Mengatur alam semesta.

Ketahuilah nak, di antara bentuk penghormatan kita kepada-Nya adalah kita tidak berkata tentang-Nya apa yang tidak benar. Bentuk lainnya adalah kita tidak berkata atas nama-Nya, apa yang tidak pernah Dia ucapkan.

Maka untuk menjawab pertanyaanmu: akankah Tuhan marah ketika seorang muslimah mengucapkan selamat natal? Maka menurut ayah, cara menjawabnya adalah dengan menjawab pertanyaan: Apakah Sang Pencipta suka atau murka dengan natal?

Nak, kita tidak punya akses langsung untuk bertanya kepada Tuhan. Kita mendapat informasi dari-Nya melalui kitab suci. Agama-agama di dunia ini juga memiliki kitab yang dianggap suci.

Nak, kita adalah muslim. Maka marilah bertanya kepada Pencipta melalui kitab suci kita. Bagaimana hukum natal?

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ ۖ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۖ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ ۖ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maidah ayat 72).

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ ۘ وَمَا مِنْ إِلَٰهٍ إِلَّا إِلَٰهٌ وَاحِدٌ ۚ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (QS. Al-Maidah ayat 73).

Itulah Nak, jawaban sang Pencipta. Telah ada sebelum kita bertanya.

Maka adapun terhadap teman-temanmu yang merayakan natal, biarkan mereka menjawab pertanyaan itu. Sukakah Tuhan bahwa natal dirayakan? Biarlah mereka mencari bagian dari kitab mereka yang memerintahkan untuk merayakan natal. Atau yang menunjukkan bahwa Tuhan cinta terhadap natal.

Nak, engkau telah mendapatkan jawaban dengan kitab sucimu, Nak. Jawaban yang telah ada bahkan sebelum engkau bertanya.

Alhamdulillaah.
#IslamlahKauSelamat

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here