Home Hadits Fadhilah Kaya

Fadhilah Kaya

213
0
SHARE
  1. DEFINISI KAYA & FAKIR

عَنْ أَبِي ذَرٍّ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : يَا أَبَا ذَرٍّ ، أَتَرَى كَثْرَةَ الْمَالِ هُوَ الْغِنَى ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ ، قَالَ : فَتَرَى قِلَّةَ الْمَالِ هُوَ الْفَقْرُ ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ ، قَالَ : إِنَّمَا الْغِنَى غِنَى الْقَلْبِ وَالْفَقْرُ فَقْرُ الْقَلْبِ

Abu Dzarr berkata: Rasulullah saw bersabda, “Wahai Abu Dzarr, apakah Anda mengira banyak harta itu kaya?” Kujawab: Ya, wahai Rasulullah. Beliau bertanya lagi, “Lalu Anda mengira sedikit harta adalah fakir?” Kujawab: Ya, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: “Tiada lain kaya adalah kaya hati, dan fakir adalah fakir hati.”

ثُمَّ سَأَلَنِي عَنْ رَجُلٍ مِنْ قُرَيْشٍ ، فَقَالَ : هَلْ تَعْرِفُ فُلاَنًا ؟ قُلْتُ : نَعَمْ يَا رَسُولَ اللهِ ، قَالَ : فَكَيْفَ تَرَاهُ أَوْ تَرَاهُ ؟ قُلْتُ : إِذَا سَأَلَ أُعْطِيَ ، وَإِذَا حَضَرَ أُدْخِلَ ،

Kemudian beliau bertanya kepadaku tentang seorang lelaki dari Quraisy, “Apakah kau kenal si fulan?” Kujawab: Ya wahai Rasulullah. Beliau bertanya, “Bagaimana kau lihat dia?” Kujawab: Jika dia meminta pasti diberi, jika hadir pasti dipersilakan masuk.

ثُمَّ سَأَلَنِي عَنْ رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ ، فَقَالَ : هَلْ تَعْرِفُ فُلاَنًا ؟ قُلْتُ : لاَ وَاللَّهِ ، مَا أَعْرِفُهُ يَا رَسُولَ اللهِ ، قَالَ : فَمَا زَالَ يُحَلِّيهُ ، وَيَنْعَتُهُ حَتَّى عَرَفْتُهُ ، فَقُلْتُ : قَدْ عَرَفْتُهُ يَا رَسُولَ اللهِ ، قَالَ : فَكَيْفَ تَرَاهُ أَوْ تَرَاهُ ؟ قُلْتُ : رَجُلٌ مِسْكِينٌ مِنْ أَهْلِ الصُّفَّةِ ، فَقَالَ : هُوَ خَيْرٌ مِنْ طِلاَعِ الأَرْضِ مِنْ الآخَرِ

Kemudian beliau bertanya kepadaku tentang seorang lelaki dari ahli suffah, “Apakah kau kenal si fulan?” Kujawab: Tidak demi Alloh aku tidak mengenalnya wahai Rasulullah?” Belia menyebutkan ciri-cirinya hingga aku mengenalnya maka aku pun berkata, “Aku mengenalnya wahai Rasulullah.” Beliau bertanya, “Bagaimana menurutmu?” Kujawab: Dia orang miskin dari ahli shuffah. Beliau bersabda, “Dia lebih baik daripada orang sepenuh bumi seperti yang pertama tadi”. HR Nasa`i dalam Sunanul Kubra 11785, shahih.

 

  1. FADHILAH KAYA YANG FAQIH (FAHAM ILMU AGAMA)

أَبُو كَبْشَةَ الْأَنَّمَارِيُّ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ إِنَّمَا الدُّنْيَا لِأَرْبَعَةِ نَفَرٍ:

Abu Kabsyah Al Anmari ia mendengar Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Aku akan mengatakan suatu hal pada kalian, hendaklah kalian menghafalnya: Sesungguhnya dunia itu untuk 4 orang:

عَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَعِلْمًا فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَيَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ.

Pertama, seorang hamba yang dikarunia Allâh harta dan ilmu, dengan ilmu ia bertakwa kepada Allâh dan dengan harta ia menyambung silaturrahim dan ia mengetahui Allâh memiliki hak padanya dan ini adalah tingkatan yang paling baik,

وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالًا فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ يَقُولُ:” لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ.

Kedua, selanjutnya hamba yang diberi Allâh ilmu tapi tidak diberi harta, niatnya tulus, ia berkata: Andai saja aku memiliki harta niscaya aku akan melakukan seperti amalan si fulan, maka ia mendapatkan apa yang ia niatkan, pahala mereka berdua sama,

وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللَّهُ مَالًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا فَهُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ لَا يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ وَلَا يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ وَلَا يَعْلَمُ لِلَّهِ فِيهِ حَقًّا فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ

Ketiga, selanjutnya hamba yang diberi harta oleh Allâh tapi tidak diberi ilmu, ia melangkah serampangan tanpa ilmu menggunakan hartanya, ia tidak takut kepada Rabbinya dengan harta itu dan tidak menyambung silaturrahimnya serta tidak mengetahui hak Allâh padanya, ini adalah tingkatan terburuk,

وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللَّهُ مَالًا وَلَا عِلْمًا فَهُوَ يَقُولُ لَوْ أَنَّ لِي مَالًا لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلَانٍ فَهُوَ بِنِيَّتِهِ فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ

Keempat: seorang yang tidak diberi Allâh harta atau pun ilmu, ia bekata: Andai aku punya harta tentu aku akan melakukan seperti yang dilakukan si fulan yang serampangan mengelola hartanya. Maka orang ini dengan niatnya itu, dosa keduanya adalah sama.” HR Tarmidzi 2247, shahih.

 

 

 

  1. FADHILAH KAYA YANG SHALIH

عَمْرَو بْنَ الْعَاصِ يَقُولُ بَعَثَ إِلَيَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ خُذْ عَلَيْكَ ثِيَابَكَ وَسِلَاحَكَ ثُمَّ ائْتِنِي فَأَتَيْتُهُ وَهُوَ يَتَوَضَّأُ فَصَعَّدَ فِيَّ النَّظَرَ ثُمَّ طَأْطَأَهُ فَقَالَ إِنِّي أُرِيدُ أَنْ أَبْعَثَكَ عَلَى جَيْشٍ فَيُسَلِّمَكَ اللَّهُ وَيُغْنِمَكَ وَأَرْغَبُ لَكَ مِنْ الْمَالِ رَغْبَةً صَالِحَةً قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا أَسْلَمْتُ مِنْ أَجْلِ الْمَالِ وَلَكِنِّي أَسْلَمْتُ رَغْبَةً فِي الْإِسْلَامِ وَأَنْ أَكُونَ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا عَمْرُو نِعْمَ الْمَالُ الصَّالِحُ لِلْمَرْءِ الصَّالِحِ

‘Amru bin ‘Ash berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus seseorang kepadaku agar mengatakan, “Bawalah pakaian dan senjatamu, kemudian temuilah aku.” Maka aku pun datang menemui beliau, sementara beliau sedang berwudlu. Beliau kemudian memandangiku dengan serius dan mengangguk-anggukkan (kepalanya). Beliau lalu bersabda: “Aku ingin mengutusmu berperang bersama sepasukan prajurit. Semoga Allâh menyelamatkanmu, memberikan ghanimah dan aku berharap engkau mendapat harta yang baik.” Saya berkata, “Wahai Rasulullah, saya tidaklah memeluk Islam lantaran ingin mendapatkan harta, akan tetapi saya memeluk Islam karena kecintaanku terhadap Islam dan berharap bisa bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Maka beliau bersabda: “Wahai Amru, sebaik-baik harta yang shalih adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang shalih.” HR Ahmad 17096, shahih.

 

 

  1. PAHALA KAYA YANG MENDANAI KERJA-KERJA DAKWAH

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِلْغَازِي أَجْرُهُ وَلِلْجَاعِلِ أَجْرُهُ وَأَجْرُ الْغَازِي

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang berperang baginya pahalanya, dan orang yang memberikan persiapan[1] baginya pahalanya serta pahala orang yang berperang.” HR Abu Dawud 2164, shahih.

 

 

  1. FADHILAH KAYA YANG AHLI IBADAH & SEDEKAH

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ وَهَذَا حَدِيثُ قُتَيْبَةَ أَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِينَ أَتَوْا رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُورِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ

قَالُوا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّي وَيَصُومُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلَا نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلَا نُعْتِقُ

Dari Abu Hurairah -dan ini adalah hadis Qutaibah- Bahwa orang-orang fakir Muhajirin menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sambil berkata; “Orang-orang kaya telah memborong derajat-derajat ketinggian dan kenikmatan yang abadi.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya: “Maksud kalian?” Mereka menjawab: “Orang-orang kaya shalat sebagaimana kami shalat, dan mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa, namun mereka bersedekah dan kami tidak bisa melakukannya, mereka bisa membebaskan tawanan dan kami tidak bisa melakukannya.”

فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلَا أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُونَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلَا يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلَّا مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُسَبِّحُونَ وَتُكَبِّرُونَ وَتَحْمَدُونَ دُبُرَ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ مَرَّةً قَالَ أَبُو صَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِينَ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ الْأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُ

Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang karenanya kalian bisa menyusul orang-orang yang mendahului kebaikan kalian, dan kalian bisa mendahului kebaikan orang-orang sesudah kalian, dan tak seorang pun lebih utama daripada kalian selain yang berbuat seperti yang kalian lakukan?” Mereka menjawab; “Baiklah wahai Rasulullah?” Beliau bersabda: “Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap habis shalat sebanyak tiga puluh tiga kali.” Abu shalih berkata; “Tidak lama kemudian para fuqara’ Muhajirin kembali ke Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata; “Ternyata teman-teman kami yang banyak harta telah mendengar yang kami kerjakan, lalu mereka mengerjakan seperti itu!” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Itu adalah keutamaan Allâh yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya!” HR Muslim 936.

 

 

  1. FADHILAH KAYA PENYANTUN KAUM MISKIN

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ مَنَحَ مَنِيحَةً غَدَتْ بِصَدَقَةٍ وَرَاحَتْ بِصَدَقَةٍ صَبُوحِهَا وَغَبُوقِهَا

Dari Abu Hurairah bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Siapa yang meminjamkan hewan ternak untuk diperah susunya pagi & sore, maka ia telah bersedekah pagi & sore harinya.” HR Muslim 1694.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّاعِي عَلَى الْأَرْمَلَةِ وَالْمِسْكِينِ كَالْمُجَاهِدِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَوْ الْقَائِمِ اللَّيْلَ الصَّائِمِ النَّهَارَ

Dari Abu Hurairah ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Orang yang memberi kecukupan kepada janda dan orang miskin, maka ia seperti halnya seorang mujahid di jalan Allâh atau seorang yang berdiri menunaikan qiyamullail dan berpuasa di siang harinya.” HR Bukhari 4934.

 

 

  1. FADHILAH KAYA YANG SUKA MEMINJAMI ORANG FAKIR

عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ السَّلَفَ يَجْرِي مَجْرَى شَطْرِ الصَّدَقَة

Dari Ibnu Mas’ud[2] ra; Sesungguhnya Rosulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: sesungguhnya pinjaman uang itu berlaku seperti separuh sedekah. HR Ahmad 3716, shahih.

 

 

  1. FADHILAH KAYA YANG MEMBANTU ORANG BERHUTANG

عَنْ سُلَيْمَانَ بْنِ بُرَيْدَةَ عَنْ أَبِيهِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ قَالَ ثُمَّ سَمِعْتُهُ يَقُولُ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ

Dari Sulaiman bin Buraidah dari ayahnya berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa memberi penangguhan pada orang yang kesusahan maka setiap hari dinilai sedekah senilai uang yang dipinjamkan.” Berkata Buraidah: Kemudian aku mendengar beliau bersabda: “Barangsiapa memberi penangguhan kepada orang yang kesusahan membayar hutang, maka tiap hari terhitung baginya sedekah 2 kali lipat dari uang pinjamannya.”

قُلْتُ سَمِعْتُكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ تَقُولُ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلِهِ صَدَقَةٌ ثُمَّ سَمِعْتُكَ تَقُولُ مَنْ أَنْظَرَ مُعْسِرًا فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ قَالَ لَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ صَدَقَةٌ قَبْلَ أَنْ يَحِلَّ الدَّيْنُ فَإِذَا حَلَّ الدَّيْنُ فَأَنْظَرَهُ فَلَهُ بِكُلِّ يَوْمٍ مِثْلَيْهِ صَدَقَةٌ

اعمال الدليلين اولى من اهمال احدهما

Aku berkata: AKu mendengar baginda bersabda: “Barangsiapa yang memberi penangguhan kepada orang yang kesusahan membayar hutang, terhitung baginya sedekah setiap harinya senilai uang yang dipinjamkan.” Kemudian aku mendengar baginda bersabda: “Barangsiapa yang memberi penangguhan pada orang yang kesusahan membayar hutang, maka tiap hari terhitung baginya sedekah 2 kali lipat dari uang pinjamannya.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ia dihitung sedekah setiap hari senilai uang pinjaman, pada waktu sebelum (pembayaran) tiba, dan setelah watunya (pembayaran hutang) tiba, maka dihitung sedekah 2 kali lipat dari uang tersebut setiap harinya.” HR Ahmad 21968, shahih.[3]

الى الرسغ – مع الأصابع

 

  1. NASIB KAYA YANG TIDAK BANYAK SEDEKAH

عَنْ أَبِي ذَرٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ خَرَجْتُ لَيْلَةً مِنْ اللَّيَالِي فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمْشِي وَحْدَهُ وَلَيْسَ مَعَهُ إِنْسَانٌ قَالَ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَكْرَهُ أَنْ يَمْشِيَ مَعَهُ أَحَدٌ. قَالَ: فَجَعَلْتُ أَمْشِي فِي ظِلِّ الْقَمَرِ فَالْتَفَتَ فَرَآنِي فَقَالَ: مَنْ هَذَا. قُلْتُ: أَبُو ذَرٍّ جَعَلَنِي اللَّهُ فِدَاءَكَ! قَالَ: يَا أَبَا ذَرٍّ تَعَالَهْ قَالَ: فَمَشَيْتُ مَعَهُ سَاعَةً فَقَالَ:

Dari Abu Dzar radliallahu ‘anhu dia berkata; “Pada suatu malam, aku pernah keluar rumah, tiba-tiba aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan sendirian tanpa ditemani oleh seorang pun, aku menyangka mungkin beliau ingin berjalan tanpa ditemani oleh orang lain, maka aku pun berjalan di bawah bayangan rembulan, ternyata beliau menoleh dan melihatku, beliau bersabda: ‘Siapakah ini? ‘ Aku menjawab; ‘Saya…Abu Dzar. Demi Allâh yang menjadikanku sebagai tebusanmu.’ Beliau bersabda: ‘Wahai Abu Dzar, kemarilah.’ Abu Dzar melanjutkan; ‘Lalu aku berjalan bersama beliau beberapa saat, lantas beliau bersabda:

إِنَّ الْمُكْثِرِينَ هُمْ الْمُقِلُّونَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِلَّا مَنْ أَعْطَاهُ اللَّهُ خَيْرًا فَنَفَحَ فِيهِ يَمِينَهُ وَشِمَالَهُ وَبَيْنَ يَدَيْهِ وَوَرَاءَهُ وَعَمِلَ فِيهِ خَيْراً

‘Sungguh orang-orang yang berbanyak-banyak (mengumpulkan harta) akan menjadi sedikit (melarat) pada hari kiamat, kecuali orang yang diberi kebaikan/harta oleh Allâh lalu dia meniup ke kanan, kiri, depan dan belakangnya[4], dan dia mengerjakan kebaikan dalam harta tersebut.’ HR Ahmad 5962, shahih.

 

  1. FADHILAH KAYA YANG AHLI HAJJI (DENGAN IKHLASH)

أَبو هُرَيْرَةَ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَفْدُ اللَّهِ ثَلَاثَةٌ الْغَازِي وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ

Abu Hurairah berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tamu Allâh itu ada tiga, yaitu: orang yang berperang, orang yang melakukan haji dan orang yang melakukan umrah.” HR Nasa`i 2578, shahih.

عَنِ ابْنِ عُمَرَ، قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: ” مَا يَرْفَعُ إِبِلُ الْحَاجِّ رِجْلًا وَلَا يَضَعُ يَدًا إِلَّا كَتَبَ اللهُ لَهُ بِهَا حَسَنَةً، أَوْ مَحَى عَنْهُ سَيِّئَةً، أَوْ رَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً

Dari Ibnu ‘Umar, dia mendengar Nabi saw bersabda, “Tidaklah onta-onta orang yang pergi berhaji mengangkat kakinya, dan tidak pula ia letakkan tangannya, melainkan Alloh mencatat baginya 1 kebaikan dengan sebab itu, atau Dia menghapus darinya 1 kesalahan, atau Dia mengangkat dengannya 1 derajat.” HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3821, shahih.

 

  1. DOA HAJJI MABRUR ADALAH MUSTAJAB

عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْغَازِي فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَالْحَاجُّ وَالْمُعْتَمِرُ وَفْدُ اللَّهِ دَعَاهُمْ فَأَجَابُوهُ وَسَأَلُوهُ فَأَعْطَاهُمْ

Dari Ibnu ‘Umar radliallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Orang yang berperang di jalan Allâh, orang yang mengerjakan ibadah haji dan umrah adalah para tamu Allâh. Allâh memanggil mereka dan mereka menjawab panggilan-Nya. Mereka meminta kepada Allâh, maka Dia memberikan permintaan mereka.” HR Ibnu Majah 2884, shahih.

 

 

  1. FADHILAH KAYA YANG AHLI ‘UMRAH & HAJJI TIAP 5 TAHUN

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ إِلَّا الْجَنَّةُ. (ثواب جزاء)

Dari ‘Abdullah bin Mas’ud berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Lakukanlah haji dan umrah dalam waktu yang berdekatan[5], karena keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan menghapus dosa sebagaimana ubupan pandai besi menghilangkan karat besi, emas dan perak. Tidak ada balasan haji mabrur kecuali syurga.” HR Tarmidzi 738, shahih.

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَقُولُ رَبِّي تَبَارَكَ وَتَعَالَى: إِنَّ عَبْدًا صَحَّحْتُ لَهُ جِسْمَهُ وَأَوْسَعْتُ عَلَيْهِ فِي رِزْقِهِ يَأْتِي عَلَيْهِ خَمْسُ سِنِينَ لَا يَفِدُ إِلَيَّ لَمَحْرُومٌ”

Dari Abu Sa’id al-Khudri, Rasulullah saw bersabda, “Rabbku Tabaraka wa Ta’ala berkata: Sungguh seorang hamba yang telah kuberikan kesehatan bagi tubuhnya dan kuluaskan rizkinya, jika masa 5 tahun melewatinya tanpa bertamu kepada-Ku (pergi hajji), maka sungguh ia orang yang terhalang (dari kebaikan).” HR Baihaqi dalam as-Syu’ab 3837, shahih.

‘Ali bin Mundzir berkata, “Sebagian shahabat kami mengabariku: Hasan bin Huyay senang dengan hadits ini, dan ia memakainya, dan ia menyukai bagi orang yang kaya dan sehat untuk tidak meninggalkan ibadah haji hingga 5 tahun. ‘Ali bin Mundzir pernah ditanya berapa kali berhajji, maka dia jawab, “Antara 56 hingga 58 kali.”

 

 

  1. FADHILAH KAYA YANG MEWAKAFKAN SUMUR

Atau segala wakaf yang berupa pengairan. Wakaf ini sangatlah utama karena fungsi air sangatlah urgen untuk kehidupan manusia.

عَنْ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ أُمِّي مَاتَتْ أَفَأَتَصَدَّقُ عَنْهَا قَالَ نَعَمْ قُلْتُ فَأَيُّ الصَّدَقَةِ أَفْضَلُ/أعجب إليك. قَالَ: سَقْيُ الْمَاءِ.

Dari Sa’d bin ‘Ubadah berkata, “Aku berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya ibuku meninggal, bolehkah aku bersedekah untuknya?” Beliau menjawab: “Ya.” Aku lalu bertanya, “Sedekah apakah yang paling utama?” Beliau menjawab: “Memberi minum air.” Nasa`i 3604, shahih.

شافعي + مالكي : لا يصل!

حنفي + حنبلي : وصل!

 

  1. FADHILAH PEDAGANG KAYA RAYA

قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ التُّجَّارَ هُمْ الْفُجَّارُ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَوَلَيْسَ قَدْ أَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ قَالَ بَلَى وَلَكِنَّهُمْ يُحَدِّثُونَ فَيَكْذِبُونَ وَيَحْلِفُونَ وَيَأْثَمُونَ.

‘Abdur Rahman bin Syibl Radliyallahu’anhu berkata; Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda: “Para pedagang adalah orang-orang yang berbuat fajir (durhaka)” Dia berkata; ditanyakan, wahai Rasulullah! Bukankah Allâh telah menghalalkan jual beli? (Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam) bersabda: “Ya. Tapi mereka berbicara lantas berdusta, bersumpah, dan berbuat dosa.” HR Ahmad 14982, shahih.

عَنْ الْمِقْدَامِ بْنِ مَعْدِيكَرِبَ الزُّبَيْدِيِّ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا كَسَبَ الرَّجُلُ كَسْبًا أَطْيَبَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ وَمَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى نَفْسِهِ وَأَهْلِهِ وَوَلَدِهِ وَخَادِمِهِ فَهُوَ صَدَقَةٌ

Dari Al Miqdam bin Ma’dikarib Az Zubaidi dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tiada usaha yang lebih baik daripada usaha seorang laki-laki dengan tangannya sendiri. Dan apa saja yang diinfakkan oleh seorang laki-laki kepada diri, isteri, anak, dan pembantunya adalah sedekah.” HR Ibnu Majah 2129, shahih.

عَنْ رَافِعِ بْنِ خَدِيجٍ قَالَ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَيُّ الْكَسْبِ أَطْيَبُ قَالَ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

Rafi’ bin Khadij dia berkata, “Dikatakan, “Wahai Rasulullah, mata pencaharian apakah yang paling baik?” beliau bersabda: “Pekerjaan seorang laki-laki dengan tangannya sendiri dan setiap jual beli yang mabrur[6].” HR Ahmad 16628, shahih.

 

 

DAFTAR ISI

  1. DEFINISI KAYA & FAKIR
  2. FADHILAH KAYA YANG FAQIH (FAHAM ILMU AGAMA)
  3. FADHILAH KAYA YANG SHALIH
  4. PAHALA KAYA YANG MENDANAI KERJA-KERJA DAKWAH
  5. FADHILAH KAYA YANG AHLI IBADAH & SEDEKAH
  6. FADHILAH KAYA PENYANTUN KAUM MISKIN
  7. FADHILAH KAYA YANG SUKA MEMINJAMI ORANG YANG BUTUH
  8. FADHILAH KAYA YANG MEMBANTU ORANG BERHUTANG
  9. NASIB KAYA YANG TIDAK BANYAK SEDEKAH
  10. FADHILAH KAYA YANG AHLI HAJJI
  11. DOA HAJJI MABRUR ADALAH MUSTAJAB
  12. FADHILAH KAYA YANG AHLI ‘UMRAH & HAJJI TIAP 5 TAHUN
  13. FADHILAH KAYA YANG MEWAKAFKAN SUMUR
  14. FADHILAH PEDAGANG KAYA RAYA

والله تعالى أعلم. وعلمه أتم. والحمد لله على ما علّم.

[ Diterbitkan oleh: Pusat Kajian Hadits HQA (Hamalatul Qur’an wal Atsar) Solo ]

Catatan:

[1] Dalam CD Ensiklopedi 9 Imam diterjemahkan: memberikan sayembara. Wallahu A’lam dari mana terjemah ini didapatkan.

[2] Dalam CD Ensiklopedi 9 Imam diterjemahkan: Dari Ibnu ‘Abbas. Ini jelas salah.

[3] NB: Hadits ini diterjemahkan secara salah FATAL dalam CD Ensiklopedi Sembilan Imam. Maka berhati-hatilah.

[4] Maksudnya: bersedekah ke sana kemari.

[5] Maksudnya: jika haji maka ‘umrahlah, dan jika ‘umrah maka berhajilah juga. (Tuhfatul Ahwadzi)

[6] Jual beli mabrur: Yang sesuai syar’I; tidak merugikan atau menipu pihak lain.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*