Home Fiqih Hukum Shalat Sunnah Selepas Shubuh dan Asar

Hukum Shalat Sunnah Selepas Shubuh dan Asar

583
0
SHARE

PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA`[1]

  1. Mayoritas ulama`: Shalat sunnah selepas shubuh dan ashar hukumnya makruh, selain shalat sunnah thawaf.
  2. Mazhab zhahiriyah: Boleh shalat sunnah selepas shubuh dan ashar, karena hadits-hadits yang melarang adalah mansukh.
  3. Imam Syafi’i: Shalat sunnah muthlaq dilarang selepas shubuh dan ashar, namun shalat sunnah dzawatul asbab dibolehkan.

 

Shalat sunnah muthlaq adalah: shalat sunnah tanpa sebab.

Shalat sunnah dzawatul asbab adalah: shalat sunnah yang mempunyai sebab. Sebab ini terbagi dua: sebab sebelum shalat, dan sebab selepas shalat.

 

Sebab sebelum shalat misalnya: syukrul wudhu, tahiyatul masjid, dsb. Sebab selepas shalat misalnya: istikharah, safar, dsb. Sebab yang menjadikan boleh shalat sunnah di waktu-waktu terlarang adalah sebab yang terjadi sebelum shalat sunnah tersebut. Demikian madzhab Syafi’i.

 

DALIL-DALIL LARANGAN SHALAT SELEPAS SHUBUH & ASHAR

عُقْبَة بْن عَامِرٍ الْجُهَنِىّ يَقُولُ ثَلاَثُ سَاعَاتٍ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَنْهَانَا أَنْ نُصَلِّىَ فِيهِنَّ أَوْ أَنْ نَقْبُرَ فِيهِنَّ مَوْتَانَا حِينَ تَطْلُعُ الشَّمْسُ بَازِغَةً حَتَّى تَرْتَفِعَ وَحِينَ يَقُومُ قَائِمُ الظَّهِيرَةِ حَتَّى تَمِيلَ الشَّمْسُ وَحِينَ تَضَيَّفُ الشَّمْسُ لِلْغُرُوبِ حَتَّى تَغْرُبَ.

‘Oqbah bin ‘Amir al-Johani berkata, “Ada 3 waktu yang Rasulullah saw dulu melarang kami untuk shalat atau mengubur jenazah padanya, yaitu: 1) Ketika mentari terbit, hingga meninggi. 2) Ketika qa`imuzzhahirah (tengah siang) hingga mentari tergelincir. 3) Ketika mentari doyong akan terbenam, hingga terbenam. HR Muslim 1966.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم نَهَى عَنْ بَيْعَتَيْنِ وَعَنْ لِبْسَتَيْنِ وَعَنْ صَلاَتَيْنِ نَهَى عَنِ الصَّلاَةِ بَعْدَ الْفَجْرِ حَتَّى تَطْلُعَ الشَّمْسُ وَبَعْدَ الْعَصْرِ حَتَّى تَغْرُبَ الشَّمْسُ

Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw melarang 2 jual beli, 2 cara berpakaian, dan 2 shalat; yaitu beliau melarang shalat selepas shubuh hingga terbit mentari, dan selepas ashar hingga mentari terbenam. HR Bukhari 584.

Lafal “terbit mentari” maksudnya terbit secara sempurna, berdasarkan lafal lain: بَعْدَ الْفَجْرِ حَتَّى تَرْتَفِعَ الشَّمْسُ

“selepas shubuh hingga mentari meninggi.” HR Bukhari 5819.

ابْنُ عُمَرَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : لاَ تَحَرَّوْا بِصَلاَتِكُمْ طُلُوعَ الشَّمْسِ ، وَلاَ غُرُوبَهَا.

Ibnu ‘Umar ra dari Rasulullah saw bersabda, “Janganlah kalian menepat-nepatkan shalat kalian dengan terbitnya mentari atau terbenamnya.” HR Bukhari 582.

 

BOLEH SHALAT SUNNAH SELEPAS SHUBUH KARENA SEBAB

 

Shalat-shalat sunnah dzawatul asbab antara lain:

  1. Shalat Sunnah Thawaf
  2. Shalat Qadha` Sunnah Fajr
  3. Shalat Qadha` Lupa
  4. Shalat Tahiyyatul Masjid

 

  • Penjabaran Dalil:

 Shalat Sunnah Thawaf

عَنْ جُبَيْرِ بْنِ مُطْعِمٍ ، قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : يَا بَنِي عَبْدِ مَنَافٍ , لاَ تَمْنَعُوا أَحَدًا طَافَ بِهَذَا الْبَيْتِ وَصَلَّى أَيَّةَ سَاعَةٍ شَاءَ مِنَ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ.

Jubair bin Muth’im dari Rasulullah saw bersabda, “Hai Bani ‘Abdumanaf, janganlah kalian cegah seorang pun melakukan thawaf di Ka’bah ini dan shalat kapan saja dia mau, baik siang maupun malam.” HR Tarmidzi, Nasa`i, dan ini lafal Ibnu Majah 1254, shahih.

 

  1. Shalat Qadha` Sunnah Fajr

عَنْ قَيْسِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : رَأَى رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم رَجُلاً يُصَلِّي بَعْدَ الصبح رَكْعَتَيْنِ ، فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : صَلاَةُ الصُّبْحِ رَكْعَتَانِ ، فَقَالَ الرَّجُلُ : إِنِّي لَمْ أَكُنْ صَلَّيْتُ الرَّكْعَتَيْنِ اللَّتَيْنِ قَبْلَهُمَا ، فَصَلَّيْتُهُمَا الآنَ ، فَسَكَتَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم

Qais bin ‘Amr bertutur, “Rasulullah saw melihat seorang lelaki hendak shalat 2 rekaat selepas shubuh, maka beliau menegurnya: Shalat shubuh hanya 2 rekaat. Lelaki itu menjawab, “Sungguh aku tadi belum (sempat) shalat 2 rekaat sebelum shubuh, maka aku menggantinya sekarang.” Rasulullah saw pun diam. HR Abu Dawud 1267, shahih.

Diamnya Rasulullah saw menunjukkan ridha beliau, sebab tidak mungkin beliau mendiamkan makshiat.

 

  1. Shalat Qadha` Lupa

عَنْ أَنَسٍ ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ : مَنْ نَسِيَ صَلاَةً فَلْيُصَلِّ إِذَا ذَكَرَهَا لاَ كَفَّارَةَ لَهَا إِلاَّ ذَلِكَ {وَأَقِمِ الصَّلاَةَ لِذِكْرِي}.

Anas dari Nabi saw bersabda, “Siapapun lupa dari suatu shalat, hendaklah dia melakukannya saat mengingatnya; tiada kaffarah baginya selain itu. (Alloh menegaskan): Dan tegakkanlah shalat karena ingat Aku.” HR Bukhari 597.

Lafal “saat mengingatnya” adalah umum, maka mencakup juga waktu selepas shubuh dan ashar.

  1. Shalat Tahiyyatul Masjid

 عَنْ أَبِي قَتَادَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلْيَرْكَعْ رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ أَنْ يَجْلِسَ

Dari Abu Qatadah as-Salami bahwa Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang dari kalian masuk masjid, hendaklah shalat 2 rekaat sebelum duduk.” HR Bukhari 444.

 

عَنْ عَمْرِو بْنِ سُلَيْمٍ الزُّرَقِيِّ سَمِعَ أَبَا قَتَادَةَ بْنَ رِبْعِيٍّ الأَنْصَارِيَّ ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : قَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ.

Dari ‘Amr bin Sulaim az-Zuraqi, mendengar Abu Qatadah bin Rib’I al-Anshari ra, dari Rasulullah saw bersabda, “Jika seseorang dari kalian masuk masjid, janganlah duduk hingga shalat 2 rekaat.” HR Bukhari 1167.

 

Lafal “Jika masuk masjid” adalah umum, maka mencakup juga waktu selepas shubuh dan ashar.

 

 

SHALAT SUNNAH SELEPAS ASHAR SEBELUM MENTARI MERAH

 عن علي عن النبي صلى الله عليه و سلم قال : لا تصلوا بعد العصر إلا أن تصلوا والشمس مرتفعة

Dari ‘Ali dari Nabi saw bersabda, “Janganlah kalian shalat selepas ashar, kecuali jika kalian shalat sementara mentari masih meninggi.” HR Abu Ya’la 411; Husain Asad Salim berkomentar: Sanadnya shahih. Syaikh Albani berkomentar: Isnadnya shahih. (as-Shahihah 1/313)

Mengomentari hadits ini Syaikh Albani menulis:

و في هذين الحديثين دليل على أن ما اشتهر في كتب الفقه من المنع عن الصلاة بعد العصر مطلقا و لو كانت الشمس مرتفعة نقية مخالف لصريح هذين الحديثين و حجتهم في ذلك الأحاديث المعروفة في النهي عن الصلاة بعد العصر ، مطلقا ، غير أن الحديثين المذكورين يقيدان تلك الأحاديث فاعلمه .

Dalam kedua hadits ini terdapat dalil bahwa apa yang tenar dalam kitab-kitab fiqh yaitu larangan shalat setelah ashar secara muthlak meskipun mentari masih meninggi dan jernih, adalah menyelisihi kejelasan kedua hadits ini. Hujjah mereka adalah hadits-hadits yang terkenal seputar larangan shalat selepas ashar secara mutlak, hanya saja kedua hadits tersebut membatasi kemutlakan hadits-hadits tersebut. Maka pahamilah hal ini. (Silsilah Shahihah 1/313)

 

 

RASULULLAH SAW BIASA SHALAT SUNNAH SELEPAS ASHAR

 

Imam Muslim menyebutkan 3 hadits secara berturut-turut:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ مَا تَرَكَ رَسُولُ اللَّهِ رَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ عِنْدِى قَطُّ

‘Aisyah berkata, “Tidaklah Rasulullah saw meninggalkan 2 rekaat selepas ashar sama sekali di rumahku.” HR Muslim 1972.

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ صَلاَتَانِ مَا تَرَكَهُمَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى بَيْتِى قَطُّ سِرًّا وَلاَ عَلاَنِيَةً رَكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْفَجْرِ وَرَكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ.

‘Aisyah berkata, “Dua shalat yang sama sekali tidak ditinggalkan Rasulullah saw di dalam rumahku, secara sembunyi atau terang-terangan, yaitu 2 rekaat sebelum shubuh dan 2 rekaat selepas ashar.” HR Muslim 1973.

عَنِ الأَسْوَدِ وَمَسْرُوقٍ قَالاَ نَشْهَدُ عَلَى عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا كَانَ يَوْمُهُ الَّذِى كَانَ يَكُونُ عِنْدِى إِلاَّ صَلاَّهُمَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى بَيْتِى. تَعْنِى الرَّكْعَتَيْنِ بَعْدَ الْعَصْرِ.

Aswad dan Masruq berkata, “Kami bersaksi atas ‘Aisyah bahwa dia berkata: Tiada hari di mana Rasulullah saw bersamaku, melainkan beliau selalu shalat 2 rekaat selepas ashar di rumahku.” HR Muslim 1974.

 

 

SHALAT SELEPAS ASHAR BUKAN KEKHUSUSAN RASULULLAH

 

Pendapat bahwa hal itu khusus bagi Nabi saw, berdasarkan hadits dha’if, maka tidak dapat dijadikan pedoman, yaitu:

عن أم سلمة قالت : صلى رسول الله صلى الله عليه و سلم العصر ثم دخل بيتي فصلى ركعتين فقلت يا رسول الله صليت صلاة لم تكن تصليها فقال قدم على مال فشغلني عن الركعتين كنت أركعهما بعد الظهر فصليتهما الآن فقلت يا رسول الله أفنقضيهما إذا فاتتا قال لا

Umi Salamah ra. berkata, “Rasulullah saw shalat ashar, kemudian masuk rumahku lalu shalat 2 rekaat, maka kutegur: Wahai Rasulullah, Anda melakukan shalat yang belum pernah Anda lakukan sebelumnya. Maka beliau menjawab, “Ada harta yang dikirim kepadaku hingga aku tersibukkan (untuk membaginya) dari 2 rekaat selepas zhuhur, maka akupun menggantinya sekarang.” Aku bertanya, “Apakah kami juga menggantinya (selepas ashar) jika terlewati?” Beliau jawab, “Tidak.” HR Ahmad, dha’if[2].

 

Syaikh Hamid al-Faqqi mengomentari hadits ini menulis: “Hadits ini merupakan dalil bahwa mengganti shalat pada waktu selepas ashar termasuk khushushiyyah Rasulullah saw.”

Namun karena hadits ini dha’if, maka tidak dapat dijadikan dalil hukum. Lafal “Apakah kami juga menggantinya jika terlewati?” Dijawab, “Tidak.” adalah ziyadah (tambahan) yang lemah, karena Yazid bin Harun meriwayatkannya sendiri di antara para rawi dari Hammad bin Salamah. Riwayat Hudbah bin Khalid (al-Ahad wal Matsani 3084) dan riwayat Hajjaj bin Minhal (Mu’jam Kabir 23/501) tidak menyebutkan ziyadah ini. [Lihat: Takhrij Musnad Ahmad oleh Syaikh Arna`uth dkk]

 

MENINGGALKAN SHALAT DI WAKTU TERLARANG: BERPAHALA

عَنْ أَبِي قَتَادَةَ ، وَأَبِي الدَّهْمَاءِ ، قَالاَ : أَتَيْنَا عَلَى رَجُلٍ مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ ، فَقَالَ الْبَدَوِيُّ : أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَجَعَلَ يُعَلِّمُنِي مِمَّا عَلَّمَهُ اللَّهُ وَقَالَ : إِنَّكَ لَنْ تَدَعَ شَيْئًا اتِّقَاءَ اللهِ إِلاَّ أَعْطَاكَ اللَّهُ خَيْرًا مِنْهُ.

Abu Qatadah dan Abu Dahma` berkata, “Kami mendatangi seorang lelaki dari padang pasir, lalu dia berkisah: Rasulullah saw memegang tanganku lalu mengajariku sebagian yang telah diajarkan Alloh kepada beliau, dan beliau berpesan, “Sungguh Anda jika meninggalkan sesuatu karena bertaqwa kepada Alloh, pasti Alloh memberimu hal yang lebih baik darinya.” HR Ahmad 20739, shahih.

 

[Alhamdulillah, selesai diketik pada: Rajab Mudhar 1433 H/Mei 2012 di Maktabah Âli Abi ‘Abdillah]

 

 DAFTAR ISI

 PERBEDAAN PENDAPAT ULAMA`

    • Mayoritas ulama`: makruh
    • Mazhab zhahiriyah: Boleh
    • Imam Syafi’i: dzawatul asbab dibolehkan
  1. DALIL-DALIL LARANGAN SHALAT SELEPAS SHUBUH & ASHAR
  2. BOLEH SHALAT SUNNAH SELEPAS SHUBUH KARENA SEBAB
    • Shalat Sunnah Thawaf
    • Shalat Qadha` Sunnah Fajr
    • Shalat Qadha` Lupa
    • Shalat Tahiyyatul Masjid
  3. SHALAT SELEPAS ASHAR SEBELUM MENTARI MERAH
  4. RASULULLAH SAW BIASA SHALAT SUNNAH SELEPAS ASHAR
  5. SHALAT SELEPAS ASHAR BUKAN KEKHUSUSAN RASULULLAH
  6. MENINGGALKAN SHALAT DI SAAT TERLARANG: BERPAHALA

 

والله تعالى أعلم. وعلمه أتم. والحمد لله على ما علّم.

 

أموت ويبقى جميع ما قد كتبته * فيا ليت من يقرأ كتابي دعا ليا

لعلّ الله أن يمنّ عليّ بلطفه * ويرحم تقصيري وسوء فعاليا

 [ Diterbitkan oleh: Pusat Kajian Hadits HQA (Hamalatul Qur’an wal Atsar) Solo ]

 

Catatan:

[1] Lihat: Taisirul ‘Allam syarh ‘Umdatul Ahkam karya Syaikh Bassam.

[2] Hadits ini dinilai hasan oleh Syaikh Ibnul Baz dalam al-Fath (2/65), namun fatwa beliau ditolak oleh muhaqqiq Bulughul Maram.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here