Home Doa dan Dzikir Doa Kuat Segalanya – Nabi Suruh Kita Pelajari Doa Ini

Doa Kuat Segalanya – Nabi Suruh Kita Pelajari Doa Ini

1543
0
SHARE

Nabi Memerintahkan untuk Mempelajari dan Menguasai Doa Ini

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ، وَأَنْ تَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي، وَإِذَا أَرَدْتَ فِتْنَةَ قَوْمٍ فَتَوَفَّنِي غَيْرَ مَفْتُونٍ، وَأَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ يُحِبُّكَ، وَحُبَّ عَمَلٍ يُقَرِّبُنِي إِلَى

حُبِّك

َ“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk dapat mengerjakan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai keburukan, mencintai orang-orang miskin, dan Engkau ampuni serta rahmati aku; dan apabila Engkau berkehendak untuk memberi fitnah bagi suatu kaum, Engkau matikan aku tanpa terfitnah; aku memohon untuk dapat mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang mendekatkan diriku kepada kecintaan-Mu” (HR. Ahmad dan Tirmidzi, shahih) [1]

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya doa itu haq, maka pelajarilah kemudian kuasailah.”[2].

📝Syarah:
Doa penuh berkah yang ada di hadapanmu, wahai hamba Allah, termasuk doa yang paling luas cakupannya serta paling sempurna, dan memiliki derajat serta kedudukan yang paling mulia. Doa ini mencakup permintaan taufik kepada Allah untuk melaksanakan amal baik yang paling utama. Doa ini juga berisi permintaan penjagaan dari seluruh kemunkaran dan keburukan, fitnah dan ujian dalam masalah agama, kehidupan, maupun dalam hal tempat kembali di akhirat. Maka hendaknya seorang hamba memperbanyak membaca doa ini, memahami maksud dan kandungannya, serta mengamalkan kandungannya. Siapa yang mempelajari serta mengamalkannya, dia akan menggapai kebahagiaan dan kenikmatan di dunia, di alam barzakh, dan di akhirat. Di antara kemuliaan dan tingginya kedudukan doa ini adalah bahwasanya Allah Tabaraka wa Ta’ala memerintahkan kekasih-Nya, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam mimpi, dan mimpi para Nabi itu benar. Allah Ta’ala berkalam kepada beliau,

“Wahai Muhammad, jika engkau sholat maka bacalah:
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu untuk dapat mengerjakan berbagai kebaikan, meninggalkan berbagai keburukan, mencintai orang-orang miskin, dan Engkau ampuni serta rahmati aku; dan apabila Engkau berkehendak untuk memberi fitnah bagi suatu kaum, Engkau matikan aku tanpa terfitnah; aku memohon untuk dapat mencintai-Mu, mencintai orang yang mencintai-Mu, dan mencintai amal yang mendekatkan diriku kepada kecintaan-Mu.”

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda, “Sesungguhnya doa itu haq, maka pelajarilah dan kuasailah.”

Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk mempelajari dan menguasai makna serta kandungan doa tersebut. Hal ini menunjukkan keistimewaan doa ini atas doa-doa lainnya karena keutamaan tersebut sebagaimana telah engkau ketahui.

Sabda beliau, “Ya Allah aku memohon untuk dapat melakukan berbagai kebaikan dan meninggalkan berbagai kemunkaran.”

Doa ini mencakup permintaan untuk dapat melakukan semua kebaikan, meninggalkan semua bentuk keburukan. Yang dimaksud dengan kebaikan: semua hal yang dicintai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala serta mendekatkan kepada-Nya berupa perbuatan maupun perkataan, yang wajib maupun yang mustahab. Adapun yang dimaksud dengan kemunkaran: semua hal yang dibenci oleh Allah Ta’ala serta menjauhkan pelakunya dari Allah, baik berupa perkataan maupun perbuatan. Maka barangsiapa yang memperoleh hal yang diminta ini, dia memperoleh kebaikan dunia dan akhirat. Doa ini juga merupakan bentuk jawami’ul kalim (perkataan singkat yang bermakna luas) yang diberikan kepada Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Beliau menyukai doa-doa yang mencakup permintaan luas semacam ini. Sebagaimana di hadits Aisyah radhiyallahu ‘anhaa bahwa Aisyah berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menyukai doa yang memiliki cakupan luas dan meninggalkan doa yang selainnya.” [3]

Sabda beliau, “dan mencintai orang-orang miskin”; mencintai orang-orang miskin termasuk dalam cakupan melakukan kebaikan. Mencintai orang-orang miskin disebutkan secara khusus, termasuk bentuk kalimat menyertakan yang khusus kepada yang umum karena kemuliaan amalan tersebut dan kuatnya perhatian serta kepedulian terhadap amal tersebut. Sungguh Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam telah meminta kepada Allah agar menjadikan beliau sebagai bagian dari orang-orang miskin, membangkitkan beliau serta mematikan beliau bersama orang-orang miskin: “Ya Allah hidupkan aku dalam keadaan miskin, matikan aku dalam keadaan miskin, serta bangkitkanlah aku dalam kumpulan orang-orang miskin.” [4]

Cinta kepada orang-orang miskin merupakan pokok kecintaan karena Allah Ta’ala. Demikian karena orang-orang miskin tidak memiliki kekayaan dunia yang dapat menyebabkan mereka dicintai karena dunia tersebut. Maka tidaklah mencintai orang-orang miskin kecuali karena Allah ‘Azza wa Jalla. Cinta karena Allah merupakan suatu manifestasi keimanan yang paling meyakinkan. Itu juga merupakan iman yang paling utama. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang mencintai karena Allah, membenci karena Allah, memberi karena Allah, dan menahan karena Allah, sungguh imannya telah sempurna [5]. Pelakunya pun akan merasakan manisnya iman.
Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Tiga hal yang jika ada pada diri seseorang, dia akan mendapatkan manisnya iman: bahwasanya Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya, dan dia mencintai seseorang, tidaklah mencintainya kecuali karena Allah, dan dia membenci untuk kembali kepada kekafiran sebagaimana dia benci dimasukkan ke dalam neraka.” [6]

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga berwasiat kepada ibu kita, Ummul Mu’minin yang shiddiqah, putri Ash-Shiddiq, yaitu Aisyah radhiyallahu ‘anhuma, beliau berkata kepada ibunda Aisyah, “Wahai Aisyah, cintailah orang-orang miskin dan dekatlah dengan mereka niscaya Allah akan dekat denganmu di hari kiamat.” [7]

Sabda beliau, “dan Engkau ampuni serta rahmati aku”; orang yang berdoa meminta ampunan dan rahmat karena keduanya mencakup seluruh kebaikan akhirat. Dengan ampunan, seorang hamba terjaga dari adzab dan seluruh keburukan. Adapun yang dimaksud dengan rahmat adalah masuk surga dan tingginya derajat surga. Apapun yang ada di surga berupa kenikmatan untuk para makhluk merupakan bagian dari rahmat Allah Ta’ala.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla berkalam kepada surga, ‘Kau adalah rahmat-Ku. Aku merahmati hamba-Ku yang Ku-kehendaki denganmu [8]’” Bahwa Engkau menutupi dosaku serta menghapusnya, dan Engkau merahmatiku dengan nikmat-Mu yang terus menerus Engkau curahkan bagiku di dunia dan di akhirat, dan Engkau memberiku taufik untuk bertaubat serta Kau terima taubatku.

Sabda beliau, “dan jika Engkau menghendaki fitnah bagi hamba-Mu, maka matikanlah aku dalam keadaan terhindar dari fitnah”: dan jika Engkau menghendaki fitnah bagi suatu kaum dan hukuman dalam masalah agama atau hukuman dalam masalah dunia berupa musibah, kemalangan, atau siksaan, maka matikanlah aku sebelum terjadinya hukuman tersebut. Sebelum manusia terkena fitnah tersebut.

Sesungguhnya tujuan dari doa yang agung ini adalah memohon keselamatan dari fitnah di sepanjang hidup, keselamatan dari seluruh keburukan sebelum keburukan tersebut berlangsung atau terjadi. Supaya Allah Ta’ala mematikannya dalam keadaan selamat sentosa sebelum terjadinya fitnah.

Tidak diragukan lagi bahwa doa ini termasuk doa yang paling penting karena termasuk nikmat yang paling agung, bahwasanya seorang mukmin hidup dalam keadaan selamat dari fitnah serta kemalangan. Kemudian Allah Ta’ala mencabut nyawanya sebelum hal-hal buruk tersebut terjadi. Oleh karena itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan sahabat beliau agar “meminta perlindungan kepada Allah dari fitnah yang dhohir maupun yang batin.” [9

Dalam hadits di atas terkandung pelajaran bahwa boleh berdoa meminta kematian karena takut terkena fitnah dalam masalah agama.

Sebagaimana telah diriwayatkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Dua hal yang dibenci oleh anak Adam: kematian. Padahal kematian lebih baik bagi seorang mukmin daripada terkena fitnah. Dia juga membenci sedikitnya harta padahal sedikitnya harta berarti lebih sedikit hisabnya.”[10

Sabda beliau, “dan aku memohon untuk dapat mencintai-Mu” kemudian masuklah kepada meminta hal yang paling agung, tingkatan yang tertinggi, idaman yang paling puncak, maka beliau bersabda, “dan aku memohon untuk dapat mencintai-Mu,” maksudnya: aku memohon cinta-Mu kepadaku. Ini merupakan target yang paling agung, yaitu seorang hamba dicintai oleh Allah Azza wa Jalla.

Doa ini juga mencakup permintaan agar dapat mencintai Allah Ta’ala. Permintaan seorang hamba untuk mencintai Rabb-Nya yang Maha Tinggi. Jadi maksudnya: dan aku meminta agar aku mencintai-Mu, maka tidak ada sesuatupun yang lebih kucintai daripada Engkau.

Permintaan yang agung ini menunjukkan salah satu doa yang paling agung karena mencakup jawami’ul kalim (perkataan singkat yang bermakna luas). Karena hal itu mencakup seluruh kebaikan. Karena apabila kecintaan kepada Allah Ta’ala tertancap kokoh di hati seorang hamba, maka cinta tersebut akan menggerakkan anggota badan. Maka bergantung pada apa yang dicintai dan diridhai oleh Allah Ta’ala, dia pun mencintai apa yang dicintai oleh Allah Ta’ala baik berupa seluruh amal maupun perkataan. Dengan demikian dia akan melakukan seluruh kebaikan dan meninggalkan seluruh kemunkaran. Hal ini merupakan kesempurnaan penghambaan kepada Allah Ta’ala, Rabb seluruh alam. Barangsiapa yang mencari kecintaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka selanjutnya Allah Ta’ala akan memberikan perbendaharaan dunia lebih dari yang dia inginkan.

Oleh karena itu siapa yang dikaruniai kecintaan ini, dia akan menyesuaikan seluruh amal, perkataan, dan perbuatannya dengan apa yang diridhai oleh Allah Ta’ala. Maka dia mencapatkan kecintaan serta diterimanya amal di dunia dan di langit, sebagaimana tercantum di hadits shahih. [11]

Sabda beliau, “dan kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu”, maksudnya dan aku meminta kecintaan kepada orang yang mencintai-Mu dari kalangan para nabi, para ulama, dan orang-orang shalih.

Sabda beliau, “dan kecintaan kepada amalan yang mendekatkan diriku kepada cinta-Mu,” maksudnya dan aku memohon kepada-Mu agar memberiku taufik bagiku untuk mencintai amal sholih yang dapat mendekatkanku kepada cinta-Mu. Maka siapa yang dikaruniai kecintaan kepada amal tersebut, dia beruntung di dunia dan di akhirat.

Saat meminta kecintaan terhadap amal ini, di mana termasuk di dalam cakupan permintaan “melakukan berbagai kebaikan”, merupakan bentuk menggandengkan permintaan khusus kepada permintaan yang umum. Dilakukan demikian karena kemuliaan dan besarnya perhatian terhadap permintaan yang penting berupa kecintaan.

Kecintaan terhadap amalan yang mendekatkan kepada kecintaan Allah merupakan pokok dari seluruh perbuatan baik. Seluruh perbuatan baik berkumpul dan bermuara padanya.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk memahaminya dan mengamalkan isi doa tersebut. Beliau memerintahkan demikian karena agungnya doa tersebut dan karena doa tersebut mencakup berbagai hal yang dicari serta tujuan-tujuan yang agung di dunia dan di akhirat. Maka hendaknya diperhatikan dengan memahami lafadznya, menghadirkan maknanya ketika berdoa. Yang demikian itu lebih diharapkan untuk terkabulnya doa, lebih membekas di dalam jiwa, dan lebih menghadirkan manisnya iman, serta kelezatan bermunajat kepada Allah Tabaaraka wa Ta’ala.

[1] 1Dikeluarkan oleh Imam Ahmad dengan lafadznya 36/432 no. 22109; Tirmidzi dalam Kitab Tafsir Al-Quran bab Dari Surat Shod no. 3235 binahwihi dan dia menghasankannya. Tirmidzi berkata: Aku bertanya kepada Muhammad bin Ismail – yaitu Imam Bukhari – maka beliau menjawab: Ini hadits hasan shahih. Di akhir hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya doa itu haq, maka pelajarilah dan kuasailah”; dan Al-Muwaththa’ no. 736; Al-Hakim 1/521, Al Bazzar 2/121; Syeikh Al-Albani menshahihkannya di kitab Shahih Tirmidzi 3/318.

[2] 2Ini adalah tambahan dari Ahmad dan Tirmidzi sebagaimana di takhrij sebelumnya. Syeikh Al-Albani menshahihkan di kitab Shahih Tirmidzi, no. 2582.

[3] 3Abu Dawud, kitab Al-Witr, bab Do’a no. 1482, Ath-Thayalisi 2/444, Ibnu Abi Syaibah 6/21. Syeikh Al-Albani menshahihkan dalam kitab Sunan Abu Dawud 1/278.

[4] 4Tirmidzi, Kitab Zuhud, bab apa yang menunjukkan bahwa orang-orang fakir muhajirin masuk surga sebelum orang-orang kaya di antara mereka, nomor 2352; Ibnu Majah, Kitab Zuhud, bab majelis-majelis orang-orang fakir, nomor 4126; Hakim 4/322; dan di Sunanul Kubra Baihaqi 7, 12; hadits dihasankan oleh Syeikh Al-Albani dalam Al-Silsilah Ash-Shahihah no. 308; dan di Shahih Sunan Ibnu Majah no. 3328.

[5] 5Abu Dawud, kitab As-Sunnah, bab dalil atas bertambahnya iman no. 4683, Tirmidzi kitab Shifatul Qiyamah wa Ar-Raqaiq bab mengabari kami Abu Hafsh no. 2521 binahwihi; Musnad Ahmad 24/383, Mushannaf Abdur Razzaq 3/197; Ibnu Abi Syaibah 11/47; Abu Ya’la 3/60; Ath-Thabarani dalam Al-Kabir 8/134; hadits dihasankan oleh Syeikh Al-Albani dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah 1/657 no. 380 dan Shahih Al-Jami’ no. 5965.

[6] 6Bukhari, Kitab Al-Iman bab manisnya iman no. 16; Muslim, dan lafadz baginya Kitab Al-Iman bab penjelasan keadaan orang yang mendapatkan manisnya iman no. 43.

[7] 7Tirmidzi, Kitab Zuhud bab apa yang menjelaskan bahwa orang-orang fakir muhajirin masuk surga lebih dahulu dari orang-orang kaya mereka no. 2352; Baihaqi dalam As-Sunan Al-Kubra 7/12 dan Syu’batul Iman 3/50; hadits dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih Tirmidzi no. 3252.

[8] 8Bukhari, Kitab At-Tafsir bab kalam Allah Ta’ala: dan neraka berkata apakah ada tambahan no. 4850; Muslim, Kitab Al-Jannah dan Sifat Kenikmatannya dan Penghuninya, bab neraka dimasuki oleh orang-orang yang tiran dan surga dimasuki oleh orang-orang lemah no. 2846.

[9] 9Muslim, Kitab Surga dan Sifat Kenikmatannya dan Penghuninya bab penampakan tempat orang yang mati berupa surga atau neraka, penegasan tentang adanya adzab kubur serta memohon perlindungan darinya, no. 2867.

[10] 10Ahmad 36/39 no. 23625, Abu Na’im dalam Ma’rifatish-Shahabah 5/2525 no. 6114; hadits dishahihkan oleh Syeikh Al-Albani dalam Shahih At-Targhib wat Tarhib 1/129, dan Shahih Al-Jami’ no. 139.

[11]11Bukhari, Kitab Awal Turunnya Wahyu bab penyebutan malaikat no. 3209; Muslim Kitab Kebaikan, Menyambung, dan Adab bab jika Allah mencintai seseorang, Dia menjadikan orang tersebut dicintai hamba-hamba-Nya no. 2637.

Sumber : www.kalemtayeb.com/index.php/kalem/safahat/item/3117

🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿
Dapatkan Broadcast “Syarah Doa dan Dzikir.”
Untuk berlangganan ketik:
📝 daftar_nama_ikhwan/akhwat_kota

Kirim ke:
089671933394 (ikhwan) atau 082138101100 (akhwat) via WhatsApp

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*