Home Kisah Memberdayakan Bukan Meninggalkan

Memberdayakan Bukan Meninggalkan

192
0
SHARE

Bismillah…MEMBERDAYAKAN BUKAN MENINGGALKAN

Semuanya memberdayakan masyarakat.

Ada yang bertanya dari mana Darush Sholihin bisa menyiapkan hewan qurban yang begitu banyak untuk Gunungkidul sekitarnya? Apakah membeli dari luar daerah, dari luar Gunungkidul?

Hal di atas ditanyakan oleh seorang Kepala KUA di Gunungkidul.

Jawabannya, semuanya diperoleh dari masyarakat. Untuk menyiapkan 400 ekor kambing dan 70 sapi yang saat ini diperoleh, DS hanya membeli dari masyarakat sekitar Panggang, Purwosari dan Saptosari pada desa-desa yang berada di sekitar DS. Karena beli dari warga langsung, tanpa makelar yang biasa melambungkan harga, maka bisa dapat harga relatif murah dibanding harga pasar. Itulah namanya pesantren masyarakat, tujuannya memberdayakan.

Dalam hal pengajar TPA pun demikian. Tidak ada pengajar yang diimpor dari luar daerah. Cukup warga tersebut mau dibimbing oleh pengasuh DS, maka mereka bisa mengajarkan iqra’ dan Al-Qur’an serta materi agama untuk anak-anak. Kalau pengajar seperti ini diambil dari luar, tentu akan timbul kecemburuan. Jadi, masyarakat dibimbing untuk bisa mengajarkan ilmu pada yang lainnya seperti syarat pengajar harus mau dibimbing untuk mengikuti program tahfizh Qur’an. Rata-rata dari pengajar TPA tadi sudah memiliki hafalan dua juz.

Dalam hal penyediaan konsumsi kajian dan membeli kebutuhan pesantren, semuanya memanfaatkan potensi catering dan toko atau warung yang di sekitar DS, bukan memesan dari luar. Bahkan ketika jam pembelajaran TPA, warga memanfaatkan pula untuk menjual jajanan mereka pada anak-anak. Itulah namanya pemberdayaan pada pesantren masyarakat.

Dalam hal sopir dan security, itu pun memanfaatkan masyarakat sekitar. Bahkan ada yang menjadi security masih bertato. Tahulah seperti itu, dulunya bagaimana?

Dalam membangun pesantren, masjid dan jalan yang menjalankan itu semua, mulai dari mandor sampai tukang-tukangnya adalah dari warga sekitar pesantren. Bahkan untuk membeli semen dan pasir hingga transportasinya cuma memanfaatkan warga sekitar yang memiliki toko bangunan dan truck.

Dalam hal kecil seperti memasang spanduk kajian dan tukang parkir saat Kajian Akbar seperti terakhir bersama Ustadz Syafiq Basalamah dengan dihadiri 7000 jama’ah, semuanya memanfaatkan pemuda sekitar pesantren, bahkan sebagian bisa dikata adalah preman kampung. Kalau yang mengurus kajian seperti ini, siapa yang bisa buat onar?

Kalau seperti di atas, mungkinkah timbul kesenjangan dan perselisihan antara masyarakat dan pesantren? Mungkinkah pula ada masyarakat yang mendemo kajian?

Semoga jadi tips yang bermanfaat untuk berdakwah di masyarakat.

Selengkapnya baca di sini: http://darushsholihin.com/4325-pesantren-memberdayakan-masyarakat.html

SILAKAN SHARE JIKA BERMANFAAT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*