Home Fiqih Hukum Aqiqah Dewasa

Hukum Aqiqah Dewasa

866
0
SHARE

A. Teks Hadits

عَنْ أَنَسٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا بَعَثَهُ اللَّهُ نَبِيًّا.

Terjemah : Dari Anas, “Sesungguhnya Nabi saw. Mengaqiqahi dirinya setelah diutus jadi nabi”.

B. I’tibar Sanad

Hadits di atas dengan jelas menerangkan bahwa Rasulullah saw. Mengaqiqahi dirinya setelah beliau diutus jadi nabi. Apakah keterangan tersebut benar atau tidak maka diperlukan penelusuran terhadap sanad dan matannya. Setelah melakukan penelusuran terhadap kitab-kitab hadits dan syarah ditemukanlah teks hadits lengkap dengan sanadnya di antaranya sebagai berikut :

19750- أَخْبَرَنَا أَبُو الْحَسَنِ : مُحَمَّدُ بْنُ الْحُسَيْنِ بْنِ دَاوُدَ الْعَلَوِىُّ رَحِمَهُ اللَّهُ أَخْبَرَنَا حَاجِبُ بْنُ أَحْمَدَ بْنِ سُفْيَانَ الطُّوسِىُّ حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ حَمَّادٍ الأَبِيوَرْدِىُّ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَرَّرٍ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ أَنَسٍ رَضِىَ اللَّهُ عَنْهُ : أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَ النُّبُوَّةِ. )السنن الكبرى للبيهقي – 9 / 300)

7281- حَدَّثنا سهيل بن إبراهيم الجارودي أَبُو الخطاب ، حَدَّثنا عوف بن مُحَمد المراري ، حَدَّثنا عَبد الله بن المحرر ، عَن قَتادة ، عَن أَنَس ؛ أَن النَّبِيّ صَلَّى الله عَلَيه وَسَلَّم عق عن نفسه بَعْدَ مَا بعث نبيا. )مسند البزار 18 مجلد كاملا – 13 / 478)
1389- حَدَّثَنا ابْنُ إِسْحَاقَ ، حَدَّثَنا سَعِيدُ بْنُ سُلَيْمَانَ ، حَدَّثَنا عَلِيُّ بْنُ هَاشِمٍ ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مُحَرَّرٍ ، عَنْ قَتَادَةَ ، عَنْ أَنَسٍ ، أَنَّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا بَعَثَهُ اللَّهُ نَبِيًّا. )مسند الروياني 307 -1 / 428)

1053 – مَا حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَنْصُورٍ الْبَالِسِيُّ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُثَنَّى بْنِ أَنَسٍ، عَنْ ثُمَامَةَ بْنِ أَنَسٍ، عَنْ أَنَسٍ: ” أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَقَّ عَنْ نَفْسِهِ بَعْدَمَا جَاءَتْهُ النُّبُوَّةُ ” -[79]-

1054 – وَمَا حَدَّثَنَا الْحُسَيْنُ بْنُ نَصْرٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا الْهَيْثَمُ بْنُ جَمِيلٍ، قَالَ: حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ الْمُثَنَّى بْنِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، قَالَ: حَدَّثَنِي رَجُلٌ، مِنْ آلِ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ، ثُمَّ ذَكَرَ مِثْلَهُ . )شرح مشكل الآثار – 3 / 78)

994 – حدثنا أحمد قال حدثنا الهيثم قال حدثنا عبد الله عن ثمامة عن أنس : أن النبي عق عن نفسه بعد ما بعث نبيا (المعجم الأوسط – 1 / 298)
63 – حدثنا عمرو الناقد ، حدثنا الهيثم بن جميل ، حدثنا عبد الله بن المثنى بن أنس ، حدثني ثمامة بن عبد الله بن أنس ، عن أنس بن مالك ، أن النبي صلى الله عليه وسلم « عق عن نفسه بعدما جاءته النبوة »)النفقة على العيال – (1 / 67)

. Untuk lebih jelasnya perhatikan gambaran sanadnya:

Berdasarkan gambaran sanad, secara kwantitas sanad, hadits di atas merupakan hadits Gharib, karena hanya melalui satu jalur sahabat yaitu Anas bin Malik.

Secara kwalitas, para ulama telah berbeda pendapat mengenai keabsahan berita di atas. Sebagaimana tertera dalam skema, ternyata hadits di didapat melalui dua jalur yaitu jalur Qodatah dan jalur Tsumamah.

Jalur Qotadah :

Untuk jalur ini, Imam Nawawi dalam kitabnya syarah muhadzab, begitu juga Ibn Ady, Imam Baehaqy, dan Ibn Hajar telah menilai bahwa hadits di atas adalah bathil, karena di dalam sanadnya ada rawi yang bernama Abdullah ibn Muharrar. Tetapi Dr Abdul Goffar Al Bindary dalam tahqiqnya menerangkan :

ورجاله كلهم ثقات غير عبد الله بن المحرر هذا فهو ضعيف فالحديث بهذه الطرق وإن كان فى بعضها ضعف له أصل وليس بمنكر إذ لم يتفرد به عبpد الله بن المحرر كما قال البزار ، وقد ثبت الحديث من طريق صحيح من رواية الهيثم بن جميل عن عبد الله بن المثنى عن ثمامة عن أنس ” . )العقيقة في الفقه الإسلامي ص: 66(

Jalur Tsumamah

Imam Al Albany dalam kitabnya silsilah hadits shahihah, Imam Diya Al Maqdisy dalam kitabnya Al Ahadits Al Mukhtarah (2:351), Al Haesyamy dalam kitabnya Majma’ Al Jawaid wa manba’ Al fawaid (4:94) telah menerangkan bahwa rawi-rawi Imam Thobrany adalah rawi-rawi Bukhori kecuali Haetsam ibn Jamil tetapi ia ditilai tsiqoh.

Berdasarkan gambaran sanad hadits di atas, baik Imam Thobrany (Mu’jam Ausath), Imam Abu Ja’far At Thohawi (Syarah Musykilul Atsar), dan Ibn Abi Dunya (An Nafaqoh alal ‘iyal) mereka sama-sama menerima hadits dari Anas bin Malik, Tsumamah, Abdullah bin Mutsanna, dan Haetsam bin Jamil, yang berbeda adalah guru masing-masing.

Riwayat Imam Thobrany
1. Abu Abdillah Ahmad ibn Mas’ud Al Maqdisy Al Khoyyat (w 280 H) adalah seorang muhaddits dan Imam, Guru At Thobrany. Ia meriwayatkan hadits di antaranya dari Haetsam bin Jamil Al Anthoky. Imam At Thobrany bertemu dengannya di Baetul Muqaddas tahun 274 H. (Siyar A’lam An Nubala : 13/244; Tarikh Islam: 6: 501).

2. Al Haetsam bin Jamil, beliau adalah Al Haetsam bin Jamil Al Baghdady, Abu Sahl Al Hafid (w 213 H) termasuk tabi’ut tabi’in. Yang meriwayatkan darinya adalah Bukhori (dalam adabul mufrod), Abu Dawud, Nasa’I (dalam Musnad Ali), dan Ibn Majah. Ibnu Hajar menilainya sebagai tsiqotun min ashabil hadits. Ad Dzahaby menyebutnya sebagai Al Hafid, hujjatun sholihun.

3. Abdullah ibn Al Mutsanna, adalah Abdullah ibn Al Mutsanna ibn Abdullah bin Anas ibn Malik Al Anshary tinggal di Basrah. Termasuk orang yang semasa dengan tabi’in kecil. Yang meriwayatkan darinya adalah Bukhori, Tirmidzi, Ibn Majah). Mengenai Abdullah ibn Al Mutsanna ini terdapat Jarh dan Ta’dil. Ibn Hajar menilainya sebagai orang yang jujur tetapi sering keliru, Abu Hatim menilainya shalih, Abu Dawud mengatakan : saya tidak mengambil haditsnya. Dan lain ada yang memujinya dan ada pula yang mencelanya (lihat Tahdzibul Kamal, Tahdzibut Tahdzib: 5/388).

4. Tsumamah, adalah Tsumamah bin Abdullah bin Anas bin Malik Al Anshary tinggal di Basrah, seorang Tabi’in pertengahan. Yang meriwayatkan darinya adalah Bukhori, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Nasa’I, dan Ibn Majah. Ibn Hajar menilainya shoduq, sedangkan menurut Ad Dzahaby adalah tsiqoh. Begitu pula menurut Al ‘Ijly (Tahdzibut Tahdzib: 2/29).

Dilihat dari silsilah nasab, Tsumamah merupakan cucu dari sahabat Anas bin Malik dan paman dari Abdullah ibn Al Mutsanna.

Riwayat Ibn Abi Dunya :
1. Amr An Naqid, adalah Amr bin Muhammad bin Bakir bin Sabur An Naqid, Abu Utsman (w. 232 di Bagdad). Ia mengambil hadits dari tabi’ut tabi’in. Ia termasuk rawi dari Bukhori, Muslim, Abu Dawud, dan Nasa’i. Ibn Hajar menilainya tsiqoh, hafidz namun wahm dalam meriwayatkan hadits. Ad Dzahabi memasukkannya pada tingkatan Al Hafiz. Abu Hatim Ar Razi menilainya sebagai orang kepercayaan, amanah, dan jujur. (lihat pula Tahdzibut Tahdzib: 8/97).

Riwayat Abu Ja’far Athohawy :
1. Al Husaen bin Nashr, adalah Ibn Mu’arik Abu Ali Al Husein bin Nashr Al Baghdady, seorang hafidz yang kuat, menantu Al Hafid Ahmad bin Sholih. Ibnu Abi Hatim menilainya sebagai orang yang jujur (Al Jarh wat Ta’dil: 3/66).

2. Al Hasan, Adalah Al Hasan bin Abdullah bin Manshur, Abu Ali Al Anthoky Al Balisiy (w antara 251-260 H). Meriwayatkan dari Al Haetsam bin Jamil dan Muhammad bin Katsir Ashon’any. (Tarikh Islam: 6/65).

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here