Home Fiqih Maksiat 2011 – Sehari-hari Tanpa Disadari

Maksiat 2011 – Sehari-hari Tanpa Disadari

720
0
SHARE

Oleh: Abu Maktabah Harits al-Qasim.

Ta’liq : AZ [ibnul_jauzi@yahoo.com]

بارك الله في أوقاتهما وعلمهما وفيما أعطاهما الله تعالى آمين

MUQODDIMAH

Alloh Swt mewasiatkan :

وَلَيَنْصُرَنَّ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ إِنَّ اللَّهَ لَقَوِيٌّ عَزِيزٌ. الَّذِينَ إِنْ مَكَّنَّاهُمْ فِي الْأَرْضِ أَقَامُوا الصَّلَاةَ وَآتَوُا الزَّكَاةَ وَأَمَرُوا بِالْمَعْرُوفِ وَنَهَوْا عَنِ الْمُنْكَرِ وَلِلَّهِ عَاقِبَةُ الْأُمُورِ )الحج : 41(

“… Sungguh Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar 1; dan kepada Allah-lah kembali segala urusan.” (Lihat al-Hajj ayat 40-41)

MENGAPA DITULIS KUTAIB INI ?

Rasulullah saw menasihatkan:

إِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلْخَيْرِ ، مَغَالِيقَ لِلشَّرِّ ، وَإِنَّ مِنَ النَّاسِ مَفَاتِيحَ لِلشَّرِّ , مَغَالِيقَ لِلْخَيْرِ ، فَطُوبَى لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الْخَيْرِ عَلَى يَدَيْهِ ، وَوَيْلٌ لِمَنْ جَعَلَ اللَّهُ مَفَاتِيحَ الشَّرِّ عَلَى يَدَيْهِ.

Sungguh di antara manusia ada para kunci pembuka bagi segala kebaikan dan penutup segala keburukan. Dan sungguh di antara manusia ada orang-orang pembuka bagi keburukan dan penutup bagi kebaikan. Maka beruntunglah bagi siapapun yang Alloh letakkan kunci pembuka kebaikan pada kedua tangannya, dan celakalah bagi siapapun yang Alloh letakkan kunci-kunci pembuka kejahatan pada kedua tangannya.” HR Ibnu Majah 237; shahih.

KAKI WANITA AURAT

Wanita ber-KTP muslimah banyak. Non jilbab lebih banyak daripada yang berjilbab. Berjilbab asal-asalan lebih banyak daripada yang berjilbab beneran. Yang menutup seluruh aurat sangat sangat lebih sedikit daripada mereka semua.

Sungguh, telapak kaki muslimah termasuk aurat yang terlupakan. Aurat wajib ditutupi. Tidak boleh terlihat oleh non mahram. Ketiak adalah aurat, maka wajib ditutupi. Telapak kaki juga aurat, maka wajib juga ditutupi.

Alloh Swt menegur keras:

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ )البقرة : 85(

Apakah kalian beriman kepada sebagian dari al-Kitab dan mengkufuri sebagian yang lain?!”

Tentang kaki wanita, hadits shahih menegaskan :

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا ، أَنَّ أَسْمَاءَ بِنْتَ أَبِي بَكْرٍ ، دَخَلَتْ عَلَى رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم وَعَلَيْهَا ثِيَابٌ رِقَاقٌ ، فَأَعْرَضَ عَنْهَا رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم ، وَقَالَ : يَا أَسْمَاءُ ، إِنَّ الْمَرْأَةَ إِذَا بَلَغَتِ الْمَحِيضَ لَمْ تَصْلُحْ أَنْ يُرَى مِنْهَا إِلاَّ هَذَا وَهَذَا وَأَشَارَ إِلَى وَجْهِهِ وَكَفَّيْهِ.

Dari ‘Aisyah ra bahwa Asma` binti Abu Bakr 2 ra masuk ke rumah Rasulullah saw, sementara dia memakai gaun yang tipis. Maka Rasulullah saw berpaling darinya dan bersabda, “Wahai Asma`, sungguh wanita itu bila telah mencapai usia baligh, tidaklah pantas (maksudnya: haram) terlihat darinya selain ini dan ini”. Beliau menunjuk ke arah muka dan telapak tangan beliau. HR Abu Dawud 4104; hadits hasan lighairihi 3.

Artinya, telapak kaki termasuk yang harus ditutupi; tidak pantas alias haram terlihat atau diperlihatkan kepada selain mahram. Inilah hidayah dari Nabi saw. Alloh Swt berpesan:

وَإِنْ تُطِيعُوهُ تَهْتَدُوا وَمَا عَلَى الرَّسُولِ إِلَّا الْبَلَاغُ الْمُبِينُ )النور : 54(

Jika kalian mentaati beliau, niscaya kalian mendapat hidayah4 . Dan tiada kewajiban atas Rasul itu selian penyampaian yang nyata.” Alhamdulillah, wallahu A’lam.

BERPAKAIAN BUGIL

Banyak wanita merasa berpakaian. Padahal mereka adalah para bugil. Imam Ghazali menegaskan, tingkatan terendah orang botol (bodoh tolol) adalah mereka yang tolol namun tidak menyadari bahwa dirinya tolol. ‘iyadzan billah. Siapakah mereka?

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِنْفَانِ مِنْ أَهْلِ النَّارِ لَمْ أَرَهُمَا قَوْمٌ مَعَهُمْ سِيَاطٌ كَأَذْنَابِ الْبَقَرِ يَضْرِبُونَ بِهَا النَّاسَ وَنِسَاءٌ كَاسِيَاتٌ عَارِيَاتٌ مُمِيلَاتٌ مَائِلَاتٌ رُءُوسُهُنَّ كَأَسْنِمَةِ الْبُخْتِ الْمَائِلَةِ لَا يَدْخُلْنَ الْجَنَّةَ وَلَا يَجِدْنَ رِيحَهَا وَإِنَّ رِيحَهَا لَيُوجَدُ مِنْ مَسِيرَةِ كَذَا وَكَذَا

Dari Abu Hurairah dia berkata; Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Ada dua golongan penduduk neraka yang keduanya belum pernah aku lihat:

(1) Kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi, yang dipergunakannya untuk memukul orang.

(2) Wanita-wanita berpakaian, tetapi sama saja dengan bugil telanjang (karena pakaiannya terlalu minim, terlalu tipis atau tembus pandang, terlalu ketat, atau pakaian yang merangsang pria karena sebagian auratnya terbuka –pent.), berjalan dengan berlenggok-lenggok, mudah dirayu atau suka merayu, rambut mereka (disasak) bagaikan punuk unta. Wanita-wanita tersebut tidak dapat masuk surga, bahkan tidak dapat mencium bau surga. Padahal bau surga itu dapat tercium dari jarak sekian dan sekian.” HR Muslim 3971.

JABAT TANGAN TUSUK JARUM

Jabat tangan tanda persahabatan. Namun siapa sangka ternyata jabat tangan bisa berakibat kepala bocor deras keluar darah.

مَعْقِلُ بن يَسَارٍ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ:”لأَنْ يُطْعَنَ فِي رَأْسِ رَجُلٍ بِمِخْيَطٍ مِنْ حَدِيدٍ خَيْرٌ لَهُ مِنْ أَنْ يَمَسَّ امْرَأَةً لا تَحِلُّ لَهُ“.

Ma’qil bin Yasar dari Rasululllah saw bersabda, “Sungguh! Bahwa seorang lelaki ditusuk kepalanya dengan suatu jarum besi, lebih baik baginya daripada ia menyentuh seorang wanita yang tidak halal baginya.” HR Thabarani 16881; hadits hasan.

MAKAN ALA TUYUL

Setan tuyul adalah musuh bebuyutan manusia. Alloh Swt berpesan dalam Al-Qur’an, “Maka jadikanlah dia (setan) sebagai musuh!” 5 Artinya, jangan dijadikan sebagai teman. Meniru gaya hidup tuyul termasuk berteman dengan tuyul. Seorang kyai sekalipun, jika ia meniru sunnah tuyul, maka dia adalah kyai tuyuli.

عَنْ سَالِمٍ عَنْ أَبِيهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَأْكُلَنَّ أَحَدٌ مِنْكُمْ بِشِمَالِهِ وَلَا يَشْرَبَنَّ بِهَا فَإِنَّ الشَّيْطَانَ يَأْكُلُ بِشِمَالِهِ وَيَشْرَبُ بِهَا. (وَكَانَ نَافِعٌ يَزِيدُ فِيهَا وَلَا يَأْخُذُ بِهَا وَلَا يُعْطِي بِهَا وَفِي رِوَايَةِ أَبِي الطَّاهِرِ لَا يَأْكُلَنَّ أَحَدُكُمْ)

Dari Salim dari Bapaknya (Ibnu ‘Umar ra.), bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah sekali-kali6 seseorang di antara kalian makan dan minum dengan tangan kiri, karena setan makan dengan tangan kiri dan minum dengan tangan kiri pula. (Nafi’ menambahkan; ‘Dan jangan pula mengambil dan memberi dengan tangan kiri.’) HR Muslim 3765.

TENGKURAP KHAS JAHANNAM

Tengkurap alias telungkup memang nyaman. Tetapi di balik kenyamanan ada jahannam menurut riwayat berikut:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ قَالَ مَرَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى رَجُلٍ نَائِمٍ فِي الْمَسْجِدِ مُنْبَطِحٍ عَلَى وَجْهِهِ فَضَرَبَهُ بِرِجْلِهِ وَقَالَ قُمْ وَاقْعُدْ فَإِنَّهَا نَوْمَةٌ جَهَنَّمِيَّةٌ

Dari Abu Umamah dia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pernah melewati seseorang yang sedang tidur dengan menelungkupkan wajahnya di masjid, maka beliau mendorong dengan kakinya sambil bersabda: “Bangun dan duduklah, sesungguhnya itu adalah cara tidurnya penghuni Jahannam“. HR Ibnu Majah 3715; dha’if.

Hadits ini dha’if dengan lafal di atas, namun shahih dengan lafal di bawah ini:

عَنْ طَخْفَةَ بْنِ قَيْسٍ الْغِفَارِيِّ قَالَ فَبَيْنَمَا أَنَا مُضْطَجِعٌ فِي الْمَسْجِدِ مِنْ السَّحَرِ عَلَى بَطْنِي إِذَا رَجُلٌ يُحَرِّكُنِي بِرِجْلِهِ فَقَالَ إِنَّ هَذِهِ ضِجْعَةٌ يُبْغِضُهَا اللَّهُ قَالَ فَنَظَرْتُ فَإِذَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Dari Thakhfah bin Qais Al Ghifari ia berkata, “Ketika aku tidur dalam masjid dengan telungkup, tiba-tiba di waktu sahur seseorang membangunkan aku dengan kakinya. Laki-laki itu berkata, “Ini adalah cara tidur yang dibenci oleh Allah.” Aku lalu melihatnya, dan ternyata laki-laki itu adalah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.”

MENEMBOK KUBUR

Kubur tak ditembok, tak dikijing, tidaklah indah dan elok. Tetapi jika keelokan menyebabkan murka Alloh Swt, maka tidaklah pantas dilakukan, meskipun disebut elok atau apalah namanya.

عَنْ جَابِرٍ قَالَ نَهَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ

Dari Jabir ia berkata; “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melarang mengapur kuburan, duduk di atasnya, dan membuat bangunan di atasnya.” HR Muslim 1610.

TABDZIR KEMEBUL

Kemebul (jawa) artinya: mengeluarkan asap. Ada asap yang barokah, seperti asap dari sate ayam, sungguh enak dicium baunya. Ada juga asap tuyuli/asap setani, karena merupakan tabdzir, sementara tabdzir adalah tingkah polah setan.

عَنْ أَبِي بَرْزَةَ الْأَسْلَمِيِّ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَزُولُ قَدَمَا عَبْدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُسْأَلَ عَنْ عُمُرِهِ فِيمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ عِلْمِهِ فِيمَ فَعَلَ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيمَ أَنْفَقَهُ وَعَنْ جِسْمِهِ فِيمَ أَبْلَاهُ

Dari Abu Barzah Al Aslami berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Salam bersabda: “Kedua telapak kaki seorang hamba tidak akan bergeser pada hari kiamat sampai ditanya tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang ilmunya untuk apa dia amalkan, tentang hartanya dari mana dia peroleh dan kemana dia infakkan, dan tentang tubuhnya untuk apa dia gunakan.” HR Turmudzi 2341; shahih.

ZINA SEKUJUR TUBUH

Seperti syirik, ada besar dan ada kecil, demikian pula zina. Zina besar sudah maklum. Adapun zina kecil, hadits shahih berikut mengupasnya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ حَظَّهُ مِنْ الزِّنَا أَدْرَكَ ذَلِكَ لَا مَحَالَةَ فَزِنَا الْعَيْنِ النَّظَرُ وَزِنَا اللِّسَانِ الْمَنْطِقُ وَالنَّفْسُ تَمَنَّى وَتَشْتَهِي وَالْفَرْجُ يُصَدِّقُ ذَلِكَ كُلَّهُ وَيُكَذِّبُهُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan pada setiap anak cucu Adam bagiannya dari perbuatan zina yang pasti terjadi dan tidak mungkin dihindari, maka zinanya mata adalah melihat, sedangkan zinanya lisan adalah ucapan, zinanya jiwa adalah berangan-angan dan menginginkan, dan kemaluanlah sebagai pembenar semuanya atau tidak.” HR Bukhari 5774.

PRIA DATANG BULAN

Banci adalah manzilah bainal manzilatain: posisi bimbang antara dua posisi yang berseberangan. Laki-laki muslim wajib menghadiri shalat jama’ah di masjid bila mampu. Wanita muslimah lebih baik shalat di rumah daripada di masjid. Demikian keputusan ulama` Hanabilah berdasarkan hadits-hadits shahih yang ada.

Maka pria muslim yang malas shalat jama’ah, hakikatnya adalah pria banci. Hadits shahih menegur keras sekali kepada mereka:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ هَمَمْتُ أَنْ آمُرَ بِحَطَبٍ فَيُحْطَبَ ثُمَّ آمُرَ بِالصَّلَاةِ فَيُؤَذَّنَ لَهَا ثُمَّ آمُرَ رَجُلًا فَيَؤُمَّ النَّاسَ ثُمَّ أُخَالِفَ إِلَى رِجَالٍ فَأُحَرِّقَ عَلَيْهِمْ بُيُوتَهُمْ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَوْ يَعْلَمُ أَحَدُهُمْ أَنَّهُ يَجِدُ عَرْقًا سَمِينًا أَوْ مِرْمَاتَيْنِ حَسَنَتَيْنِ لَشَهِدَ الْعِشَاءَ

Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh aku ingin memerintahkan seseorang mengumpulkan kayu bakar kemudian aku perintahkan seseorang untuk adzan dan aku perintahkan seseorang untuk memimpin orang-orang shalat. Sedangkan aku akan mendatangi orang-orang (yang tidak ikut shalat berjama’ah) lalu aku bakar rumah-rumah mereka. Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, seandainya seseorang di antara kalian mengetahui bahwa ia akan memperaleh daging yang gemuk, atau dua potongan daging yang bagus, pasti mereka akan mengikuti shalat ‘Isya berjama’ah.” HR Bukhari 608.

HAKEKAT MENGGUNJING

Alloh Swt menasihatkan:

وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ [الحجرات : 12]

Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati!? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

عن أنس بن مالك قال كان مع أبي بكر وعمر رجل يخدمهما فناما فاستيقظا ولم يهيء لهما طعاما فقال أحدهما لصاحبه إن هذا ليوائم نوم نبيكم صلى الله عليه وسلم فأيقظاه فقالا إئت رسول الله صلى الله عليه وسلم فقل له إن أبا بكر وعمر يقرئانك السلام وهما يستأدمانك فقال أقرأهما للسلام وأخبرهما أنهما قد إئتدما ففزعا فجاءا إلى النبي صلى الله عليه وسلم فقالا يا رسول الله بعثنا إليك نستأدمك فقلت قد آئتدما فبأي شيء ائتدمنا قال بلحم أخيكما والذي نفسي بيده إني لأرى لحمه بين أنيابكما قالا فاستغفر لنا قال هو فليستغفر لكما

Anas bin Malik bercerita, “Ada seorang lelaki menyertai Abu Bakr dan ‘Umar, sebagai pelayan bagi keduanya. Lalu keduanya tidur. Setelah bangun, ternyata pelayan belum menyiapkan makanan untuk mereka, maka salah satu dari keduanya berkata kepada temannya, “Sungguh orang ini menyerupai tidur nabi kalian, shallallahu ‘alaihi wa sallam.” Lalu kedua membangunkannya dan berkata, “Datanglah kepada Rasulullah saw lalu katakanlah bahwa Abu Bakr dan ‘Umar membacakan salam kepada Anda, dan keduanya meminta lauk dari Anda.” Maka Rasulullah menjawab, “Sampaikan salamku kepada keduanya, dan beritahukan bahwa mereka sudah memakan lauk.” Keduanya pun tercengang, lalu datang kepada Nabi saw lalu berkata, “Wahai Rasulullah kami kirim orang kepada Anda untuk meminta lauk, namun Anda menjawab bahwa kami telah makan lauk. Lauk apa yang kami makan itu?” Beliau menjawab, “Daging saudaramu (pelayanmu) itu. Demi Dzat yang jiwa-Ku di Tangan-Nya, sungguh aku dapat melihat dagingnya di antara gigi-gigi kalian.” Keduanya berkata, “Mintakanlah ampunan untuk kami.” Beliau jawab, “Hendaklah dia yang memintakan ampunan untuk kalian berdua.” HR Dhiya` al-Maqdisy 1697; dinilai shahih oleh Syaikh al-Albani.

PACARAN BOSOK

Berduaan lawan jenis! Sungguh nikmat. Namum apalah artinya nikmat sesaat yang berakibat niqmat beberapa saat atau niqmat kekal abadi. Berduaan lawan jenis termasuk tingkah polah tuyuli. Imam Tarmidzi/Turmudzi/Tirmidzi menegaskan:

إِنَّمَا مَعْنَى كَرَاهِيَةِ الدُّخُولِ عَلَى النِّسَاءِ عَلَى نَحْوِ مَا رُوِيَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَا يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ إِلَّا كَانَ ثَالِثَهُمَا الشَّيْطَانُ وَمَعْنَى قَوْلِهِ الْحَمْوُ يُقَالُ هُوَ أَخُو الزَّوْجِ كَأَنَّهُ كَرِهَ لَهُ أَنْ يَخْلُوَ بِهَا

Tiada lain maksud dibencinya menemui para wanita, yaitu sebagaimana yang diriwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Tidaklah seorang laki-laki berduaan dengan seorang wanita, kecuali ketiganya adalah setan.” 7

Makna dari “ipar”, yaitu saudara suami. Nabi saw membenci, seorang berduaan dengan isteri saudaranya..

Tidak perlu dibantah bila pacaran disebut: BOSOK. Sebab setan adalah makhluk busuk. Inilah dalilnya:

عَنْ أَنَس يَقُولُ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ الْخَلَاءَ قَالَ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ (حَدَّثَنَا عَبْدُ الْعَزِيزِ: إِذَا أَرَادَ أَنْ يَدْخُلَ)

Dari Anas berkata, “Jika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam masuk ke dalam WC, maka beliau berdo’a: ALLAHUMMA INNI A’UUDZU BIKA MINAL KHUBUTSI WAL KHBA`ITS (Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari setan laki-laki dan setan perempuan) ‘. [Lafal hadits Abdul ‘Aziz, “Jika beliau hendak masuk.”] HR Bukhari 139. * Khubuts arti asalnya: busuk.

KUNCI SELAMAT HUBUNGAN LAWAN JENIS

Konselet! Itulah kalimat yang pas untuk menggambarkan akhir kisah dari hubungan lawan jenis non mahram yang tidak sesuai aturan Islam. Maka kunci inti agar tidak terjadi konselet adalah:

عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ ، عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، أَنَّهُ كَانَ عِنْدَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَقَالَ : أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلْمَرْأَةِ ؟ فَسَكَتُوا ، فَلَمَّا رَجَعْتُ قُلْتُ لِفَاطِمَةَ : أَيُّ شَيْءٍ خَيْرٌ لِلنِّسَاءِ ؟ قَالَتْ : أَلاَّ يَرَاهُنَّ الرِّجَالُ ، فَذَكَرْتُ ذَلِكَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : إِنَّمَا فَاطِمَةُ بِضْعَةٌ مِنِّي رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا. وَهَذَا الْحَدِيثُ لاَ نَعْلَمُ لَهُ إِسْنَادًا عَنْ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، إِلاَّ هَذَا الإِسْنَادَ.

Dari Sa’id bin Musayyab, dari ‘Ali ra, bahwa dia berada di hadapan Rasulullah saw, maka beliau bersabda, “Hal apakah yang terbaik bagi wanita?” Mereka diam membisu. Saat aku pulang, kutanyakan kepada Fathimah, “Apa yang terbaik bagi kaum wanita?” Dia jawab, “Bahwa mereka tidak terlihat oleh kaum lelaki.” Lalu kusampaikan hal itu kepada Nabi saw, maka beliau berkomentar, “Tiada lain Fathimah adalah suatu bagian dariku, semoga Alloh meridhainya.” Riwayat Bazzar 526; sanadnya perlu ditinjau 8.

Hadits ini dha’if sanadnya, namun maknanya sangatlah kuat, sebagaiamana dapat dipaham isyaratnya dari hadits shahih berikut:

KUNCI SELAMAT DARI MAKSIAT

Semua orang cari selamat. Selamat dari fakir menjadi kaya, sangat diidamkan. Namun kebanyakan orang lalai dari memikirkan keselamatan diri dari maksiat. Maka sungguh hebat shahaby yang dikisahkan dalam hadits shahih ini:

عَنْ أَبِي أُمَامَةَ عَنْ عُقْبَةَ بْنِ عَامِرٍ قَالَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَا النَّجَاةُ قَالَ أَمْسِكْ عَلَيْكَ لِسَانَكَ وَلْيَسَعْكَ بَيْتُكَ وَابْكِ عَلَى خَطِيئَتِكَ

Dari Abu Umamah dari ‘Uqbah bin ‘Amir berkata, Aku bertanya: Wahai Rasulullah bagaimana supaya selamat? beliau menjawab: “Jagalah lisanmu, hendaklah rumahmu lapang bagimu dan menangislah karena dosa dosamu.” HR Turmudzi 2330; hadits hasan.

“Rumahmu lapang bagimu”: maksudnya hendaklah melazimi rumah, tidak banyak keluar rumah.

Catatan:

1 Amar ma’ruf nahi mungkar adalah kandungan kalimat syahadat. Lâ ilâha (tiada tuhan yang berhak disembah): berarti nahi mungkar dari syirik. Illlallâh (selain Alloh): berarti amar ma’ruf untuk mengabdi kepada Alloh Swt.

2 Asma` adalah kakak ‘Aisyah ra dari ibu yang berbeda. Asma` lebih tua 10 tahun daripada ‘Aisyah. Saat Rasulullah wafat, Asma` berusia 28 tahun. Muda.

3 Hadits ini dinilai dha’if oleh sebagian masyayikh, namun yang benar ia berderajat hasan karena dikuatkan oleh beberapa jalur. Lihat: Hijabul Mar`ah, Syaikh Albani.

4 Mafhum mukhalafahnya: jika tidak mentaati maka sesat! Dhalalah! Ingin sesat, mudah. Cukup tidak menutup aurat. Atau menonjolkan aurat yang sudah menonjol.

5 Fathir ayat 6. * NB: Surah Fathir adalah pungkasan suwarul hamdi alias ‘arâ`isul Qur’an yang enam, yaitu: al-Fatihah, al-An’am, al-Kahfi, Saba`, dan Fathir. Semuanya diawali dengan lafal “alhamdulillah”. (Demikian dijelaskan oleh Syaikh Muhammad Samir an-Nash, muqri` faqih dokter spesialis asal Damaskus, pada daurah mukatstsafah kedua di Ma’had ‘Isykarima).

6 Ini larangan keras. Menunjukkan keharamannya! Tidak hanya makruh. Wallahu A’lam.

7 Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Ahmad 172, dari hadits ‘Umar ra.

8 Haitsami berkata, “Dalam sanadnya terdapat rawi yang tidak kukenal, juga ada ‘Ali bin Zaid.” Namun ucapan ini sungguh benar. Sesuai fakta di lapangan. Wallahu A’lam.

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

و بارك اللهم في أوقاتنا آمين. وحركاتنا آمين. وسكناتنا آمين. و فيما أعطيتنا آمين.

[Selesai dita’liq pada: Jumadal Ula 1432 H/2011 M. di Maktabah Âli Abî ‘Abdillâh]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here