Home Fiqih Panduan Zakat Fitrah A-Z

Panduan Zakat Fitrah A-Z

393
0
SHARE

📜 ZAKAT FITRAH
بسم الله الرحمن الرحيم

الحمد لله والصلاة و السلام على رسول الله و على آله و صحبه أجمعين, أما بعد:

📢 Saudara dan Saudariku yang dirahmati Allāh Subhānahu wa Ta’āla. 

1⃣ Hikmah di Balik Zakat Fitrah
🔖 Dari Ibnu Abbas radhiyallahu anhu, dia berkata, “Rasulullah Shallallahu ‘Alahi wa Sallam mewajibkan zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatannya yang sia-sia dan perkataannya tidak baik (keji), serta sebagai makanan bagi orang-orang miskin. Siapa yang menunaikannya sebelum shala ied, maka terhitung zakat fitrah, sedangkan barangsiapa yang menunaikannya setelah shalat, maka itu tak lebih dari sedekah biasa.” (Shahih Sunan Abu Dawud, no. 1420 dan Shahih Ibnu Majah, no. 1480)

2⃣ Hukum Zakat Fithri
📃 Zakat fithrah hukumnya wajib. Hal ini berdasarkan hadits Ibnu ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma :
أن رسول الله صلى الله عليه وسلم فرض زكاة الفطر من رمضان على كل نفس من المسلمين
“Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewajibkan zakat fithrah di bulan Ramadlan terhadap setiap orang dari kalangan muslimin.” (HR. Muslim no. 984).

3⃣ Siapa yang Wajib Membayar Zakat Fithra ??
🔖 Zakat fithrah diwajibkan kepada semua golongan dari kaum muslimin baik anak kecil dan orang tua, laki-laki dan wanita, merdeka dan budak. Hal berdasarkan hadits Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma : “Bahwasannya Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam telah mewajibkan zakat fithrah di bulan Ramadhan kepada manusia; satu sha’ tamr (kurma) atau satu sha’ gandum atas budak dan orang merdeka, laki-laki dan wanita dari kalangan umat muslimin.” (HR. Al-Bukhari no. 1503 dan Muslim no. 984; ini adalah lafadh Al-Bukhari).

📃 Seorang muslim wajib mengeluarkan zakat fithrih untuk dirinya dan orang-orang yang menjadi tanggungannya, baik anak kecil, besar, laki-laki, wanita, orang merdeka, maupun budak. Berdasarkan hadits dari Ibnu Umar radliyallaahu ‘anhuma :
أمر رسول الله صلى الله عليه وسلم بصدقة الفطر عن الصغير والكبير والحر والعبد ممن تمونون
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan menunaikan zakat fithrah untuk anak kecil, orang tua, orang merdeka, dan budak yang masuk dalam tanggungannya.” (HR. Ad-Daruquthni no. 2078 dan Al-Baihaqi no. 7474 dengan sanad hasan).

🔖 Disebutkan dalam Kitab ar-Raudah an-Nadiyyah (I/519), secara ringkas : “Jika seseorang memiliki kelebihan makanan pokok pada hari itu (1 Syawwal), maka ia wajib mengeluarkan zakat fitrah dengan syarat kelebihan itu mencapai ukuran standar zakat fitrah yang harus ditunaikan. Hal ini dikuatkan dengan diharamkannya meminta-minta bagi orang yang memiliki sesuatu untuk makan siang dan makan malamnya pada hari itu…”
⚠ *Bagaimana dengan Janin ?*
⇨ Para ulama berbeda pendapat tentang janin, apakah orang tuanya juga wajib mengeluarkan zakat fitrah ? Syaikh Salim bin ‘Id al Hilali dan Syaikh Ali bin Hasan al Halabi al Atsari mengatakan “Sebagian Ulama berpendapat bahwa zakat fithrah wajib juga atas janin, tetapi kami tidak menemukan dalil akan hal itu, karena janin tidak bisa disebut sebagai anak kecil atau besar, baik menurut masyarakat maupun istilah. (Sifat Shaum Nabi Shallallahu ‘Alahi wa Sallam fii Ramadhan, hal. 102)

⇨ Syaikh Muhammad bin Shalih al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Yang nampak bagiku, jika kita mengatakan DISUKAI (mustahab) mengeluarkan zakat fitrah bagi janin, maka zakat itu hanyalah dikeluarkan bagi janin yang telah ditiupkan ruh padanya. Sedangkan ruh, belum ditiupkan kecuali setelah empat bulan.” (Syarhul Mumti’, 6/162-163)

⇨ Dari penjelasan ini kita mengetahui, bahwa di SUNNAHkan bagi orang tua untuk membayar zakat fitrah bagi janin yang sudah berumur empat (4) bulan dalam kandungan.
4⃣ Jenis-Jenis yang Dibayarkan Sebagai Zakat Fithrah
📃 Jenis-jenis yang dapat dibayarkan sebagai zakat fithrah adalah semua jenis makanan pokok, beras, gandum, kurma, keju, dan kismis (anggur kering). Hal berdasarkan hadits dari Abu Sa’id Al-Khudry radliyallaahu ‘anhu : “Dulu kami mengeluarkan zakat fithrah (sebanyak) satu sha’ makanan, atau satu sha’ gandum, atau satu sha’ tamr (kurma), atau satu sha’ keju, atau satu sha’ anggur kering (kismis).” (HR. Bukhari no. 1506 dan Muslim no. 985).

⚠ *Tidak Boleh Diganti dengan Jenis Lainnya*
⛔ Tidak boleh mengeluarkan zakat fitrah berupa UANG yang senilai dengan makanan pokok yang seharusnya dikeluarkan. Hal ini berdasarkan nash-nash atau riwayat-riwayat yang menyebutkan secara tegas tentang makanan pokok yang harus diberikan sebagai zakat fitrah.

⇨ Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Kebanyakan ahli fiqh tidak membolehkan mengeluarkan dengan nilai, tetapi Abu Hanifah membolehkannya.” (Syarah an Nawawi, VII/60).
⇨ Syaikh Abdul ‘Azhim al Badawi berkata, “Pendapat Abu Hanifah ini tertolak karena sesungguhnya “Dan tidaklah Tuhanmu lupa” -QS. Maryam ayat 64-, maka seandainya nilai itu mencukupi tentu telah dijelaskan oleh Allah dan RasulNya. Maka wajib ialah berhenti pada zahir nash-nash dengan tanpa merubah dan mengartikan dengan makna lainnya.” (Al Wajiiz, 230-231)
⇨ Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi berkata, “Zakat fitrah wajib dikeluarkan dari jenis-jenis makanan pokok dan tidak menggantinya dengan uang kecuali karena darurat (terpaksa). Karena tidak ada dalil yang menunjukkan Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam menggantikan zakat fitrah dengan uang. Bahkan juga tidak dinukilkan walaupun dari para shabat, mengeluarkannya dengan uang.” (Minhajul Muslim, hal. 231)

5⃣ Ukuran Zakat Fithrah
📃 Ukuran zakat fitrah ialah sebanyak satu sha’ kurma, gandum, atau jenis makanan pokok lainnya. Ada beberapa keterangan mengenai masalah ini, sebagai berikut :
ⓐ Satu Sha’ = 2,157 kg (Shahih Fiqih Sunnah, 2/83)

ⓑ Satu Sha’ = 3 kg (Taisirul Fiqh, 74 dan Taudhihul Ahkam, 3/74)

ⓒ Satu Sha’ = 2,40 gr Gandum yang bagus (Syarhul Mumti’, 6/176)

🔖 Dari penjelasan ini maka Satu sha’ kira-kira hampir setara dengan 3 kg beras. Dan keterangan Syaikh Al-Utsaimin juga bisa dijadikan acuan. Karena makanan pokok di negara kita umumnya adalah padi/beras, maka kita mengeluarkan zakat fitrah dengan beras sebanyak 2,5 kg. Wallahu a’lam
📃 Dibolehkan menambah ukuran yang telah ditetapkan oleh nash/dalil. Perbuatan ini tidak berarti menyalahi nash/dalil, akan tetapi tambahan tersebut dihitung sebagai sedekah sunnah. Ibnu Taimiyah berkata dalam Majmuu’ul Fataawa (XXV/70), “… Perbuatan ini dibolehkan tanpa ada kemakruhan di dalamnya. Demikian menurut pendapat mayoritas ulama, diantaranya Asy-Syafi’i dan Ahmad. Akan tetapi, ada satu pendapat dari Imam Malik yang memakruhkannya. Adapun mengurangi ukuran yang telah ditetapkan, hal ini tidak diperbolehkan menurut kesepakatan Ulama.”

6⃣ Yang Berhak Menerima Zakat Fithrah
🔖 Para Ulama berbeda pendapat tentang orang yang berhak menerima zakat fitrah.
ⓐ Delapan Golongan sebagaimana Zakat Maal.

# Ini merupakan pendapat Hanafiyah, pendapat Syafi’iyyah dan masyhur dan pendapat Hanabilah. (Ikhtiyarat, 2/412-413)
ⓑ Delapan Golongan Penerima Zakat Maal, tetapi Diutamakan Orang-Orang Miskin.

# Pendapat ini dari Asy-Syaukani, Shiqdiq Hasan Khan Al Qinauji, dan Syaikh Abu Bakar Jabir al Jazairi
ⓒ Hanya Orang Miskin.

# Pendapat ini sebagaimana hadits dari Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :
فَرَضَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم زَكَاةَ الْفِطْرِ طُهْرَةً لِلصَّائِمِ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ وَطُعْمَةً لِلْمَسَاكِينِ
“Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam mewajibkan zakat fithrah sebagai pembersih bagi orang yang berpuasa dari perbuatan sia-sia dan kata-kata kotor, serta menjadi makanan bagi ORANG-ORANG MISKIN.” (HR. Abu Daud no. 1609 dan Ibnu Majah no. 1827. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan).

👍 Yang Rojih (kuat), Insya Allah adalah pendapat yang terakhir (ketiga) dengan alasan Sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam tentang zakat fitrah “… serta menjadi makanan bagi ORANG-ORANG MISKIN.” (HR. Abu Dawud no. 1609, Ibnu Majah no. 1827, dan lain-lain)  

📃 Adapun mengqiyaskan pemberian zakat fithrah ini dengan zakat maal (yaitu untuk delapan golongan), maka pengqiyasan ini adalah pengqiyasan yang salah. Zakat fithri berbeda sifatnya dengan zakat maal, sehingga tidak boleh adanya pengqiyasan (terhadap 2 hal yang berbeda). Wallahu a’lam
⚠ Larangan memberikan Zakat Fitrah kepada Kafir Dzimmi.
❎ Tidak boleh memberikan zakat fitrah pada kafir dzimmi berdasarkan sabda Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam di dalam hadis yang berbunyi : “… sebagai makanan bagi orang-orang miskin.” Lahiriyah hadis ini menunjukkan bahwa orang miskin yang dimaksud adalah dari kalangan kaum muslimin, bukan yang dari penganut agama yang lain. [Penjelasan Syaikh Albani dalam Tamamul Minnah, hlm. 389)

7⃣ Waktu Penyerahan Zakat Fithri
🔖 Zakat fithri dikeluarkan sebelum orang-orang berangkat menunaikan shalat ‘Ied, dan tidak boleh menundanya hingga shalat didirikan. Hal ini didasarkan pada hadits Ibnu ‘Abbas radliyallaahu ‘anhuma :
…. من أداها قبل الصلاة فهي زكاة مقبولة ومن أداها بعد الصلاة فهي صدقة من الصدقات
“….Barangsiapa yang menyerahkannya sebelum shalat (‘Ied), berarti ia adalah zakat yang diterima. Dan barangsiapa yang menyerahkan setelah shalat (‘Ied), maka ia hanyalah sedekah biasa” (idem)
📃 Diperbolehkan membentuk panitia pengumpulan zakat fithrah serta diperbolehkan juga membayarkannya bagi kaum muslimin sehari atau dua hari sebelum pelaksanaan shalat ‘Ied.
وأن عبد الله بن عمر كان يؤدي قبل ذلك بيوم ويومين
“Bahwasannya Abdullah bin ‘Umar radliyallaahu ‘anhuma membayarkan zakat fithrah sehari atau dua hari sebelum shalat ‘Ied.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 2421).
🔊 Apakah Boleh Dibayar Sebelum Hari ‘Id ?

⇨ Dalam masalah ini, terdapat beberapa pendapat :

1). Abu Hanifah rahimahullah berpendapat : “Boleh maju setahun atau dua tahun.”

2). Imam Malik rahimahullah berpendapat : “Tidak boleh maju.”

3). Syafi’iyah berpendapat : “Boleh maju sejak awal bulan Ramadhan.”

4). Hanabilah berpendapat : “Boleh sehari atau dua hari sebelum ‘Id.”
👍 Pendapat terakhir (Hanabilah) inilah yang pantas dijadikan acuan karena sesuai dengan perbuatan Ibnu Umar sedangkan beliau adalah termasuk Sahabat dari Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam. Nafi’ berkata : “Bahwasannya Abdullah bin ‘Umar radhiyallaahu ‘anhuma membayarkan zakat fithrah SEHARI atau DUA HARI sebelum shalat ‘Ied.” (HR. Ibnu Khuzaimah dalam Shahih-nya no. 2421).
8⃣ Panitia Zakat Fitrah
📃 Diperbolehkan membentuk panitia pengumpulan zakat fithrah serta diperbolehkan juga membayarkannya bagi kaum muslimin sehari atau dua hari sebelum pelaksanaan shalat ‘Ied. Termasuk Sunnah Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam yaitu adanya orang-orang yang mengurusi zakat fitrah.
Berikut penjelasan di antara keterangan yang menunjukkan hal ini.
1). Nabi shallallaahu ‘alaihi wasallam telah mewakilkan Abu Hurairah menjaga zakat fitrah.
2). Ibnu Umar biasa memberikan zakat fitrah kepada orang-orang yang menerimanya. Mereka adalah para pegawai yang ditunjuk oleh Imam atau Pemimpin. Tetapi mereka tidak mendapatkan bagian zakat fitrah dengan sebab mengurusi ini, kecuali ia (pegawai itu) sebagai orang miskin.
🔊 Demikian sedikit pembahasan seputar zakat fitrah. Semoga bermanfaat untuk kita Wallahu Waliyyut Taufiq.
👆 Ya Allah teguhkanlah kami di atas iman dan amal shalih, hidupkan kami dengan kehidupan yang baik dan sertakan diri kami bersama golongan orang-orang yang Beriman.
والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

📚 *Referensi*

ⓐ Ensiklopedi Fiqh Praktis Menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah. Karya Syaikh Husain bin ‘Audah Al-‘Awaisyah.

ⓑ Meneladani Rasulullah dalam Berpuasa & Berhari Raya. Karya Syaikh Ali bin Hasan & Syaikh Salim bin Ied al Hilali.

ⓒ Ringkasan Hukum-Hukum Puasa (Abul-Jauzaa Blog)

ⓓ Panduan Zakat Fitrah dan Zakat Mal. Majalah As-Sunnah
     •═══════◎❅◎❦۩❁۩❦◎❅◎═══════•

✍ Editor : Admin Permata Sunnah

🌐Sumber : Grup Dakwah Permata Sunnah
➖➖➖ 

   

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here