Home Hadits Fadhilah Salam

Fadhilah Salam

2414
0
SHARE
  1. SALAMLAH SESUAI SUNNAH RASULULLAH SAW

Ibnu ‘Abbas masuk ke kamar bibinya, Maimunah, selepas Jum’at, lalu seorang peminta-minta datang lalu berdiri di depan pintu, lalu berucap:

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ وَصَلَاتُهُ وَمَغْفِرَتُهُ،

Maka Ibnu ‘Abbas berkata:

عِبَادَ اللهِ انْتَهُوا بالتَّحِيَّةِ إِلَى مَا قَالَ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Hari para hamba Alloh, berhentilah dalam bersalam pada kalimat yang diajarkan oleh Alloh Ta’ala, yaitu: warahmatullahi wa barakatuh.” Lalu dia berkata:

مَا آسَى عَلَى شَيْءٍ فَاتَنِي مِنَ الدُّنْيَا إِلَّا أَنِّي لَمْ أَحُجَّ مَاشِيًا حَتَّى أَدْرَكَنِي الْكِبَرَ، أَسْمَعُ اللهُ تَعَالَى يَقُولُ: يَأْتُوكَ رِجَالًا وَعَلَى كُلِّ ضَامِرٍ

Aku tidak sedih terhadap sesuatu yang terlewat dari dunia, selain bahwa aku belum pernah haji dengan berjalan kaki hingga tua. Kudengar Alloh Ta’ala mengatakan: Mereka datang (ke Ka’bah) dengan jalan kaki dan di atas tiap onta kurus.” [Baihaqi dalam Syu’abul Iman 3694, hadits mauquf.]

  1. PERINTAH MENYEBARKAN SALAM

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ

Dari Abu Hurairah berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ber-sabda: “Kalian tidak akan masuk Jannah hingga kalian beriman, dan tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yang mana bila kalian mengerjakannya pasti kalian akan saling menyayangi. Sebarkan salam di antara kalian.” HR Muslim 81.

  1. SALAM ADALAH HAK MUSLIM SAAT BERSUA

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hak seorang muslim terhadap seorang muslim ada enam perkara.” Lalu beliau ditanya; ‘Apa yang enam perkara itu, ya Rasulullah? ‘ Jawab beliau: (1) Bila engkau bertemu dengannya, ucapkankanlah salam kepadanya. Dst. HR Muslim 4023.

  1. PAHALA SALAM

عَنْ عِمْرَانَ بْنِ حُصَيْنٍ قَالَ جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ فَرَدَّ عَلَيْهِ السَّلَامَ ثُمَّ جَلَسَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَشْرٌ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ عِشْرُونَ ثُمَّ جَاءَ آخَرُ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ فَرَدَّ عَلَيْهِ فَجَلَسَ فَقَالَ ثَلَاثُونَ

Dari ‘Imran bin Hushain ia berkata, “Seorang laki-laki datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan mengucapkan, “Assalamu Alaikum?” Beliau membalas salam orang tersebut lalu duduk, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “10.” Setelah itu ada seseorang datang dan mengucapkan salam, “Assalamu Alaikum wa Rahmatullah.” Beliau membalas salam orang tersebut lalu duduk, beliau bersabda: “20.” Setelah itu ada lagi orang datang dan mengucapakan salam, “Assalamu Alaikum Wa Rahmatullahi Wa barakatuh.” Beliau membalas salam orang tersebut lalu duduk, beliau bersabda: “30.” HR Abu Dawud 4521, shahih.

Adapun riwayat yang menyebutkan “40”, derajatnya dha’if, yaitu:

عَنْ سَهْلِ بْنِ مُعَاذِ بْنِ أَنَسٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَعْنَاهُ زَادَ ثُمَّ أَتَى آخَرُ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ وَمَغْفِرَتُهُ فَقَالَ أَرْبَعُونَ قَالَ هَكَذَا تَكُونُ الْفَضَائِلُ

Dari Sahl bin Mu’adz bin Anas dari Bapaknya dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dengan makna yang sama. Ia menambahkan, “Kemudian datang orang lain dan mengucapkan “Assalamu Alaikum Wa Rahmatullah Wa Barakaatuhu Wa Maghfiratuh.” Beliau lalu bersabda: “40.” Dia berkata, “Seperti inilah fadhilah (keutamaan).” HR Abu Dawud 4521, DHA’IF1.

  1. FADHILAH SALAM

قَالَ عَبْدُ اللهِ هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ: ” إِنَّ السَّلَامَ هُوَ اسْمٌ مِنْ أَسْمَاءِ اللهِ تَعَالَى وَضَعَهُ اللهُ فِي الْأَرْضِ، فَأَفْشُوهُ بَيْنَكُمْ، فَإِنَّ الرَّجُلَ إِذَا مَرَّ عَلَى الْقَوْمِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ فَرَدُّوا عَلَيْهِ كَانَ لَهُ عَلَيْهِمْ فَضْلُ دَرَجَةٍ بِأَنَّهُ أَذْكَرَهُمْ، وَإِنْ لَمْ يَرُدُّوا عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَأَطْيَبُ هَكَذَا جَاءَ مَوْقُوفًا، وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا مِنْ وَجْهٍ ضَعِيفٍ

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh as-Salam adalah salah satu Nama dari Nama-nama Alloh Ta’ala; Dia meletakkannya di bumi, maka tebarkanlah nama itu di antara kalian; sebab jika seseorang melewati suatu kaum lalu menyalami mereka dan mereka menjawabnya, dia mendapatkan kelebihan 1 derajat di atas mereka, karena dia telah menjadikan mereka ingat (kepada Alloh). Dan jika mereka tidak menjawab salamnya, niscaya dijawab oleh kaum yang lebih baik2 dan lebih bagus daripada mereka.” Hadits ini diriwayatkan secara mauquf, dan diriwayatkan juga secara marfu’ dari jalur lain yang dha’if. [HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman 8400; shahih mauquf yang marfu’ hukman].

  1. FADHILAH MENYEBARKAN SALAM

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ سَلَامٍ قَالَ لَمَّا قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ انْجَفَلَ النَّاسُ إِلَيْهِ وَقِيلَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدِمَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَجِئْتُ فِي النَّاسِ لِأَنْظُرَ إِلَيْهِ فَلَمَّا اسْتَثْبَتُّ وَجْهَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَرَفْتُ أَنَّ وَجْهَهُ لَيْسَ بِوَجْهِ كَذَّابٍ وَكَانَ أَوَّلُ شَيْءٍ تَكَلَّمَ بِهِ أَنْ قَالَ أَيُّهَا النَّاسُ

أَفْشُوا السَّلَامَ وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ وَصَلُّوا وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

Dari ‘Abdullah bin Salam berkata: Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam tiba di Madinah, orang-orang bergegas menyambut beliau sambil mengucapkan: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam datang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam datang, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam datang, ” aku mendatangi orang orang untuk melihat mereka, dan ketika aku telah memastikan wajah Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam aku baru faham bahwa wajah beliau bukanlah wajah wajah pendusta, dan yang pertama kali beliau ucapkan adalah: “Wahai sekalian manusia, sebarkanlah salam, berikanlah makanan dan laksanakanlah shalat pada saat manusia tertidur nisacaya kalian masuk Jannah dengan selamat.” HR Tarmidzi 2409, shahih.

  1. FADHILAH SALAM KEPADA SEMUA MUSLIM

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْإِسْلَامِ خَيْرٌ قَالَ تُطْعِمُ الطَّعَامَ وَتَقْرَأُ السَّلَامَ عَلَى مَنْ عَرَفْتَ وَمَنْ لَمْ تَعْرِفْ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amru; Ada seseorang yang bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam; “Islam manakah yang paling baik?” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab: “Kamu memberi makan, mengucapkan salam kepada orang yang kamu kenal dan yang tidak kamu kenal”. HR Bukhari 11.

  1. FADHILAH SALAM MASUK RUMAH

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ قَالَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بُنَيَّ إِذَا دَخَلْتَ عَلَى أَهْلِكَ فَسَلِّمْ يَكُنْ بَرَكَةً عَلَيْكَ وَعَلَى أَهْلِ بَيْتِكَ

Dari Anas bin Malik ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadaku: “Wahai anakku, jika kamu masuk menemui keluargamu, ucapkanlah salam, niscaya akan menjadi berkah bagimu dan bagi keluargamu.” HR Tarmidzi 2622, DHA’IF.3

Namun makna hadits ini kuat, karena terdapat hadits semisal yaitu:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّهُ سَمِعَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِذَا دَخَلَ الرَّجُلُ بَيْتَهُ فَذَكَرَ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ وَعِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ لَا مَبِيتَ لَكُمْ وَلَا عَشَاءَ وَإِذَا دَخَلَ فَلَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ دُخُولِهِ قَالَ الشَّيْطَانُ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَإِذَا لَمْ يَذْكُرْ اللَّهَ عِنْدَ طَعَامِهِ قَالَ أَدْرَكْتُمْ الْمَبِيتَ وَالْعَشَاءَ

Dari Jabir bin ‘Abdullah; Sesungguhnya dia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika seseorang menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya dan ketika hendak makan, maka setan berkata; ‘Kalian (bangsa setan) tidak bisa menginap dan tidak bisa makan! ‘ Jika seseorang tidak menyebut nama Allah ketika hendak masuk rumahnya, maka setan berkata; ‘Kalian bisa masuk dan bisa menginap.’ Jika seseorang tidak menyebut nama Allah sewaktu hendak makan, maka setan berkata; ‘Kalian bisa menginap dan makan malam.’ HR Muslim 3762.

  1. FADHILAH SALAM YANG TIDAK DIJAWAB

قَالَ عَبْدُ اللهِ هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ: “إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا مَرَّ عَلَى الْقَوْمِ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ إِنْ لَمْ يَرُدُّوا عَلَيْهِ رَدَّ عَلَيْهِ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مِنْهُمْ وَأَطْيَبُ هَكَذَا جَاءَ مَوْقُوفًا، وَقَدْ رُوِيَ مَرْفُوعًا مِنْ وَجْهٍ ضَعِيفٍ

Ibnu Mas’ud berkata, “Sungguh seseorang jika melewati suatu kaum lalu menyalami mereka dan mereka tidak menjawab salamnya, niscaya dijawab oleh kaum yang lebih baik dan lebih bagus daripada mereka.” [HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman 8400; shahih mauquf yang marfu’ hukman].

  1. SALAM BERTAMU

Terdapat hadits shahih dan hadits dha’if, yaitu:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُسْرٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَتَى بَابَ قَوْمٍ لَمْ يَسْتَقْبِلْ الْبَابَ مِنْ تِلْقَاءِ وَجْهِهِ وَلَكِنْ مِنْ رُكْنِهِ الْأَيْمَنِ أَوْ الْأَيْسَرِ وَيَقُولُ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَذَلِكَ أَنَّ الدُّورَ لَمْ يَكُنْ عَلَيْهَا يَوْمَئِذٍ سُتُورٌ

Dari ‘Abdullah bin Busr ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mendatangi pintu suatu kaum, beliau tidak berdiri di depan pintu, tetapi beliau berada di sisi sebelah kanan atau kirinya seraya mengucapkan: “Assalamu Alaikum Assalamu Alaikum.” Sebab saat itu rumah-rumah belum ada yang mengunakan satir.” HR Abu Dawud 4512, shahih.4

عَنْ قَيْسِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ زَارَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَنْزِلِنَا فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَرَدَّ سَعْدٌ رَدًّا خَفِيًّا قَالَ قَيْسٌ فَقُلْتُ أَلَا تَأْذَنُ لِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ ذَرْهُ يُكْثِرُ عَلَيْنَا مِنْ السَّلَامِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَرَدَّ سَعْدُ رَدًّا خَفِيًّا ثُمَّ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ

Dari Qais bin Sa’d ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengunjungi kami di rumah milik kami, beliau lalu mengucapkan: “Assalamu Alaikum wa Rahmatullahi.” Sa’d lalu menjawab salam tersebut dengan suara lirih.” Qais berkata, “Aku bertanya, “Apakah kamu tidak memberi izin kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam?” Sa’d menjawab, “Biarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memperbanyak salam kepada kami.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian mengucapkan salam lagi: “Assalamu Alaikum wa Rahmatullahi.” Sa’d lalu menjawab salam tersebut dengan suara lirih.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali mengucapkan salam: “Assalamu Alaikum wa Rahmatullahi.”

Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kembali pulang, maka Sa’d mengikutinya dari belakang. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku mendengar salammu, dan aku juga telah menjawab salammu dengan suara yang lirih dengan harapan engkau memperbanyak salam kepada kami.” Akhirnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Sa’d kembali ke rumah Sa’d. Sa’d kemudian mempersilahkan Rasulullah untuk mandi, maka beliau pun mandi. Lalu ia menyediakan handuk yang telah dicelup dengan minyak Za’faran atau Wars (sejenis tumbuhan), sehingga beliau mengelap tubuhnya dengan handuk tersebut. Setelah itu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengangkat kedua tangannya seraya berdoa: اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَى آلِ سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ

“Ya Allah, jadikanlah shalawat dan rahmat-Mu tercurah kepada keluarga Sa’d bin Ubadah.” Kemudian Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyantap makanan. HR Abu Dawud 4511, DHA’IF.5

  1. SALAM MASUK MAJLIS

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا انْتَهَى أَحَدُكُمْ إِلَى الْمَجْلِسِ فَلْيُسَلِّمْ فَإِذَا أَرَادَ أَنْ يَقُومَ فَلْيُسَلِّمْ فَلَيْسَتْ الْأُولَى بِأَحَقَّ مِنْ الْآخِرَةِ

Dari Abu Hurairah ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian sampai pada suatu majlis hendaklah ia mengucapkan salam, dan jika akan bangkit hendaklah mengucapkan salam, dan tidaklah yang pertama itu lebih berhak dari yang terakhir.”HR Abu Dawud 4532, hasan shahih.

  1. SALAM KELUAR MAJLIS

عَنْ قَتَادَةَ، قَالَ: قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا دَخَلْتُمْ بَيْتًا فَسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهِ، فَإِذَا خَرَجْتُمْ فَأَوْدِعُوا أَهْلَهُ بِسَلَامٍ ” . ” هَكَذَا جَاءَ مُرْسَلًا

Qatadah dari Nabi saw bersabda, “Jika kalian masuk rumah, maka salamlah kepada penghuninya; lalu jika kalian keluar maka pamitilah penghuninya dengan salam lagi.” HR Baihaqi dalam Syu’abul Iman 8459; hadits mursal, dinilai hasan oleh Syaikh Albani dalam Shahihul Jami’ no. 526.

  1. SALAM MASUK MASJID

أن أَبَا حُمَيْدٍ أَوْ أَبَا أُسَيْدٍ الْأَنْصَارِيَّ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمْ الْمَسْجِدَ فَلْيُسَلِّمْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ لِيَقُلْ اللَّهُمَّ افْتَحْ لِي أَبْوَابَ رَحْمَتِكَ فَإِذَا خَرَجَ فَلْيَقُلْ اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ مِنْ فَضْلِكَ

Abu Humaid atau Abu Usaid Al Anshari berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian masuk Masjid, maka bershalawatlah untuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian ucapkanlah: ‘Allahummaftahli Abwaba Rahmatika (Ya Allah, bukakanlah untukku pintu-pintu rahmat-Mu) ‘, dan apabila keluar maka ucapkanlah: ‘Alahumma Inni As`aluka min Fadllika (Ya Allah, sesungguhnya saya memohon karunia kepada-Mu’.” HR Abu Dawud 393, shahih.

* Dalam riwayat Muslim no. 1165, tanpa perintah salam kepada Nabi saw.

  1. MUDA MENYALAMI TUA, SEDIKIT MENYALAMI BANYAK

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ يُسَلِّمُ الصَّغِيرُ عَلَى الْكَبِيرِ وَالْمَارُّ عَلَى الْقَاعِدِ وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Hendaknya yang muda memberi salam kepada yang tua, yang berjalan kepada yang duduk, dan (rombongan) yang sedikit kepada (rombongan) yang banyak.” HR Bukhari 5763.

  1. SALAM KEPADA WANITA

أَسْمَاء بِنْت يَزِيدَ تُحَدِّثُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ فِي الْمَسْجِدِ يَوْمًا وَعُصْبَةٌ مِنْ النِّسَاءِ قُعُودٌ فَأَلْوَى بِيَدِهِ بِالتَّسْلِيم

Asma` binti Yazid bercerita bahwa suatu hari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berjalan dekat masjid, sementara sekelompok wanita tengah duduk-duduk, beliau melambaikan tangan dengan (ucapan) salam6. HR Tarmidzi 2621, dan dia katakan: hadits ini hasan. Imam Ahmad berfatwa: Hadits ‘Abdul Hamid bin Bahram dari Syahr bin Hausyab adalah la ba`sa (tidak mengapa; tidak dha’if). Wallahu A’lam.

  1. SALAM KEPADA ANAK-ANAK

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَرَّ عَلَى غِلْمَانٍ فَسَلَّمَ عَلَيْهِمْ

Dari Anas bin Malik bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bertemu dengan beberapa orang anak kecil, lalu beliau memberi salam kepada mereka.” HR Muslim 4031.

  1. JAWABAN SALAM TERLENGKAP

زيد بن ارقم قال كنا إذا سلم النبي صلى الله عليه وسلم علينا قلنا وعليك السلام ورحمة الله وبركاته ومغفرته

Zaid bin Arqam berkisah, “Kami dulu jika Nabi saw menyalami kami, kami pun menjawab: Wa’alaikassalam warahmatullahi wabarakatuhu wa magh-firatuhu.7 HR Bukhari dalam Tarikh Kabir no. 1037, shahih.

  1. JAWABAN SALAM KEPADA YAHUDI

أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا سَلَّمَ عَلَيْكُمْ أَهْلُ الْكِتَابِ فَقُولُوا وَعَلَيْكُمْ

Anas bin Malik radliallahu ‘anhu berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam

bersabda: “Apabila ahli kitab menyampaikan salam kepada kalian, maka jawablah; ‘wa ‘alaikum (dan semoga kamu juga).” HR Bukhari 5788.

  1. BATU MENGUCAPKAN SALAM

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُلَبِّي إِلَّا لَبَّى مَنْ عَنْ يَمِينِهِ أَوْ عَنْ شِمَالِهِ مِنْ حَجَرٍ أَوْ شَجَرٍ أَوْ مَدَرٍ حَتَّى تَنْقَطِعَ الْأَرْضُ مِنْ هَاهُنَا وَهَاهُنَ

Dari Sahl bin Sa’ad berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidaklah seorang muslim bertalbiyah kecuali yang berada di samping kanan dan kirinya akan ikut bertalbiyah, baik itu batu, pohon dan tanah keras hingga ke ujung bumi.” HR Tarmidzi 758, shahih.

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي لَأَعْرِفُ حَجَرًا بِمَكَّةَ كَانَ يُسَلِّمُ عَلَيَّ قَبْلَ أَنْ أُبْعَثَ إِنِّي لَأَعْرِفُهُ الْآنَ

Dari Jabir bin Samurah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya akulah yang paling mengenal batu di Makkah. Batu-batu itu memberi salam kepadaku sebelum aku diutus menjadi Rasul. Kini aku ingat peristiwa itu.” HR Muslim 4222.

  1. SALAM KEPADA ORANG SHALAT

Rasulullah saw bersabda:

ما أحب أن أسلم على الرجل و هو يصلي و لو سلم علي لرددت عليه ( الطحاوي )

Tidaklah aku suka untuk menyalami seseorang yang sedang shalat, namun andai aku disalami (saat shalat) niscaya kujawab.” HR Thahawi dari Jabir ra; shahih. * Menjawab salam saat shalat tidak boleh dengan ucapan. Tetapi:

  1. MENJAWAB SALAM SAAT SHALAT

عَنْ صُهَيْبٍ أَنَّهُ قَالَ مَرَرْتُ بِرَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ يُصَلِّي فَسَلَّمْتُ عَلَيْهِ فَرَدَّ إِشَارَةً قَالَ وَلَا أَعْلَمُهُ إِلَّا قَالَ إِشَارَةً بِأُصْبُعِهِ

Dari Shuhaib dia berkata; “Aku melewati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, sementara beliau dalam keadaan shalat, lalu aku mengucapkan salam kepadanya, dan beliau menjawabnya dengan isyarat.” Nabil berkata; “Aku tidak mengetahui kecuali Ibnu Umar berkata; ‘Bahwa isyarat beliau dengan menggunakan jari jemarinya.” HR Abu Dawud 790, shahih.

عَبْد اللَّهِ بْن عُمَرَ قَالَ فَقُلْتُ لِبِلَالٍ كَيْفَ رَأَيْتَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرُدُّ عَلَيْهِمْ حِينَ كَانُوا يُسَلِّمُونَ عَلَيْهِ وَهُوَ يُصَلِّي قَالَ يَقُولُ هَكَذَا وَبَسَطَ كَفَّهُ وَبَسَطَ جَعْفَرُ بْنُ عَوْنٍ كَفَّهُ وَجَعَلَ بَطْنَهُ أَسْفَلَ وَجَعَلَ ظَهْرَهُ إِلَى فَوْقٍ

Abdullah bin Umar berkata; “Aku bertanya kepada Bilal; “Bagaimana kamu melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab salam ketika mereka memberi salam kepada beliau yang sedang shalat?” Bilal menjawab; “Seperti ini, sambil membuka telapak tangannya. dan Ja’far bin ‘Aun membuka telapak tangannya dengan menjadikan bagian dalamnya di bawah dan bagian luarnya di atas.” HR Abu Dawud 792, hasan shahih.

DAFTAR ISI

  1. SALAMLAH SESUAI SUNNAH RASULULLAH SAW

  2. PERINTAH MENYEBARKAN SALAM

  3. SALAM ADALAH HAK MUSLIM SAAT BERSUA

  4. PAHALA SALAM

  5. FADHILAH: SALAM, MENYEBARKAN SALAM, SALAM KEPADA SEMUA MUSLIM, SALAM MASUK RUMAH, & SALAM YANG TIDAK DIJAWAB

  1. SALAM BERTAMU

  2. SALAM MASUK MAJLIS

  3. SALAM KELUAR MAJLIS

  4. SALAM MASUK MASJID

  5. MUDA MENYALAMI TUA, SEDIKIT MENYALAMI BANYAK

  6. SALAM KEPADA WANITA

  7. SALAM KEPADA ANAK-ANAK

  8. JAWABAN SALAM TERLENGKAP

  9. JAWABAN SALAM KEPADA YAHUDI

  10. BATU MENGUCAPKAN SALAM

  11. SALAM KEPADA ORANG SHALAT

  12. MENJAWAB SALAM SAAT SHALAT

والله تعالى أعلم. وعلمه أتم. والحمد لله على ما علّم.

[ Diterbitkan oleh: Pusat Kajian Hadits HQA (Hamalatul Qur’an wal Atsar) Solo ]

Catatan:

1 Semua rawinya tsiqat atau shaduq, hanya saja Sa’id bin Abil Hakam dalam sanad ini mengatakan, “Kukira aku mendengarnya dari Nafi’ bin Yazid.” Lihat: Syarh Abi Dawud oleh Syaikh ‘Abbad 29/288.

2 Maksudnya: para malaikat. Wallahu A’lam.

3 Dalam sanadnya terdapat ‘Ali bin Zaid, seorang rawi dha’if. Wallahu A’lam.

4 Hadits ini termasuk ruba’iyyat Imam Abu Dawud, dan itulah sanad tertinggi di dalam sunannya. (Ruba’iyyat: sanad berisi 4 rawi antara dia hingga Nabi saw)

5 Dalam sanadnya terdapat Muhammad bin ‘Abdirrahman bin As’ad bin Zurarah (wafat tahun 60 an), tidak bertemu dengan Qais bin Sa’d (wafat tahun 24). Lihat: Syarh Abi Dawud oleh Syaikh ‘Abbad 29/290.

6 Dalam CD Ensiklopedi 9 Imam diterjemahkan: “sebagai isyarat salam”. Ini jelas salah, karena salam hanya dengan isyarat tangan adalah adat yahudi. Wallahu A’lam.

7 “Wa maghfiratuhu” shahih untuk jawaban salam; dha’if untuk pemulai salam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here