Home Aqidah Hukum Mengucapkan Selamat Natal – Selamat Natal = Selamat Atas Sembah Salib...

Hukum Mengucapkan Selamat Natal – Selamat Natal = Selamat Atas Sembah Salib = Selamat Atas Kekufuran

433
0
SHARE

📌Al-‘Allaamah Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menerangkan:

وأما التهنئة بشعائر الكفر المختصة به فحرام بالاتفاق مثل أن يهنئهم بأعيادهم وصومهم فيقول عيد مبارك عليك أو تهنأ بهذا العيد ونحوه فهذا إن سلم قائله من الكفر فهو من المحرمات وهو بمنزلة أن يهنئه بسجوده للصليب بل ذلك أعظم إثما عند الله وأشد مقتا من التهنئة بشرب الخمر وقتل النفس وارتكاب الفرج الحرام ونحوه

“Adapun tahni’ah (ungkapan selamat) atas syi’ar-syi’ar orang kafir yang menjadi kekhususan mereka hukumnya haram dengan kesepakatan para Ulama (tidak ada perselisihan pendapat). Seperti mengucapkan selamat atas hari-hari raya mereka atau puasa mereka. Umpamanya dengan mengatakan “Hari yang berkah atasmu” atau “Selamat hari raya” atau yang semisalnya. Maka sekalipun orang yang mengucapkannya itu selamat dari kekufuran, namun sungguh ia telah terjerumus dalam perbuatan yang diharamkan. Dan ini sama halnya dengan memberikan ucapan selamat terhadap sujudnya mereka kepada salib, bahkan hal tersebut lebih besar lagi dosanya di sisi Allah dan lebih dahsyat kemurkaan-Nya dari memberikan ucapan selamat atas perbuatan meminum khamr, membunuh orang, atau berzina dan yang semisalnya.” (Ahkaamu Ahlidz Dzimmah 1/205)

⚠KERANCUAN MEMAHAMI AYAT

☝Sebagian orang yang berpenyakit hatinya terus berusaha mencari-cari cara bagaimana mengesankan yang halal itu haram, dan yang haram itu halal, yang tauhid itu syirik dan yang syirik itu tauhid, yang iman itu kufur dan kufur itu adalah keimanan. Mereka memaksa-maksa diri mencatut ayat dan menafsirkannya sesuai selera hawa nafsunya. Sehingga ucapan “selamat natal” pun ditolerir dengan dalih ayat berikut:

وَالسَّلَامُ عَلَيَّ يَوْمَ وُلِدْتُ وَيَوْمَ أَمُوتُ وَيَوْمَ أُبْعَثُ حَيًّا

“Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku, pada hari wafatku, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali.” (Maryam: 33)

Kalimat “Was salaam (dan kesejahteraan) semoga dilimpahkan kepadaku pada hari kelahiranku…” mereka terjemahkan “Selamat natal (kelahiran) Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.” Itulah syubhat (kerancuan) yang disuarakan oleh tokoh-tokoh pluralis, dan syubhat mereka akan terjawab manakala kita merujuk kepada para Ulama dari kalangan Salafusshaalih dalam memahami ayat-ayat Qur’an. Sebab Salafusshaalih adalah pihak yang paling dikenal keistiqamahannya dalam merujuk kepada cara beragama Nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wasallam dan para shahabatnya.

Al-Imam Ibnu Jariir At-Thabari (Wafat 310 H) berkata:

والأمنة من الله عليّ من الشيطان وجنده يوم ولدت

“(Maknanya) dan penjagaan Allah terhadapku (Nabi ‘Isa) dari Syaithan dan tentaranya ketika aku dilahirkan.” (Jaami’ul Bayaan fi Ta’wiilil Qur’aan 18/193)

Al-Imam Al-Baghawi As-Syaafi’i (Wafat 510 H):

السلامة عند الولادة من طعن الشيطان

“Keselamatan dari celaan syaithan pada saat kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihissalam.” (Ma’aalimut Tanzil 5/230)

Al-Haafidzh Ibnu Katsiir As-Syaafi’i (Wafat 774 H):

ولكن له السلامة في هذه الأحوال

“Akan tetapi, Allah selamatkan Nabi ‘Isa pada saat-saat tersebut (dilahirkan, diwafatkan, dibangkitkan).” (Tafsiirul Qur’aanil ‘Adzhiim 5/230)

☝Dan masih banyak lagi keterangan para Ulama Mufassiriin lainnya yang menerangkan bahwa makna ayat tersebut sebagai penjagaan Allah terhadap Nabi ‘Isa, sama sekali tidak menunjukkan bolehnya mengucapkan “selamat natal”. Dan para Ulama telah mencapai kata sepakat atas haramnya ucapan tersebut. Maka jika mengucapkan selamat hari raya orang kafir saja dilarang, lantas bagaimana jika sampai mengikuti hari raya mereka? Tentu lebih berat lagi pelanggarannya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here