Home Artikel ‘Fakta Sejarah PKI’ – Cikal Bakal dan Kekejaman PKI

‘Fakta Sejarah PKI’ – Cikal Bakal dan Kekejaman PKI

1280
0
SHARE

Bismillaahirrahmaanirrahiim

1. Tahun 1914 delapan puluh lima tokoh komunis Belanda mendirikan serikat buruh di Indonesia, diberi nama ISDV (Indische Sosialis Democratic Vereeneging). Saat itu Indonesia dijajah oleh Hindia Belanda. Tokoh komunis Belanda ingin mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi komunis. Indonesia dipilih karena merupakan ladang kekayaan alam Belanda. Mereka ingin mengganggu stabilitas politik Hindia Belanda. ISDV didanai oleh Uni Soviet.

2. Tahun 1917 delapan puluh lima tokoh komunis tersebut menghasut buruh dan petani yang sudah menjadi anggota untuk membakar perkebunan dan perkantoran Belanda. Para tokoh tersebut ditangkap dan dikembalikan ke Belanda, kecuali beberapa orang yang dianggap tidak bersalah. Adapun para buruh dan petani yang tertangkap dihukum mati, dipenjara, disiksa, dikerjapaksakan oleh Hindia Belanda. Tujuan pembakaran BUKAN untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, tapi untuk mengganggu stabilitas pemerintahan kapitalis Hindia Belanda yang ingin mereka ubah menjadi pemerintahan komunis.

3. Setelah para tokohnya dipulangkan ke Belanda, ISDV tidak dibubarkan. Pengurusnya diganti. Pada tahun 1920 ISDV diganti menjadi PKH (Perserikatan Komunis Hindia Belanda). PKH dipimpin oleh Semaun dan Darsono.

4. Konferensi Komunis di Moskow, Uni Soviet menuntut pendirian partai komunis di seantero dunia dalam rangka merebut kekuasaan. Tahun 1926 di Semarang PKH berubah nama menjadi PKI (Partai Komunis Indonesia) dipimpin oleh Muso dan Alimin.

5. Tahun 1927 PKI yang sudah berhasil merekrut banyak anggota, atas arahan Uni Soviet dan Partai Komunis Belanda membuat kerusuhan yang lebih besar. Perkebunan dibakar, stasiun dan terminal diserbu. Sekali lagi, ini BUKAN dalam rangka memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Hal ini dilakukan untuk mengubah pemerintahan kapitalis Belanda menjadi pemerintahan komunis di bawah kendali Uni Soviet.

6. Akibat kerusuhan ini para pimpinan PKI dibuang dan mendapatkan suaka politik di Uni Soviet. Akan tetapi, tiga belas ribu petani dan buruh yang terlibat kerusuhan dibuang dan dikerjapaksakan di Irian. Ratusan petani dan buruh disiksa, dibunuh, digantung di jalan-jalan oleh Belanda. Tahun 1927 PKI dibubarkan selama-lamanya oleh Belanda. Pimpinan PKI tidak diizinkan kembali ke Indonesia.

7. Tahun 1937 beberapa pimpinan PKI diizinkan kembali ke Indonesia. Mereka bergerilnya untuk menghimpun kembali mantan anggota PKI. Mereka membentuk gerakan bawah tanah. Kemudian mereka kembali ke Uni Soviet dan mengatur gerakan bawah tanah tersebut dari Uni Soviet.

8. Menjelang kemerdekaan Indonesia, tokoh pimpinan ormas-ormas Islam dan tokoh-tokoh nasionalis berkumpul dalam rangka persiapan kemerdekaan. Tokoh-tokoh tersebut ialah KH. Wahid Hasyim dari, KH. Kahar Muzakkir dari Muhammadiyah, H. Agus Salim dari Sarikat Islam. Tiga kyai tersebut berdebat dengan Bung Karno, Bung Hatta, dan Bung Yamin. Tokoh nasionalis menginginkan Indonesia menjadi negara sekuler. Ide ini ditentang oleh para kyai. Hasilnya, Indonesia menjadi negara yang berdasarkan Ketuhanan YANG MAHA ESA. Singkat cerita Indonesia merdeka. Para tokoh dan kyai sepakat Bung Karno dan Bung Hatta menjadi presiden dan wakil presiden. Catat! PKI tidak ikut serta dalam rapat usaha kemerdekaan Indonesia.

9. Kabar kemerdekaan Indonesia mengejutkan Moskow. Tidak sampai seminggu setelah kemerdekaan, mantan tokoh-tokoh PKI di Uni Soviet kembali ke Indonesia. Muso dan Alimun menghadap Bung Karno dan meminta supaya PKI dilibatkan di dalam kekuasaan. Bung Karno menolak.

10. PKI marah. Kemudian mereka membentuk API (Angkatan Pemuda Indonesia) dan AMRI (Angkatan Muda Republik Indonesia) di Tegal. Mereka menculik lurah, membunuh camat, menculik bupati. Mereka merebut Tegal. Sepanjang Oktober mereka membunuh Otto Iskandar Dinata di Tangerang, mereka bunuh bupati Lebak di Banten yaitu Raden Hadiwinangun, bupati Tangerang Agus Padmanegara diusir. Teror terus dilakukan agar Bung Karno bersedia memasukkan PKI dalam pemerintahan.

11. Tahun 21 Oktober 1945 PKI dideklarasikan kembali di Indonesia. Akan tetapi tuntutan agar dilibatkan dalan kekuasaan tetap ditolak.

12. PKI kembali membuat kerusuhan. Mereka merebut karesidenan Pekalongan. Mereka merebut Brebes, Tegal, Pemalang, Batang. Tentara mereka usir, tentara mereka tangkap, komandan mereka bunuh. Kyai yang tidak mendukung PKI ditangkap. Pesantren-pesantren NU dibakar. Istana Langkat di Sumatera Utara diserbu. Sultan, istri, dan anak-anaknya dibunuh. Harta kekayaan kesultanan dijarah. Teror-teror dilakukan untuk memaksa Bung Karno melibatkan PKI dalan pemerintahan.

13. Bung Karno terpaksa memenuhi keinginan PKI. Bung Karno sebagai presiden, Bung Hatta wakil presiden, dan Amir Syarifuddin Harahap -tokoh PKI- sebagai perdana menteri. Tahun 1947 Amir Syarifuddin resmi menjadi perdana menteri Indonesia.

14. Januari – Desember 1947 Amir Syarifuddin memasukkan kader-kader PKI ke Legislatif, Eksekutif, pegawai negeri sipil, pegawai negeri militer, menjadi komandan-komandan tentara dan polisi.

15. NU, Muhammadiyah, Sarikat Islam berkali-kali menasihati Bung Karno namun tidak berhasil.

16. Pada tanggal 17 Januari 1948 berlangsung Perjanjian Renville antara Indonesia dan Belanda. Hasil perundingan merugikan Indonesia dan membuka kembali peluang Belanda menjajah Indonesia.

17. NU, Muhammadiyah, Sarikat Islam, para kyai, dan habaib menemui Bung Karno. Mereka mengancam jika Amir Syarifuddin tidak diberhentikan dan kabinet PKI tidak dibubarkan, NU, Muhammadiyah, SI akan mundur dan tidak mendukung Bung Karno.

18. Pada tanggal 23 Januari 1948 Amir Syarifuddin dicopot dari jabatannya. Kabinetnya dibubarkan. Posisi Perdana Menteri digantikan oleh Bung Hatta, merangkap sebagai Wakil Presiden. Begitu diangakat menjadi PM, keesokan harinya Bung Hatta meluncurkan program Re-Ra (reorganisasi-rasionalisasi). Seluruh PNS, komandan TNI, komandan polisi yang berasal dari kader PKI diberhentikan. Itulah program Bung Hatta sepanjang 1948.

19. Agustus 1948 PKI menggelar konvensi menolak pembubaran kabinet Amir Syarifuddin, pemberhentian kader-kader PKI.

20. Pada tanggal 5 September 1948 Muso menghadap Bung Karno dan mengancam: kalau Indonesia mau aman, kalau kita tetap mau bersatu, Indonesia wajib untuk berkiblat kepada Uni Soviet. Jika Indonesia berkiblat kepada Uni Soviet, Indonesia akan aman dari gangguan penjajah. Bung Karno menolak permintaan tersebut.

(Bersambung, insyaaAllaah)

# disarikan dari penyampaian Dr. Habib Rizieq, Lc, MA (Imam Besar FPI) dalam Tabligh Akbar ‘Sikat Komunis dari NKRI’ pada tanggal 10 November 2015 di Masjid Agung Surakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here