Home Keluarga Nama Putraku

Nama Putraku

488
0
SHARE

Oleh: Team PKH (Pusat Kajian Hadits) Solo

Cp. 0878 3601 3279

HAKIKAT ANAK

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلمقَالَ « إِذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَنْهُ عَمَلُهُ إِلاَّ مِنْ ثَلاَثَةٍ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ ».

Dari Abu Hirr1 radhiyallahu ‘anh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersabda, “Jika manusia telah mati, amalnya pun terputus (pahalanya) dari dia, kecuali dari sebab tiga hal, yaitu sedekah jariyah (wakaf), ilmu yang dimanfaatkan, atau anak shalih yang mendoakannya.” HR Muslim 5/73.

Berdasarkan hadits ini, dapat dikatakan bahwa inti memiliki anak untuk masa depan seseorang adalah penghasilan pahala yang melimpah ruah untuk dirinya sendiri, baik semasa hidupnya maupun setelah matinya. Wallahu A’lam.

MENYIKAPI KELAHIRAN ANAK

Ibunda kita ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, diriwayatkan bahwa jika mendengar kelahiran seseorang, beliau tidaklah bertanya apakah lelaki ataukah perempuan. Dengan fiqihnya yang tajam beliau cukup bertanya, “Sehat atau tidak?” Jika sehat maka Alhamdulillâh. Jika tidak sehat atau cacat maka alhamdulillâhi ‘ala kulli hâl.

Bisa jadi pertanyaan ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha ini karena melihat hakikat anak sebagaimana dijelaskan di muka.

Artinya, jika anak sehat maka kesempatan untuk menghasilkan pahala bagi orangtuanya dan untuk kemanfaatan bagi ummat Islam lebih terbuka lebar. Berbeda dengan anak cacat yang tentu saja terbatas kemampuannya.

Karena itu, yang terpenting adalah sehat atau tidak; bukan lelaki atau perempuan. Apa yang perlu dibanggakan dari memiliki anak lelaki yang sedikit manfaat dan barokah? Bukankah anak wanita yang lebih besar bermanfaat untuk orang tua dan Islam, lebih layak untuk diharapkan dan dibanggakan! Wallahul Musta’an.

Adapun orang awam zaman sekarang, amat berbunga jika bayinya lelaki, dan kurang berbangga jika bayinya perempuan. Padahal jika memiliki satu putri setingkat ‘Aisyah radhiyallahu ‘anh, tentu lebih menguntung-kan insyaAlloh daripada memiliki 100 putra biasa. Inilah hakikat anak yang tidak diperhatikan banyak orang. Wallahul Musta’an.

MENAMAI ANAK DI HARI PERTAMA

عَنْ سَهْلٍ قَالَ أُتِيَ بِالْمُنْذِرِ بْنِ أَبِي أُسَيْدٍ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم حِينَ وُلِدَ فَوَضَعَهُ عَلَى فَخِذِهِ قَالَ مَا اسْمُهُ قَالَ فُلاَنٌ قَالَ وَلَكِنْ أَسْمِهِ الْمُنْذِرَ فَسَمَّاهُ يَوْمَئِذٍ الْمُنْذِرَ.

Dari Sahl radhiyallahu ‘anh berkata, “Mundzir bin Usaid dibawa kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam saat ia dilahirkan, lalu beliau meletakkannya di atas paha beliau. Nabi bertanya, “Siapa namanya?” Dijawab, “Fulan.” Beliau bersabda, “(Bukan), akan tetapi namailah al-Mundzir.” Jadi beliau menamainya di hari itu juga dengan al-Mundzir. HR Bukhari 8/53.

Menurut fiqh Imam Bukhari, penamaan bayi di hari pertama kelahiran ini dilaksanakan bagi yang tidak dapat melakukan ‘aqiqah. Adapun yang akan melakukan ‘aqiqah di hari ketujuh, maka namanya ditetapkan di hari itu juga. Wallahu A’lam.

MENAMAI ANAK DI HARI KETUJUH

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : كُلُّ غُلاَمٍ رَهِينَةٌ بِعَقِيقَتِهِ تُذْبَحُ عَنْهُ يَوْمَ سَابِعِهِ وَيُحْلَقُ وَيُسَمَّى.

Dari Samurah bin Jundub radhiyallahu ‘anh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersabda, “Setiap anak lelaki itu tergadai dengan aqiqahnya, disembelihkan untuknya di hari ketujuhnya, dicukur rambutnya, dan diberi nama.”

HR Abu Dawud 3/106, shahih2.

Anak tergadai dengan aqiqahnya ditafsiri dengan:

  1. Anak tersebut akan terhambat pertumbuhannya jika tidak dinasikahi (nama lain dari aqiqah).

  2. Anak itu takkan dapat memberi syafaat kepada orang tuanya di akhirat kelak jika tidak dinasikahi.

Masih banyak lagi tafsiran lain, akan tetapi 2 tafsiran ini yang dinilai paling bagus oleh DR Abu Usamah alumnus Riyadh.

Selain sunnah-sunnah di atas, terdapat satu sunnah lagi untuk hari ketujuh kelahiran, yang sering dilupakan orang yaitu melumuri kepala bayi dengan minyak wangi za’faran, berdasarkan hadits shahih berikut:

عن أَبِي بُرَيْدَةَ ، يَقُولُ : كُنَّا فِي الْجَاهِلِيَّةِ إِذَا وُلِدَ لِأَحَدِنَا غُلاَمٌ ذَبَحَ شَاةً وَلَطَخَ رَأْسَهُ بِدَمِهَا ، فَلَمَّا جَاءَ اللَّهُ بِالإِسْلاَمِ كُنَّا نَذْبَحُ شَاةً ، وَنَحْلِقُ رَأْسَهُ وَنُلَطِّخُهُ بِزَعْفَرَانٍ.

Dari Abu Buraidah ra berkata, “Kami dulu di masa jahiliah jika seorang anak terlahir, bapaknya menyembelih seekor kambing dan menorehi kepala bayi dengan darah kambing itu. Tatkala Alloh mendatangkan Islam, kami pun tetap menyembelih kambing dan mencukur rambutnya, namun kami menorehi kepalanya dengan minyak wangi za’faran.” HR Abu Dawud 3/107, hasan shahih.

NAMA PALING DISUKAI ALLOH SWT

عَنْ أَنَسٍ ، قَالَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : أَحَبُّ الأَسْمَاءِ إِلَى اللهِ عَبْدُ اللهِ وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ وَالْحَارِثُ

Dari Anas radhiyallahu ‘anh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersabda, “Nama yang paling disukai Alloh adalah ‘Abdullah, ‘Abdur Rahman, dan al-Harits3.” HR Abu Ya’la.

Syaikh Husain Asad Salim menilai hadits ini dha’if sanadnya (Takhrij Abu Ya’la no. 2778), sementara itu Syaikh al-Albani menilainya shahih (Shahih Jami’is Shaghir 162).

عَنْ سَبْرَةَ، عَنْ أَبِيهِ، قَالَ: أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَعَ ابْنِي، فَقَالَ:مَا وَلَدُكَ؟ فَقُلْتُ: فُلانٌ وَفُلانٌ وَعَبْدُ الْعُزَّى، فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: خَيْرُ أَسْمَائِكُمْ عَبْدُ اللَّهِ، وَعَبْدُ الرَّحْمَنِ، وَالْحَارِثُ.

Dari bapak Sabrah radhiyallahu ‘anh berkata, Aku datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersama anakku, maka beliau bertanya: Siapa nama anak-anakmu? Kujawab, “Fulan, fulan, dan ‘Abdul ‘Uzza.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam bersabda, “Nama terbaik bagi kalian adalah ‘Abdullah, ‘Abdur Rahman, dan al-Harits.” HR Thabarani 16/160, shahih.

Jadi perkara yang terbaik adalah perkara yang paling disukai Alloh, dan perkara yang disukai Alloh itulah perkara yang terbaik. Walhamdulillah.

NAMA UNTUK DOA

يَا زَكَرِيَّا إِنَّا نُبَشِّرُكَ بِغُلَامٍ اسْمُهُ يَحْيَى [في مريم : 7]

“Wahai Zakariyya, sungguh Kami membawa kabar gembira untukmu dengan seorang anak lelaki yang namanya Yahya.”

Yahya artinya hidup, seolah-olah doa agar ia hidup.

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو ، قَالَ : قِيلَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ : أَيُّ النَّاسِ أَفْضَلُ ؟ قَالَ : كُلُّ مَخْمُومِ الْقَلْبِ ، صَدُوقِ اللِّسَانِ ، قَالُوا : صَدُوقُ اللِّسَانِ ، نَعْرِفُهُ ، فَمَا مَخْمُومُ الْقَلْبِ ؟ قَالَ : هُوَ التَّقِيُّ النَّقِيُّ ، لاَ إِثْمَ فِيهِ ، وَلاَ بَغْيَ ، وَلاَ غِلَّ ، وَلاَ حَسَدَ.

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr radhiyallahu ‘anh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam ditanya, “Siapakah manusia paling utama?” Beliau menjawab, “Setiap orang yang disapu bersih hatinya dan jujur lisannya.” Mereka berkata, “Jujur lisan telah kami pahami, lantas apa yang dimaksud dengan disapu bersih hatinya?” Beliau jawab, “Dialah at-taqiy an-naqiy (orang yang bertaqwa lagi jernih); tiada dosa padanya, tiada sikap melampaui batas, tiada ghill4, dan tiada dengki.” HR Ibnu Majah 5/299, shahih.

Boleh saja anak dinamai at-taqiyyun naqiy sebagai doa agar menjadi anak bertaqwa berjiwa jernih. Wallahu A’lam.

NAMA UNTUK DA’WAH

عَدِيُّ بْنُ حَاتِمٍ قَالَ : أَتَيْتُ النَّبِيَّ صَلَّى الله عَليْهِ وسَلَّمَ فَقَالَ : يَا عَدِيَّ بْنَ حَاتِمٍ ، أَسْلِمْ تَسْلَمْ ، قُلْتُ : وَمَا الإِسْلاَمُ ؟ فَقَالَ : تَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَأَنِّي رَسُولُ اللهِ ، وَتُؤْمِنُ بِالأَقْدَارِ كُلِّهَا ، خيْرِهَا وَشَرِّهَا ، حُلْوِهَا وَمُرِّهَا.

Dari ‘Adi bin Hatim radhiyallahu ‘anh berkata, “Aku datangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam maka beliau bersabda, “Hai ‘Adi bin Hatim, aslim taslam (masuk islamlah, niscaya Anda selamat).” Aku balik bertanya, “Apa itu Islam?” Beliau bersabda, “Anda bersaksi tiada ilah selain Alloh dan bahwa aku utusan Alloh, dan Anda beriman dengan semua taqdir, yang baik maupun buruk, yang manis maupun pahit.” HR Ibnu Majah 1/65, shahih.

Boleh saja anak dinamai Aslim Taslam ; sehingga ketika orang kafir bertanya siapa namanya, maka jawabannya otomatis sebagai dakwah agar dia masuk Islam. Wallahu A’lam.

NAMA UNTUK AMAR MA’RUF NAHI MUNKAR

Dalam kisah haditsul ifki 5, ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan:

كَانَ أَوَّلَ كَلِمَةٍ تَكَلَّمَ بِهَا أَنْ قَالَ لِي يَا عَائِشَةُ احْمَدِي اللَّهَ فَقَدْ بَرَّأَكِ اللَّهُ

Perkataan yang pertama kali diucapkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa âlihi wasallam kepadaku adalah: Wahai ‘Aisyah, Ihmadillâh (bertahmidlah/pujilah Alloh), sebab sungguh Alloh telah membebaskan /membersihkan Anda (dari tuduhan zina).” HR Bukhari 3/230.

Boleh saja bayi dinamai ‘Aisyah Ihmadillâh , sehingga saat menyebutkan nama maka secara otomatis telah beramar ma’ruf menyuruh orang memuji Alloh Swt. Wallahu A’lam.

HADITS-HADITS DHA’IF SEPUTAR NAMA

من ولد له مولود فسماه محمدا تبركا به كان هو والولد في الجنة

[MOCHAMED] “Siapapun kelahiran anak lalu dia menamainya Muhammad karena mengambil barakah dengan nama itu, niscaya dia dan anak itu masuk ke dalam Jannah.”

Hadits ini dikatakan oleh Ibnu Qayyim dalam al-Manarul Munif hlm. 61 sebagai hadits yang diketahui kepalsuannya dari lafal matannya langsung. Di sini kepalsuan-nya jelas, karena Jannah tidak diraih dengan nama, akan tetapi dengan iman dan amal shalih. Wallahu A’lam.

سموه بأحب الأسماء إلي : حمزة

[HAMZAH] “Namailah dengan nama yang paling kusukai yaitu Hamzah.” HR Hakim dari hadits Jabir ra.6

أحب الأسماء إلى الله : ما تعبد به

[NAMA ‘ABDUL …] “Nama yang paling disukai Alloh adalah nama yang bersifat pengabdian kepada Alloh.” HR Thabarani dari hadits Ibnu Mas’ud ra. 7

تسموا بأسماء الأنبياء و أصدقها حارث و همام و أقبحها حرب و مرة

[NAMA PARA NABI] [NAMA TERJUJUR] [NAMA TERBURUK]

“Bernamalah dengan nama para Nabi, dan nama yang terjujur adalah Harits dan Hammam (selalu memiliki keinginan), dan nama terburuk adalah Harb (perang) dan Murrah (pahit).” HR Abu Dawud dari Abu Wahb al-Jasymi. 8

Memakai nama Nabi termasuk sunnah Rasulullah saw karena beliau melakukannya, yaitu putra beliau dari budaknya, Mariyah al-Qibthiyah diberi nama Ibrâhîm. Wallahu A’lam.

الحمد لله رب العالمين

AGENDA PKH/HQA

Hamalatul Qur’an Wal Atsar’

  1. SMS taushiyah (free) – Harian.

  2. SMS Tanya jawab fiqh (free) – Harian.

  3. Penerbitan diktat2 hadits shahih (seribuan) – Pekanan.

  4. MKFY (Majlis Khatam Kitab2 Fiqh Yaman) – Pekanan.

  5. KWK (Kafilah Wakaf Kitab2 Ilmiah Arab) – Bulanan.

Donasi wakaf: mu’amalat 924 925 23 57 a/n Mochamed

Setelah transfer sms ke PKH: 0878 3601 3279

والله المستعان وعليه التكلان

1 Konon Abu Hirr lebih suka dipanggil dengan Abu Hirr daripada Abu Hurairah, karena Hirr mudzakkar sementara Hurairah muannats. Wallahu A’lam.

2 Takhrij hadits dalam kutaib PKH dinukil dari kitab Takhrij al-Jami’us Shaghir karya Syaikh al-Albani dan karya-karya lain beliau.

3 Harits artinya: penanam.

4 Ghill: permusuhan, kedengkian terselubung. (Mu’jam Wasith 2/660)

5 Ifk artinya: kebohongan. Yaitu kisah tuduhan zina dari munafiqin gila kepada ‘Aisyah radhiyallahu ‘anh dengan Shafwan bin Mu’aththal ra.

6 Dha’if: Dha’iful Jami’is Shaghir 3284.

7 Dha’if: Dha’iful Jami’is Shaghir 156.

8 Dha’if: Dha’iful Jami’is Shaghir 2435.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here