Home Hadits Hadits-hadits Shahih Seputar Adab Shaum – Adab Buka Puasa

Hadits-hadits Shahih Seputar Adab Shaum – Adab Buka Puasa

801
0
SHARE
  1. MENYEGERAKAN IFTHAR

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : لاَ تَزَالُ أُمَّتِي عَلَى سُنَّتِي مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُّجُومَ ، وَكَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ صَائِمًا أَمَرَ رَجُلاً فَأَوْفَى عَلَى نَشَزٍ ، فَإِذَا قَالَ : قَدْ غَابَتِ الشَّمْسُ أَفْطَرَ. (صَحِيحٌ عَلَى شَرْطِ الشَّيْخَيْنِ ، وَلَمْ يُخَرِّجَاهُ بِهَذِهِ السِّيَاقَةِ إِنَّمَا خَرَّجَا بِهَذَا الإِسْنَادِ لِلثَّوْرِيِّ : لاَ تَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ فَقَطْ)

Dari Sahl bin Sa’d ra, Rasulullah saw bersabda, “Ummatku senantiasa berada di atas sunnahku selama tidak menunggu untuk iftharnya hingga bintang-bintang bermunculan. Kebiasaan Nabi saw jika shaum, beliau menyuruh orang untuk naik di atas suatu tempat tinggi, lalu jika orang itu mengabarkan bahwa mentari telah terbenam, beliau pun ifthar.” HR Hakim 1584, shahih.

 

  1. WAKTU IFTHAR

عَاصِمَ بْنَ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

إِذَا أَقْبَلَ اللَّيْلُ مِنْ هَا هُنَا وَأَدْبَرَ النَّهَارُ مِنْ هَا هُنَا وَغَرَبَتْ الشَّمْسُ فَقَدْ أَفْطَرَ الصَّائِمُ

‘Ashim bin ‘Umar bin Al Khaththab dari bapaknya radliallahu ‘anhu berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika malam telah datang dari sana dan siang telah berlalu dari sana serta matahari telah tenggelam, maka orang yang bershaum sudah (boleh) berbuka “. HR Bukhari 1818.

 

  1. DOA SEBELUM IFTHAR HANYALAH TASMIYAH

Yaitu membaca bismillâh (saja). Ini berdasarkan hadits shahih:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَكَلَ أَحَدُكُمْ طَعَامًا فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فَإِنْ نَسِيَ فِي أَوَّلِهِ فَلْيَقُلْ بِسْمِ اللَّهِ فِي أَوَّلِهِ وَآخِرِهِ

Dari Aisyah ia berkata; Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang dari kalian memakan makanan, maka ucapkanlah, ‘BISMILLAH (Dengan menyebut nama Allah).’ Dan jika ia lupa (mengucapkannya) di awal, maka hendaklah ia mengucapkan: ‘BISMILLAHI FI AWWALIHI WA AKHIRIHI (Dengan menyebut Nama Allah, di awal dan di akhirnya).'” HR Tarmidzi 1781, shahih.

Adapun doa Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthartu dst, dalilnya adalah hadits dha’if [1] maka tidak dapat dijadikan dalil.

 

  1. IFTHAR KECIL SEBELUM MAGHRIB, BESAR SELEPAS MAGHRIB

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ أَنَّ النَّبِيَّ كَانَ لاَ يُصَلِّي الْمَغْرِبَ حَتَّى يُفْطِرَ وَلَوْ عَلَى شَرْبَةٍ مِنْ مَاءٍ.

Dari Anas ra, bahwa Nabi saw tidak shalat maghrib hingga makan ifthar,  meskipun hanya seteguk air. HR Hakim 1577, shahih.[2]

 

  1. FADHILAH MENYEGERAKAN IFTHAR

Menyegerakan ifthar termasuk akhlaq para nabi, sebagaimana dikatakan oleh para ulama`. Selain itu, amalan ini memiliki fadhilah lain:

عَنْ سَهْلِ بْنِ سَعْدٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ

Dari Sahl bin Sa’d bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manusia senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka”. HR Bukhari 1821.

 

  1. MEMULAI IFTHAR DENGAN RUTHAB, KURMA, AIR

أَنَس بْن مَالِكٍ يَقُولُ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ رُطَبَاتٌ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ حَسَا حَسَوَاتٍ مِنْ مَاءٍ

Anas bin Malik berkata; dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berbuka dengan beberapa ruthab (kurma yang belum masak) sebelum melakukan shalat, jika tidak ada ruthab maka dengan beberapa kurma, dan apabila tidak ada kurma maka beliau meminum air beberapa kali cawukan.

Hadits ini shahih dari perbuatan Nabi saw. Adapun dari sabda Nabi saw, maka derajatnya dha’if; dinilai syadz [3] oleh Syaikh Albani, yaitu:

عَنْ سَلْمَانَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ أَحَدُكُمْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى تَمْرٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْ فَلْيُفْطِرْ عَلَى الْمَاءِ فَإِنَّهُ طَهُورٌ

Salman bin Amir berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jika salah seorang dari kalian berbuka hendaklah berbuka dengan kurma, jika tidak mendapatkannya hendaklah dengan air, sebab air itu mensucikan.” HR Ibnu Majah 1689, syadz (DHA’IF).

 

  1. DOA SELEPAS IFTHAR

ابْن عُمَرَ يَقْبِضُ عَلَى لِحْيَتِهِ فَيَقْطَعُ مَا زَادَ عَلَى الْكَفِّ وَقَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ قَالَ ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتْ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الْأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ

Ibnu ‘Umar menggenggam jenggotnya dan memotong jenggot yang melebihi telapak tangan. Dan ia berkata; “Dahulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bila telah berbuka mengucapkan: DZAHABAZH ZHAMAA`U WABTALLATIL ‘URUUQU WA TSABATIL AJRU IN SYAA-ALLAAH (Telah hilang dahaga, dan telah basah tenggorokan, dan telah tetap pahala insyaAllah).” HR Abu Dawud 2010, hadits hasan.

 

  1. MENDOAKAN ORANG YANG MEMBERI IFTHAR

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جَاءَ إِلَى سَعْدِ بْنِ عُبَادَةَ فَجَاءَ بِخُبْزٍ وَزَيْتٍ فَأَكَلَ ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَصَلَّتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ

Dari Anas bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam datang kepada Sa’d bin ‘Ubadah, lalu Sa’d menyuguhkan roti dan minyak samin. Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian memakannya, setelah itu beliau bersabda: “Telah berbuka di rumahmu orang-orang yang bershaum, dan telah makan makananmu orang-orang yang baik, dan semoga bershalawat kepadamu para Malaikat.” HR Abu Dawud 3356, shahih.

Atau dengan lafal lain yaitu:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَفْطَرَ عِنْدَ أَهْلِ بَيْتٍ قَالَ

أَفْطَرَ عِنْدَكُمْ الصَّائِمُونَ وَأَكَلَ طَعَامَكُمْ الْأَبْرَارُ وَتَنَزَّلَتْ عَلَيْكُمْ الْمَلَائِكَةُ

Dari Anas bin Malik ia berkata; “Bahwasanya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam apabila berbuka puasa di suatu rumah, beliau bersabda: “Telah berbuka di rumah kalian orang-orang yang bershaum, dan orang-orang yang baik telah memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat turun kepada kalian.” HR Ahmad 11732, shahih.

 

  1. DILARANG MENGERASKAN SUARA SENDAWA

عَنْ ابْنِ عُمَرَ قَالَ تَجَشَّأَ رَجُلٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ كُفَّ عَنَّا جُشَاءَكَ فَإِنَّ أَكْثَرَهُمْ شِبَعًا فِي الدُّنْيَا أَطْوَلُهُمْ جُوعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

Dari Ibnu ‘Umar berkata: Ada seorang lelaki bersendawa di sisi Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian Nabi bersabda: “Tahanlah sendawamu dari kami, karena sesungguhnya orang yang paling sering kekenyangan di dunia, kelak pada hari kiamat adalah orang yang paling lama merasakan kelaparan.” HR Tarmidzi 2402, hadits hasan.

 

  1. IFTHAR SEBELUM WAKTUNYA

Boleh untuk shaum sunnah; haram untuk shaum Ramadhan.

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَخَلَ عَلَيْهَا فَدَعَا بِشَرَابٍ فَشَرِبَ ثُمَّ نَاوَلَهَا فَشَرِبَتْ فَقَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ أَمَا إِنِّي كُنْتُ صَائِمَةً فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الصَّائِمُ الْمُتَطَوِّعُ أَمِيرُ نَفْسِهِ إِنْ شَاءَ صَامَ وَإِنْ شَاءَ أَفْطَرَ

Dari Ummu Hani’, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam menemui-nya lalu beliau minta air minum, lalu beliau meminumnya kemudian memberikan sisanya kepadanya hingga ia pun meminumnya. Ummu Hani` lalu berkata, “Wahai Rasulullah, sebenarnya aku sedang bershaum.” Rasulullah kemudian Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Seorang yang bershaum sunnah adalah pemimpin bagi dirinya, jika ia mau maka ia bershaum jika ia mau maka ia boleh berbuka.” HR Ahmad 25658, shahih.

 

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ أَنَّهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَفْضَلُ قَالَ

عَلَيْكَ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَا عِدْلَ لَهُ

Dari Abu Umamah bahwa ia pernah bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Amal apakah yang paling utama?”

Beliau bersabda: “Selalulah kamu bershaum, karena shaum itu tiada bandingannya.” HR Nasa`I 2192, shahih.

[1] Yaitu riwayat Abu Dawud dari Mu’adz bin Zuhrah secara balaghan langsung dari Nabi saw. Jadi sanadnya terputus karena Mu’adz bukan shahabat Nabi saw. Wallahu A’lam.

[2] Dalam SJS dinisbatkan juga kepada Baihaqi dalam Syu’abul Iman, tetapi belum saya temukan dengan lafal ini. Wallahu A’lam.

[3] Syadz: hadits yang diriwayatkan oleh rawi tsiqat tetapi menyelisihi riwayat yang lebih tsiqat, sehingga dinilai dha’if.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here