Home Fiqih Hadits-hadits Shahih Seputar ‘Idul Fithri

Hadits-hadits Shahih Seputar ‘Idul Fithri

5533
0
SHARE

الْحَمْدُ لِلَّهِ نَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

Kajian seputar idul fithri ini dimulai dengan 3 pertanyaan, silakan Anda jawab:

  1. Apakah fadhilah malam ied dan fadhilah zakat fitrah?

  2. Bagaimanakah lafal takbiran yang shahih riwayatnya?

  3. Adakah hari yang lebih utama daripada hari ied?

 

  • MENGHIDUPKAN MALAM IED DENGAN IBADAH

Di saat orang-orang lalai, maka kita dihasung untuk beribadah, berdasarkan 1 hadits shahih dan 1 hadits hasan berikut:

حَدَّثَنِي أُسَامَةُ بْنُ زَيْدٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ لَمْ أَرَكَ تَصُومُ شَهْرًا مِنْ الشُّهُورِ مَا تَصُومُ مِنْ شَعْبَانَ قَالَ ذَلِكَ شَهْرٌ يَغْفُلُ النَّاسُ عَنْهُ بَيْنَ رَجَبٍ وَرَمَضَانَ وَهُوَ شَهْرٌ تُرْفَعُ فِيهِ الْأَعْمَالُ إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ فَأُحِبُّ أَنْ يُرْفَعَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ

Usamah bin Zaid dia berkata; Aku bertanya; “Wahai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, aku tidak pernah melihat engkau bershaum dalam satu bulan sebagaimana engkau bershaum di bulan Sya’ban?” Beliau bersabda: “Itulah bulan yang manusia lalai darinya; ia bulan yang berada di antara bulan Rajab dan Ramadlan, yaitu bulan yang padanya diangkat berbagai amal kepada Rabb semesta alam, maka aku senang amalku diangkat saat sedang bershaum.” HR Nasa`I 2317, shahih.

سَالِمُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ حَدَّثَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ دَخَلَ السُّوقَ فَقَالَ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ يُحْيِي وَيُمِيتُ وَهُوَ حَيٌّ لَا يَمُوتُ بِيَدِهِ الْخَيْرُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كَتَبَ اللَّهُ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ حَسَنَةٍ وَمَحَا عَنْهُ أَلْفَ أَلْفِ سَيِّئَةٍ وَرَفَعَ لَهُ أَلْفَ أَلْفِ دَرَجَةٍ

Salim bin Abdillah bin Umar menceritakan dari ayahnya dari kakeknya bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Barang siapa yang memasuki pasar kemudian mengucapkan; LAA ILAAHA ILLALLAAHU WAHDAHU LAA SYARIIKA LAH, LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU YUHYII WA YUMIITU LAA YAMUUTU BIYADIHIL KHAIRU WA HUWA ‘ALAA KULLI SYAI-IN QADIIR (Tiada tuhan yang berhak disembah kecuali Allâh semata tidak ada sekutu bagiNya, milikNya semua kerajaan dan bagiNya seluruh pujian, Dia Yang menghidupkan, dan mematikan, Dia tidak mati, di TanganNya segala kebaikan, dan Dia Mahamampu melakukan segala sesuatu) maka Allâh mencatat baginya satu juta kebaikan, dan menghapus darinya satu juta kesalahan, serta mengangkat untuknya satu juga derajat.” HR Tarmidzi 3350, hadits hasan.

Adapun fadhilah khusus untuk menghidupkan malam ied, haditsnya dha’if maka tidak dapat dijadikan dalil, yaitu:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَتَيْ الْعِيدَيْنِ مُحْتَسِبًا لِلَّهِ لَمْ يَمُتْ قَلْبُهُ يَوْمَ تَمُوتُ الْقُلُوبُ

Dari Abu Umamah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa menghidupkan (dengan ibadah) pada malam dua hari raya karena mengharap pahala Allâh, maka hatinya tidak akan mati di hari matinya semua hati. ” HR Ibnu Majah 1772, DHA’IF/PALSU.1

  • PENTINGNYA ZAKAT FITHRAH

Terdapat 2 hadits, shahih dan dha’if, yaitu:

زكاة الفطر طهرة للصائم من اللغو و الرفث و طعمة للمساكين ( قط هق )

“Zakat fithrah merupakan penyucian bagi orang shaum dari kesia-siaan dan kemesuman, dan merupakan makanan bagi kaum miskin.” HR Daraquthni dari Ibnu Abbas ra, shahih. (Shahihul Jami’is Shaghir 35702)

شهر رمضان معلق بين السماء و الأرض و لا يرفع إلى الله إلا بزكاة الفطر. (ابن شاهين الضياء )

“Bulan Ramadhan tergantung antara langit dan bumi, dan tidaklah diangkat kepada Alloh kecuali dengan zakat fitrah.” HR Ibnu Syahin dalam Targhibnya & Dhiya` dalam Mukhtarahnya, dari hadits Jarir ra, DHA’IF. (Dha’iful Jami’is Shaghir 3413)

  • LAFAL TAKBIRAN IED

Syaikh al-Amir as-Shan’ani menulis dalam Subulus Salam 2/72:

أما صفته فأصح ما ورد فيه ما رواه عبد الرازق عن سلمان بسند صحيح قال: كبروا الله أكبر الله أكبر، الله أكبر كبيراً

Adapun sifat takbiran, maka riwayat yang paling shahih dalam hal ini adalah riwayat ‘Abdur Razzaq dari Salman dengan sanad yang shahih ia berkata, “Bertakbirlah kalian: Allohu Akbar, Allâhu Akbar, Allâhu Akbar Kabira.”

وقد روي عن سعيد بن جبير ومجاهد وابن أبي ليلى وقول الشافعي وزاد فيه ولله الحمد

Takbir tersebut telah diriwayatkan dari Sa’id bin Jubair, Mujahid, Ibnu Abi Laila, dan itulah pendapat Syafi’I, dan dia menambahkan: Wa lillahil hamdu.

وفي الشرح صفات كثيرة واستحسانات عن عدة من الأئمة، وهو يدل على التوسعة في الأمر وإطلاق الآية يقتضي ذلك.

Dan di dalam Syarah disebutkan beberapa sifat takbir yang bermacam-macam dan beberapa lafal yang dinilai baik oleh beberapa imam, dan hal itu menunjukkan bahwa masalah ini luas, dan memang keumuman lafal ayat (tentang takbir ied) berkonsekwensi seperti itu.

  • MANDI SEBELUM SHALAT IED

Terdapat hadits marfu’ dari Nabi saw, tetapi dha’if, yaitu:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَيَوْمَ الْأَضْحَى

Dari Ibnu Abbas dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mandi pada hari raya iedul Fitri dan iedul Adlha. ” HR Ibnu Majah 1305, DHA’IF.3

Adapun yang shahih, mandi sebelum ied ini diriwayatkan secara mauquf (perbuatan shahabat) bukan marfu’ (perbuatan Nabi saw) yaitu:

أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ كَانَ يَغْتَسِلُ يَوْمَ الْفِطْرِ قَبْلَ أَنْ يَغْدُوَ إِلَى الْمُصَلَّى

Bahwa ‘Abdullah bin ‘Umar mandi pada Hari Raya Idul Fitri sebelum pergi ke tempat shalat Ied.” Malik 384, atsar shahih.

  • MENUJU SHALAT IED DENGAN JALAN KAKI

حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ سَعْدِ بْنِ عَمَّارِ بْنِ سَعْدٍ حَدَّثَنِي أَبِي عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

‘Abdurrahman bin Sa’d bin ‘Ammar bin Sa’d dari Bapaknya dari Kakeknya berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berangkat menuju shalat ied dengan berjalan, demikian juga ketika kembali. ” HR Ibnu Majah 1284, shahih.

  • FADHILAH JALAN KAKI MENUJU IBADAH

حَدَّثَنَا عَبَايَةُ بْنُ رِفَاعَةَ قَالَ أَدْرَكَنِي أَبُو عَبْسٍ وَأَنَا أَذْهَبُ إِلَى الْجُمُعَةِ فَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

‘Abayah bin Rifa’ah berkata, ” Abu ‘Abs berjumpa denganku saat aku sedang berangkat untuk shalat Jum’at, lalu ia berkata, “Aku mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Allâh, maka Allâh mengharamkan orang itu untuk masuk neraka.” HR Bukhari 856.

  • BAJU MERAH SHALAT IED

Terdapat 2 hadits, satu shahih dan satu dha’if, yaitu:

عن بن عباس قال كان رسول الله صلى الله عليه و سلم يلبس يوم العيد بردة حمراء

Dari Ibnu ‘Abbas berkata, “Adalah Rasulullah saw biasa mengenakan di hari ied, sebuah burdah berwarna merah.” HR Thabarani dalam al-Ausath 7/316, dengan isnad jayyid. (as-Shahihah 3/353)

كان يلبس برده الأحمر في العيدين و الجمعة ( هق ) عن جابر ( ضعيف ) 4620 في ضعيف الجامع

Nabi saw biasa memakai burdah merah beliau pada dua hari raya dan hari Jum’at. HR Baihaqi, DHA’IF. (Dha’iful Jami’ 4620)

  • TIADA SERUAN APAPUN SEBELUM SHALAT IED

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ وَعَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيِّ قَالَا لَمْ يَكُنْ يُؤَذَّنُ يَوْمَ الْفِطْرِ وَلَا يَوْمَ الْأَضْحَى ثُمَّ سَأَلْتُهُ بَعْدَ حِينٍ عَنْ ذَلِكَ فَأَخْبَرَنِي قَالَ أَخْبَرَنِي جَابِرُ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيُّ أَنْ لَا أَذَانَ لِلصَّلَاةِ يَوْمَ الْفِطْرِ حِينَ يَخْرُجُ الْإِمَامُ وَلَا بَعْدَ مَا يَخْرُجُ وَلَا إِقَامَةَ وَلَا نِدَاءَ وَلَا شَيْءَ لَا نِدَاءَ يَوْمَئِذٍ وَلَا إِقَامَةَ

Dari Ibnu Abbas dan Jabir bin Abdullah Al Anshari keduanya berkata; “Tidak pernah dikumandangkan adzan pada saat Iedul Fithri dan tidak pula pada saat shalat Iedul Adlha.” Kemudian setelah itu, saya menanyakan hal itu kepadanya, maka ia pun mengabarkan kepadaku, ia berkata; telah menceritakan kepadaku Jabir bin Abdullah Al Anshari bahwasanya; “Tidak ada adzan untuk shalat Iedul Fithri saat Imam keluar, atau setelah keluarnya Imam. Dan tidak ada pula Iqamah, tidak ada seruan, serta tidak ada pula yang lain. Tidak ada seruan (adzan) di hari itu dan tidak pula Iqamah.” HR Muslim 1468.

Adapun seruan “as-shalatu jami’ah”, maka dikumandangkan untuk shalat kusuf (gerhana), bukan shalat ied, berdasarkan hadits:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ لَمَّا كَسَفَتْ الشَّمْسُ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نُودِيَ إِنَّ الصَّلَاةَ جَامِعَةٌ

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr berkata, “Ketika terjadi gerhana matahari (total) pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka panggilannya dengan seruan, ‘Ashshalaatul jaami’ah (Marilah mendirikan shalat secara bersama-sama) ‘.” HR Bukhari 987.

  • KHUTBAH IED TANPA MIMBAR

Imam Bukhari menulis dalam Shahihnya (2/22):

باب الخروج إلى المصلى بغير منبر.

“Bab Keluar ke Lapangan Tempat Shalat Tanpa Mimbar.”

Adapun dalilnya, diriwayatkan secara tegas oleh Imam Ahmad:

عَنْ إِسْمَاعِيلَ بْنِ رَجَاءٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ أَوَّلُ مَنْ أَخْرَجَ الْمِنْبَرَ يَوْمَ الْعِيدِ مَرْوَانُ وَأَوَّلُ مَنْ بَدَأَ بِالْخُطْبَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ يَا مَرْوَانُ خَالَفْتَ السُّنَّةَ أَخْرَجْتَ الْمِنْبَرَ وَلَمْ يَكُ يُخْرَجُ وَبَدَأْتَ بِالْخُطْبَةِ قَبْلَ الصَّلَاةِ. قَالَ أَبُو سَعِيدٍ مَنْ هَذَا قَالُوا فُلَانُ بْنُ فُلَانٍ قَالَ أَمَّا هَذَا فَقَدْ قَضَى مَا عَلَيْهِ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ مَنْ رَأَى مُنْكَرًا فَإِنْ اسْتَطَاعَ أَنْ يُغَيِّرَهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ

Dari Isma’il bin Raja` dari Bapaknya ia berkata; “Pertama kali yang mengeluarkan mimbar pada hari ied dan berkhutbah sebelum shalat adalah Marwan, maka berdirilah seorang laki-laki dan berkata; “Wahai Marwan, engkau telah menyelisihi sunnah, engkau keluarkan mimbar padahal ia belum pernah dikeluarkan sebelumnya, dan engkau juga telah memulai khutbah sebelum shalat!” Abu Sa’id berkata; “Siapa laki-laki ini?” orang-orang berkata; “Fulan bin fulan, ” Abu Sa’id berkata; “Orang ini telah melakukan sesuatu yang pernah aku dengar dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Barangsiapa melihat sebuah kemungkaran, jika mampu hendaklah ia mengubahnya dengan tangan, maka jika ia tidak mampu hendaklah dengan lisan, dan jika tidak mampu hendaklah dengan hati, dan itu adalah selemah-lemah iman.” HR Ahmad 11068, shahih.

  • KHUTBAH IED UNTUK WANITA

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ سَمِعْتُهُ يَقُولُ إِنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَامَ فَبَدَأَ بِالصَّلَاةِ ثُمَّ خَطَبَ النَّاسَ بَعْدُ فَلَمَّا فَرَغَ نَبِيُّ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَزَلَ فَأَتَى النِّسَاءَ فَذَكَّرَهُنَّ وَهُوَ يَتَوَكَّأُ عَلَى يَدِ بِلَالٍ وَبِلَالٌ بَاسِطٌ ثَوْبَهُ يُلْقِي فِيهِ النِّسَاءُ صَدَقَةً قُلْتُ لِعَطَاءٍ أَتَرَى حَقًّا عَلَى الْإِمَامِ الْآنَ أَنْ يَأْتِيَ النِّسَاءَ فَيُذَكِّرَهُنَّ حِينَ يَفْرُغُ قَالَ إِنَّ ذَلِكَ لَحَقٌّ عَلَيْهِمْ وَمَا لَهُمْ أَنْ لَا يَفْعَلُوا

Dari Jabir bin ‘Abdullah ia berkata, aku mendengarnya berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam berdiri dan memulai dengan shalat, kemudian berkhutbah di hadapan manusia setelahnya. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai, beliau mendatangi tempat jama’ah wanita dan menyampaikan peringatan kepada mereka. Beliau bersandar pada tangan Bilal, sementara Bilal sendiri membentangkan kain miliknya di mana para wanita memasukkan sedekahnya ke dalam kain tersebut.” Aku (perawi) bertanya kepada ‘Atha, “Bagaimana menurutmu apakah sekarang masih ada kewajiban Imam mendatangi para wanita untuk memberi peringatan kepada mereka setelah selesai dari khutbah?” ‘Atha menjawab, “Sungguh itu adalah keharusan bagi mereka; mengapa mereka tidak melakukannya!?” HR Bukhari 908.

  • TAHNI`AH (UCAPAN SELAMAT) HARI IED

Tiada hadits marfu’ dari Nabi saw dalam hal ini. Yang ada adalah atsar dari shahabat beliau, yaitu:

في المحامليات بإسناد حسن عن جبير بن نفير قال كان أصحاب رسول الله صلى الله عليه و سلم إذا التقوا يوم العيد يقول بعضهم لبعض تقبل الله منا ومنك.

Dalam al-Muhamiliyyat diriwayatkan dengan sanad hasan dari Jubair bin Nufair berkata, “Para shahabat Rasulullah saw jika bersua di hari ied, sebagian berkata kepada sebagian lainnya: Semoga Alloh menerima dari kami dan dari Anda.” (Fathul Bari 2/446)

  • PULANG DARI SHALAT IED LEWAT JALAN LAIN

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Dari Jabir bin ‘Abdullah radliallahu ‘anhuma, ia berkata, “Jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam shalat ‘Ied, beliau mengambil jalan yang berbeda (antara berangkat dan kembali).” HR Bukhari 933.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا خَرَجَ يَوْمَ الْعِيدِ فِي طَرِيقٍ رَجَعَ فِي غَيْرِهِ

Dari Abu Hurairah dia berkata, adalah Nabi Shallahu ‘alaihi wa sallam bila keluar pada hari raya mengambil satu jalan, dan bila pulang beliau mengambil jalan yang lain.” HR Tarmidzi 496, shahih.

  • SHALAT 2 REKAAT SEPULANG DARI SHALAT IED

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُصَلِّي قَبْلَ الْعِيدِ شَيْئًا فَإِذَا رَجَعَ إِلَى مَنْزِلِهِ صَلَّى رَكْعَتَيْنِ

Dari Abu Sa’id Al-Khudri berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak melaksanakan shalat apapun sebelum shalat ied, dan jika telah sampai di rumahnya beliau shalat 2 raka’at.” HR Ibnu Majah 1283, shahih.

  • BANYAK DZIKIR DI HARI IED

عَنْ نُبَيْشَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّا كُنَّا نَهَيْنَاكُمْ عَنْ لُحُومِهَا أَنْ تَأْكُلُوهَا فَوْقَ ثَلَاثٍ لِكَيْ تَسَعَكُمْ فَقَدْ جَاءَ اللَّهُ بِالسَّعَةِ فَكُلُوا وَادَّخِرُوا وَاتَّجِرُوا أَلَا وَإِنَّ هَذِهِ الْأَيَّامَ أَيَّامُ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَذِكْرِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

Dari Nubaisyah, ia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya dahulu kami telah melarang kalian dari memakan daging kurban di atas tiga hari agar mencukupi kalian. (Sekarang) Allâh telah memberikan keluasan, maka makanlah, simpanlah, serta sedekahkanlah4! Ketahuilah bahwa hari-hari ini adalah hari-hari makan dan minum serta berdzikir kepada Allâh ‘Azza wa Jalla.” HR Abu Dawud 2430, shahih.

  • FADHILAH MEMPERBANYAK DZIKIR

عَنْ كَرِيمَةَ ابْنَةِ الْحَسْحَاسِ الْمُزَنِيَّةِ قَالَتْ حَدَّثَنَا أَبُو هُرَيْرَةَ وَنَحْنُ فِي بَيْتِ هَذِهِ يَعْنِي أُمَّ الدَّرْدَاءِ أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْثُرُ عَنْ رَبِّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنَّهُ قَالَ أَنَا مَعَ عَبْدِي مَا ذَكَرَنِي وَتَحَرَّكَتْ بِي شَفَتَاهُ

Dari Karimah binti Al Hashas Al Muzaniyah bahwa Abu Hurairah menceritakan kepada kami ketika kami berada di rumah ini -yaitu rumah Ummu Darda`-, bahwa ia mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam meriwayatkan dari Rabbnya ‘Azza wa Jalla, Dia berKalam: “Aku senantiasa bersama hamba-Ku selama ia mengingat-Ku, dan kedua bibirnya bergerak untuk berdzikir kepada-Ku.” HR Ahmad 10553, shahih.

* HARI YANG LEBIH UTAMA DARIPADA HARI IED *

عَنْ أَبِي لُبَابَةَ بْنِ عَبْدِ الْمُنْذِرِ قَالَ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ يَوْمَ الْجُمُعَةِ سَيِّدُ الْأَيَّامِ وَأَعْظَمُهَا عِنْدَ اللَّهِ وَهُوَ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ يَوْمِ الْأَضْحَى وَيَوْمِ الْفِطْرِ

Dari Abu Lubabah bin Abdul Mundzir berkata, “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hari jum’at adalah sebaik-baik dan seagung-agung hari. Di hadapan Allâh ia lebih utama dari iedul adlha dan iedul fithri. Pada hari itu ada lima perkara (besar).” HR Ibnu Majah 1074, shahih.

Catatan:

1 Dalam sanadnya terdapat Baqiyah bin Walid, seorang rawi mudallis, dan dia meriwayatkan secara ‘an’anah. * Syaikh Albani menilai hadits ini palsu.

2 Penilaian derajat hadits dinukil dari karya-karya Syaikh al-Albani rahimahullah.

Kaidah ini berlaku untuk semua buku terbitan PKH Surakarta. Walhamdulillah.

3 Dalam sanadnya terdapat Jubarah bin Mughallis & Hajjaj bin Tamim, keduanya dha’if.

4 “Sedekahkanlah” diterjemahkan dari ‘ittajiru’, yang arti asalnya: carilah ajr (pahala); bukan tijarah (juallah) sebagaimana diterjemahkan Lidwa Pustaka. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here