Home Doa dan Dzikir Dzikir-dzikir Setelah Salam (4)

Dzikir-dzikir Setelah Salam (4)

439
0
SHARE

🌾 Syarah Do’a dan Dzikir

Dzikir-dzikir Setelah Salam (4)

سُبْحَانَ اللَّهِ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ (33×) لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ، وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

“Maha Suci Allah, dan segala puji bagi-Nya, dan Allah Maha Besar (tiga puluh tiga kali); tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Allah yang Esa, tiada sekutu bagi-Nya. Dia pemilik kerajaan dan baginya segala puji; dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Muslim 1/418 no. 597. 

Barangsiapa yang membacanya setelah setiap shalat, diampuni dosa-dosanya, meskipun sebanyak buih di lautan).

📝 Pembawa hadits adalah Abu Hurairah radhiyallahu’anhu.

Dalam sebuah hadits diriwayatkan, “Itulah sembilan puluh sembilan (kalimat thayyibah), dan disempurnakan dengan yang keseratus: Laa ilaaha illallah…”

KEUTAMAAN DZIKIR INI

Diriwayatkan dari Abu Hurrairah radhiyallahu’anhu tentang keutamaan dan tata cara dzikir ini:

bahwasanya para sahabat muhajirin yang fakir di Madinah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. 

Lalu mereka berkata, “Orang-orang kaya pergi dengan derajat yang tinggi, dan kenikmatan yang kekal. Mereka shalat sebagaimana kami shalat. Mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa; dan mereka memiliki kelebihan berupa harta yang mereka gunakan untuk berhaji, berumrah, berjihad, dan bersedekah?”

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Maukah kalian kuberitahu sesuatu yang dapat kalian lakukan untuk mencapai kedudukan orang-orang yang mendahului kalian, dan kalian lakukan untuk mendahului orang-orang setelah kalian? Dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian, kecuali orang yang melakukannya semisal praktik kalian.”

Mereka menjawab, “Tentu wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir tiap setelah shalat sebanyak 33 kali.”

Abu Shalih berkata, “Nabi bersabda subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar, sehingga masing-masing tiga puluh tiga kali.” (HR. Bukhari no. 843 dan Muslim no. 595).

Kalimat, “ad-dutsur” adalah jamak dari dutsr, yang artinya harta yang banyak. Lafadz tersebut bisa digunakan untuk kata jumlah tunggal, dobel, dan jamak.

Kalimat, “dengan derajat yang tinggi” maksudnya: mereka memperoleh derajat yang tinggi, nikmat yang kekal, yaitu surga. Dengan sebab haji, umrah, jihad, dan sedekah mereka. Itu semua karena mereka memiliki kelebihan dunia. Adapun kami tidak memiliki bagian dunia. Maka bagaimana kami bisa beramalmenyaingi mereka?” 

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada mereka, “Maukah kalian kuberitahu…” dst. Maksudnya: Jika kalian mengucapkan bacaan ini kalian akan mencapai kedudukan mereka. Kalian seperti mereka, mendapatkan posisi  mereka. Dan kalian unggul dari orang-orang setelah kalian.

Kalimat, “sebagaimana kami shalat”, maksudnya: sebagaimana shalat kami, dengan syarat bersama jamaah. Maknanya: mereka mengerjakan shalat dan puasa bersama kami. Namun mereka unggul dari kami dengan hartanya, dimana mereka berhaji, umrah, berjihad, dan bersedekah dengan kelebihan harta mereka.

Kalimat, “maukah kalian kuberitahu”; lafadz ‘maukah’ untuk membangkitkan keingintahuan orang yang diajak bicara terhadap informasi penting yang akan disampaikan.

Kalimat, “kalian akan mencapai” dengan amal tersebut, dan dengan menempuh cara-caranya.

Kalimat, “orang-orang sebelum kalian” maksudnya kalian mendahului dalam artian lebih unggul dari orang yang tidak menjalankan amalan ini.

Kalimat, “tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kalian,” menunjukkan penegasan atas keunggulan dzikir ini dari amal lainnya.

Kalimat, “Abu Shalih berkata” yakni ketika Abu Shalih Dzakwan As-Siman ditanya oleh Az-Zayyat Ar-Rawi, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu tentang tata cara dzikir tersebut; beliau menjawab: Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar, sampai masing-masing dibaca 33 kali.

Dengan demikian, penyebutan kalimat tersebut sebanyak 33 kali; yakni dengan membaca: “Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar”. Ini dihitung satu kali. Maka dibaca demikian berulang hingga 33 kali.

Disebutkan pula di hadits Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dari jalur lain selain dari jalur Abu Shalih: bertasbih 33 kali -secara terpisah-, lalu bertakbir 33 kali -secara terpisah-, dan bertahmid 33 kali -secara terpisah- sehingga semuanya dibaca 99 kali. Dengan demikian, hadits Abu Shalih dipahami dengan pengertian ini. Oleh karena itu Al-Qadhi ‘Iyadh rahimahullah berkata, “Pengertian ini lebih baik dari pemahaman Abu Shalih.”

Adapula riwayat yang menyebutkan, “Kalian bertasbih setelah shalat sebanyak sepuluh kali, bertahmid sepuluh kali, dan bertakbir sepuluh kali.” (HR. Bukhari no. 6329). Adanya hadits ini bukan berarti mengesampingkan hadits-hadits lain yang banyak.

Di riwayat lain disebutkan bahwa kalimat yang menyempurnakan menjadi seratus ialah, “Laa ilaaha illallaah, wahdahu laa syariikalah lahul mulku walahul hamdu wahuwa ‘ala kulli syai-in qodiir (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah, bagi-Nya kerajaan dan segala puji, dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (HR. Muslim no. 597).

Dan di riwayat lain: bahwasanya takbir dibaca sebanyak 34 kali. (HR. Muslim no. 596).

Semua riwayat tersebut shahih dan harus kita terima. Oleh karena itu sebaiknya kita menggabungkan berbagai riwayat tersebut untuk beramal. Maka kita sesekali mengamalkan hadits yang satu, lalu sesekali hadits lainnya, dan seterusnya.

ENAM CARA TASBIH, TAHMID, DAN TAKBIR SETELAH SHALAT

Pentashhih syarah ini berkata, “Tasbih, tahmid, dan takir setelah shalat ada enam macam yang susunannya sebagai berikut.”

Susunan pertama: Subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar (33 kali). Lalu ditutup dengan Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalah, lahulmulku walahul hamdu wahuwa ‘alaa kulli syai-in qadiir. (HR. Muslim no. 597).

Susunan kedua: subhanallah (33 kali), alhamdulillah (33 kali), Allahu akbar (34 kali). (HR. Muslim no. 596).

Susunan ketiga: subhanallah, walhamdulillah, wallahu akbar (33 kali). (HR. Bukhari no. 843, HR. Muslim no. 595).

Susunan keempat: subhanallah (10 kali), alhamdulillah (10 kali), Allahu akbar (10 kali). (HR. Bukhari no. 6329).

Susunan kelima: subhanallah (11 kali), alhamdulillah (11 kali), Allahu akbar (11 kali). (HR. Muslim no. 595-34).

Susunan keenam: subhanallah, walhamdulillah, walaa ilaaha illallah, wallahu akbar (25 kali). (HR. An-Nasa-i no. 1350 dan 1351, HR. Tirmidzi no. 3413, dishahihkan oleh Al-Albani dalam Shahih An-Nasa-i 1/191).

Yang paling utama adalah membaca satu susunan dzikir sesekali, susunan dzikir yang lain sesekali, sehingga dzikir yang dibaca bermacam-macam. 

MENGHITUNG BILANGAN DZIKIR DENGAN TANGAN KANAN

Telah diriwayatkan dari Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhuma bahwa dia berkata, “Sungguh aku telah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengumpulkan (menghitung) dzikir dengan tangan beliau.” Dan di riwayat yang lain: beliau mengumpulkan (menghitung) tasbih dengan tangan kanan beliau.

Inilah tata cara bertasbih, yaitu (menghitung) hanya dengan tangan kanan dengan cara mengumpulkan, maksudnya mempertemukan jemari dengan bagian dalam telapak tangan.

〰〰〰〰〰〰〰〰

📜 Syarah doa diambil dari Kitab Syarhu Hisnul Muslim karangan Majdi bin Abd Wahhab.

📲 Daftarkan diri untuk menerima broadcast *Syarah Doa dan Dzikir*

📋 Ketik: Daftar_nama_kota_ikhwan/akhwat

📋 Untuk berhenti berlangganan, ketik:

Stop_hisnulmuslim

📲 Kirim ke 089671933394 (ikhwan) atau 082138101100 (akhwat) via WhatsApp. 

⚠ Simpan salah satu nomor di atas agar broadcast dapat masuk di nomor Anda.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here