Home Fiqih Cara Mengetahui Lailatul Qadr

Cara Mengetahui Lailatul Qadr

616
0
SHARE

MENGAPA DISEBUT LAILATUL QADR

Lailah artinya: malam. Qadr memiliki 2 arti, yaitu:

  1. Kemuliaan.

  2. Taqdir.

Kemuliaan lailatul qadr antara lain disebutkan dalam ayat:

لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Lailatul qadr itu lebih baik daripada 1.000 bulan1.”

Taqdir untuk setahun ditetapkan pada lailatul qadr, berdasarkan ayat:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ فِيهَا يُفْرَقُ كُلُّ أَمْرٍ حَكِيمٍ

Sungguh Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada suatu malam yang dibarokahi2; sungguh Kami adalah para pemberi ancaman. Di dalam malam3 itu diputuskan setiap perkara yang muhkam (dikokohkan).”4

ASAL USUL LAILATUL QADR

Imam Malik mendengar ahli ilmu yang beliau nilai tsiqat berkata:

إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ أُرِيَ أَعْمَارَ النَّاسِ قَبْلَهُ، أَوْ مَا شَاءَ اللَّهُ مِنْ ذَلِكَ، فَكَأَنَّهُ تَقَاصَرَ أَعْمَارَ أُمَّتِهِ، أَنْ لاَ يَبْلُغُوا مِنَ الْعَمَلِ، مِثْلَ الَّذِي بَلَغَ غَيْرُهُمْ فِي طُولِ الْعُمْرِ، فَأَعْطَاهُ اللَّهُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ، خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ

Sungguh Rasulullah saw diperlihatkan umur para manusia sebelum beliau, lalu tampaknya beliau merasa bahwa umur ummatnya terlalu pendek untuk dapat mencapai dalam beramal seperti apa yang dicapai oleh umat lain karena usia mereka lebih panjang. Maka Alloh pun memberikan lailatul qadr yang lebih baik daripada 1.000 bulan.”

Syeikh Muhammad Zakariya al-Kandahlawi dalam risalah Fadhilah Ramadhan menyebutkan beberapa asal muasal lailatul qadr selain di atas yaitu:

  1. Para shahabat mendengar kisah seorang shalih dari Bani Israil yang berjihad fi sabilillah selama 1.000 bulan. Para shahabat pun merasa ‘iri’ karena tidak dapat mencapai derajat tersebut. Maka Alloh pun memberikan lailatul qadr kepada mereka.

  2. Para shahabat mendengar kisah 4 Nabi dari Bani Israil yang menghabiskan usia 80 tahun dalam ibadah tanpa maksiat. Mereka adalah: Nabi Ayyub, Nabi Zakariya, Nabi Ezkil, dan Nabi Yusya`. Para shahabat merasa kagum, lalu turunlah ayat tentang lailatul qadr.

FADHILAH LAILATUL QADR

Salah satu fadhilahnya adalah diturunkannya Al-Qur’an dari Lauhul Mahfuzh ke langit dunia5. Inilah yang dimaksud dalam ayat:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sungguh Kami telah menurunkan Al-Qur’an pada lailatul qadr.”

LIMA PULUH PENDAPAT

Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam al-Fath6 menulis: “Para ulama` berselisih pendapat sangat banyak seputar lailatul qadr. Kami mendapatkan lebih dari 40 pendapat dari mazhab mereka.”

Sementara itu Syaikh Muhammad Zakariya al-Kandahlawi menulis: “Mengenai penentuan malam ini, ada lebih kurang 50 pendapat yang berbeda-beda di antara alim ulama.”

LETAK & JUMLAH LAILATUL QADR

Tentang letak lailatul qadr terdapat 2 pendapat:

  1. Di bulan Ramadhan saja.

  2. Di bulan Ramadhan maupun lainnya.

Tentang jumlah lailatul qadr terdapat 2 pendapat:

  1. Satu malam tiap tahun.

  2. Dua malam tiap tahun.

Menurut Ibnu Mas’ud ra:

مَنْ يَقُمِ الْحَوْلَ يُصِبْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Siapapun qiyamullail sepanjang tahun, pasti mendapatkan lailatul qadr.”

Petuah Ibnu Mas’ud ini dikomentari oleh Ubay bin Ka’b:

أَمَا إِنَّهُ قَدْ عَلِمَ أَنَّهَا فِى رَمَضَانَ وَأَنَّهَا فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ وَأَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ.

Sungguh dia telah tahu bahwa lailatul qadr itu di bulan Ramadhan, dan terletak di sepuluh hari akhir, dan bahwa lailatul qadr adalah malam ke-27.”7

Sementara itu Syaikh Waliyyullah ad-Dahlawi berpendapat bahwa lailatul qadr terdapat 2 kali tiap tahun; bisa di bulan Ramadhan dan bulan lainnya. Namun pada umumnya turun di bulan Ramadhan. Demikian disebutkan oleh Syaikh al-Kandahlawi. (Fadhilah Ramadhan hlm. 78)

TEORI IBNU HAZM

Rasulullah Saw bersabda:

الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى.

Carilah lailatul qadr di sepuluh akhir Ramadhan; pada hari kesembilan yang tersisa, hari ketujuh yang tersisa, hari kelima yang tersisa.” HR Bukhari.8

Menurut Ibnu Hazm berdasarkan hadits ini, lailatul qadr bisa terjadi di MALAM GENAP. Karena Rasulullah saw menyuruh mencarinya di sepuluh hari terakhir terutama ke-9, 7, atau 5. Maksudnya, jika Ramadhan berjumlah 30 hari, maka lailatul qadr dicari di malam-malam ganjil. Namun jika Ramadhan hanya 29 hari, maka lailatul qadr dicari di malam-malam genap, karena sepuluh hari akhir dimulai dari malam ke-20. Wallahu A’lam. (Fadhilah Ramadhan hlm. 70)

MALAM PALING DIHARAPKAN

Ibnu Hajar dalam al-Fath mentarjih bahwa lailatul qadr di malam ke-27, meskipun bisa berpindah-pindah dari tahun ke tahun. Minimal terdapat 3 dalil bahwa lailatul qadr adalah malam ke-27 yaitu:

حَلَفَ لاَ يَسْتَثْنِى أَنَّهَا لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقُلْتُ بِأَىِّ شَىْءٍ تَقُولُ ذَلِكَ يَا أَبَا الْمُنْذِرِ قَالَ بِالْعَلاَمَةِ أَوْ بِالآيَةِ الَّتِى أَخْبَرَنَا رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمأَنَّهَا تَطْلُعُ يَوْمَئِذٍ لاَ شُعَاعَ لَهَا.

Ubay bin Ka’b bersumpah tanpa insyaAlloh, bahwa lailatul qadr adalah malam ke-27. Ditanya: Berdasarkan apa Anda berpendapat demikian wahai Abul Mundzir?” Dia jawab, “Berdasarkan tanda yang diberitakan oleh Rasulullah saw, bahwa mentari di hari itu (pada paginya) tidak bersinar menyengat.” HR Muslim.9

Dalil kedua adalah titah baginda Rasulullah saw:

التمسوا ليلة القدر ليلة سبع و عشرين

Burulah lailatul qadr di malam ke-27.” HR Thabarani.10

Dalil ketiga adalah pesan singkat Rasulullah saw:

مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا ، فَلْيَتَحَرَّهَا فِي لَيْلَةِ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ

Siapapun menepat-nepati lailatul qadr, hendaklah menepat-nepatinya di malam ke-27.” HR Ahmad.11

DAHSYAT IBADAH DI TUJUH MALAM AKHIR

Rasulullah saw berpetuah:

اطْلُبُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ ، فَإِنْ غُلِبْتُمْ فَلا تُغْلَبُوا عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي.

Burulah lailatul qadr di sepuluh akhir Ramadhan. Jika kalian terkalahkan, maka jangan sampai terkalahkan oleh tujuh hari yang tersisa.” HR Ahmad.12

DAHSYAT IBADAH DI MALAM KE-23

Rasulullah saw bersabda:

تحروا ليلة القدر ليلة ثلاث و عشرين

Tepat-tepatilah lailatul qadr di malam ke-23.” HR Thabarani.13

DAHSYAT IBADAH DI MALAM PENUTUPAN

Rasulullah saw berpesan:

التمسوا ليلة القدر آخر ليلة من رمضان

Burulah lailatul qadr di akhir malam bulan Ramadhan.” HR Ibnu Nashr.14

KONDISI GHAIB LAILATUL QADR

Alloh Swt menegaskan:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ

Para malaikat dan ar-Ruh15 turun pada lailatul qadr dengan izin (perintah16) dari Rabb mereka dengan sebab setiap urusan17.”

Rasulullah saw bersabda:

إِنَّهَا لَيْلَةُ سَابِعَةٍ ، أَوْ تَاسِعَةٍ وَعِشْرِينَ ، إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ تِلْكَ اللَّيْلَةَ فِي الأَرْضِ أَكْثَرُ مِنْ عَدَدِ الْحَصَى.

Sungguh lailatul qadr adalah malam ke-27 atau ke-29. Sungguh para malaikat yang di bumi di malam itu lebih banyak daripada jumlah kerikil.” HR Ahmad.18

BERBURU LAILATUL QADR DENGAN I’TIKAF

اعْتَكَفَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم عَشْرَ الأُوَلِ مِنْ رَمَضَانَ وَاعْتَكَفْنَا مَعَهُ فَأَتَاهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ إِنَّ الَّذِي تَطْلُبُ أَمَامَكَ

Rasulullah saw beri’tikaf di sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, dan kami beri’tikaf bersama beliau, lalu Jibril datang kepada beliau dan berkata, “Sungguh apa yang kau cari (lailatul qadr) ada di depanmu.” HR Bukhari.19

I’tikaf ada 3 macam:

  1. I’tikaf wajib: yaitu i’tikaf nadzar.

  2. I’tikaf sunnah: yaitu i’tikaf di sepuluh hari akhir Ramadhan.

  3. I’tikaf nafilah: yaitu i’tikaf kapan saja dalam waktu seberapa saja.

Sebagian ulama` berpendapat, minimal i’tikaf adalah sehari atau sehari semalam. Namun Imam Nawawi mentarjih bahwa i’tikaf tidak dibatasi waktu minimalnya. Beliau berkata dalam at-Tibyan, “Seyogyanya tiap masuk masjid seseorang langsung meniatkan i’tikaf. Ini merupakan perkara yang perlu disebarluaskan sehingga diketahui semua orang tua maupun muda.” Wallahu A’lam.

Adab i’tikaf yang dilupakan banyak orang:

I’tikaf merupakan ‘uzlah (mengasingkan diri) dari urusan dunia dan ahlinya, untuk berkhalwat dan tawajjuh kepada Alloh Swt dengan ibadah dan tafakkur. Maka sangat tidak pantas seseorang beri’tikaf sementara pikirannya masih tersibukkan dengan urusan dunia, berniaga jarak jauh via SMS, berbincang seputar asbab harta dunia, dsb.

Rasulullah saw saat i’tikaf mengasingkan diri dalam sebuah kemah di dalam masjid; tidak bergaul dengan para shahabat beliau. Hal ini menunjukkan bahwa saat i’tikaf semestinya tidak melakukan mu’amalah dengan makhluk kecuali sebatas keperluan saja. Rasulullah saw mengutamakan khalwat dalam kemah daripada memberi kajian kepada para shahabat di saat i’tikaf. Wallahu A’lam.

LAILATUL QADR DI DEPAN HAJAR ASWAD

Rasulullah saw bersabda:

موقف ساعة في سبيل الله خير من قيام ليلة القدر عند الحجر الأسود

Berdiri sesaat fi sabilillah (jihad) lebih baik daripada qiyamullail pada lailatul qadr di hadapan hajar aswad.” HR Ibnu Hibban dan Baihaqi.20

DAFTAR ISI

  1. MENGAPA DISEBUT LAILATUL QADR

  2. ASAL USUL LAILATUL QADR

  3. FADHILAH LAILATUL QADR

  4. LIMA PULUH PENDAPAT

  5. LETAK & JUMLAH LAILATUL QADR

  6. TEORI IBNU HAZM

  7. MALAM PALING DIHARAPKAN

  8. DAHSYAT IBADAH DI TUJUH MALAM AKHIR

  9. DAHSYAT IBADAH DI MALAM KE-23

  10. DAHSYAT IBADAH DI MALAM PENUTUPAN

  11. KONDISI GHAIB LAILATUL QADR

  12. BERBURU LAILATUL QADR DENGAN I’TIKAF

  • Macam I’tikaf

  • Adab i’tikaf yang dilupakan banyak orang

  1. LAILATUL QADR DI DEPAN HAJAR ASWAD

أموت ويبقى جميع ما قد كتبته * فيا ليت من يقرأ كتابي دعا ليا

لعلّ الله أن يمنّ عليّ بلطفه * ويرحم تقصيري وسوء فعاليا

[ Diterbitkan oleh: Pusat Kajian Hadits HQA (Hamalatul Qur’an wal Atsar) Solo ]

Catatan:

1 1.000 bulan = 83 tahun + 4 bulan.

2 Barakah: Kebaikan melimpah yang datang dari Alloh Swt.

3 Lailatul qadr atau malam nishfu Sya’ban. (Jalalain)

4 Surah ad-Dukhan (44): 4-5.

5 Tafsir al-Jalalain untuk surah al-‘Alaq.

6 Kitab syarah bagi Shahih Bukhari. Imam Syaukani saat ditawari menulis syarah bagi Shahih Bukhari menjawab, “Lâ hijrata ba’dal fathi.” Maksudnya: Tak perlu syarah lagi setelah ada Fathul Bari.

7 Atsar shahih; HR Muslim 2834.

8 Shahih; HR Bukhari 2021 dari hadits Ibnu ‘Abbas ra.

9 Shahih; HR Muslim 2834.

10 Shahih; HR Thabarani dari hadits Mu’awiyah; dinilai shahih oleh al-Albani (Shahihul Jami’ 1240)

11 Shahih; HR Ahmad 6474 dari hadits Ibnu ‘Umar ra; dinilai shahih oleh al-Albani (Shahihul Jami’ 2920).

* NB: Menurut Syu’bah, riwayat yang benar adalah: “Hendaklah menepat-nepatinya di 7 hari terakhir.” Namun Baihaqi berkomentar (4/311): Yang benar adalah riwayatnya al-Jama’ah; bukan riwayat Syu’bah. Wallahu A’lam.

12 Shahih; HR Ahmad 1111 dari hadits ‘Ali ra; dinilai shahih oleh al-Albani (Shahihul Jami’ 1027)

13 Shahih; HR Thabarani dari hadits ‘Abdullah bin Unais ra; dinilai shahih oleh al-Albani (Shahihul Jami’ 2923).

14 Shahih; HR Ibnu Nashr dari hadits Mu’awiyah ra; dinilai shahih oleh al-Albani (Shahihul Jami’ 1238)

15 Ar-Ruh dalam ayat ini terdapat 4 tafsir: 1) Jibril as. 2) Malaikat amat jumbo. 3) Malaikat yang hanya turun pada lailatul qadr. 4) Pendapat ini dipilih oleh Syaikh al-Qasimi dalam Mahasinut Ta`wil: Wahyu Al-Qur’an.

16 Tafsir al-Jalalain.

17 Yaitu urusan yang telah diputuskan oleh Alloh Swt untuk masa setahun. (Tafsir al-Jalalain)

18 Shahih; HR Ahmad 10734 dari hadits Abu Hirr ra; dinilai shahih oleh al-Albani (Shahihul Jami’ 5473).

19 Shahih; HR Bukhari 813 dari hadits Abu Sa’id ra.

20 Shahih; HR Ibnu Hibban dan Baihaqi dalam Syu’abul Iman dari hadits Abu Hirr ra; dinilai shahih oleh al-Albani (Shahihul Jami’ 6636)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here