Home Tahukah Anda Santri Perokok

Santri Perokok

1434
0
SHARE

Oleh: AM; Editor: AZ; بارك الله في أوقاتهما وعلمهما وحركاتهما وسكناتهما آمين

Muqaddimah

Alloh Swt mewasiatkan:

وَرَبُّكَ يَخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَيَخْتَارُ مَا كَانَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ سُبْحَانَ اللَّهِ وَتَعَالَى عَمَّا يُشْرِكُونَ  [القصص : 68]

“Dan Rabbmu menciptakan apapun yang Dia kehendaki dan Dia memilih[1] (dari ciptaan-Nya). Mereka tiada memiliki hak pilih. Mahasuci[2] Alloh dan Mahatinggi dari apapun yang mereka sekutukan (dengan-Nya).”

Rasulullah saw menasihatkan:

حُبِّبَ إِلَيَّ مِنَ الدُّنْيَا النِّسَاءُ وَالطِّيبُ ، وَجُعِلَ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلاَةِ.

“Aku dijadikan senang kepada 2 hal dari perkara dunia: kaum perempuan dan minyak wangi[3], dan kesejukan mataku diletakkan dalam shalat (saat melakukan shalat merasa tenteram).” HR Nasa`I 3939 dari hadits Anas ra; hadits shahih.

 

Mengapa Ditulis Kutaib Ini

Setiap hari manusia perlu makan. Salah satu “makanan” laris di Indonesia adalah rokok. Merknya banyak. Macamnya variatif. Pelahapnya menyeluruh; semua kalangan. Anak-anak, bekas anak, perempuan (amit-amit), dan orang-orang yang telah berbaju kafan[4]; semuanya merokok.

 

NLR: Nama Lain Rokok

Orang Jawa menyebut orang merokok dengan: nyepur. Nyepur berasal dari kata “sepur” yang berarti kereta api. Kereta api mengeluarkan asap, maka merokok diistilahkan dengan nyepur. Istilah ini cukup akurat; hadits hasan menegaskan:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

Dari Ibnu ‘Umar ra, Rasulullah saw bersabda, “Siapa pun menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari mereka.” HR Abu Dawud 4033; hadits hasan.

Perokok disebut juga: ahli hisab. Bukan hisab ilmu hitung astronomi; akan tetapi hisab dalam arti menghisap keluk (asap).

Perokok disebut juga ash.hâbul ukhdud[5]. Asalnya: ash.hâbul udud. Ash.hab adalah bahasa Arab, artinya: para pelaku. Udud adalah bahasa Jawa, artinya: ngerokok.

Jadi, paling tidak ada 3 istilah bagi perokok: nyepur, ahli hisab, dan ashhabul udud/ukhdud. Dalam bahasa Arab, sesuatu yang diagungkan biasanya dijuluki dengan beberapa nama[6]. Adapun di Indonesia, bisa jadi dijuluki beberapa nama karena busuknya; bisa jadi juga karena cantik ayu geulisnya.

Merokok dijuluki dengan beberapa nama, apakah karena busuknya, ataukah karena cantik ayunya? Mari dikupas.

 

STR: Sifat “Tercantik” Rokok

Alloh Swt menceritakan tentang sebuah makanan di akhirat kelak (di dunia belum ada menu heboh tersebut):

لَيْسَ لَهُمْ طَعَامٌ إِلَّا مِنْ ضَرِيعٍ (6) لَا يُسْمِنُ وَلَا يُغْنِي مِنْ جُوعٍ  [الغاشية : 6 ، 7]

“Tiada satupun makanan bagi mereka selain dhari’, yang tidak dapat menyebabkan gemuk dan tidak mencukupi dari rasa lapar.”

            Renungan:

Jika demikian sifat tercantik rokok, bagaimanakah lagi dengan sifat-sifatnya yang lain? Namun demikian tetap saja banyak yang merokok. Pemuda tanpa rokok dianggap tidak gentle. Primus (pria mushalla) anti rokok dinilai ketinggalan jaman; tidak gaul. Maka mari dikupas lagi tentang rokok.

 

Rokok Sang Penyelamat

Menyelamatkan dari apa? Rokok dapat menyebabkan kanker, impotensi, dll. Demikian “fatwa” para pabrik rokok yang dipajang besar-besar di jalanan. Jadi, rokok adalah penyelamat dari kehidupan. Bisa mematikan. Ada cerita yang perlu dilacak kebenarannya: Pesantren Gontor mulai mengharamkan rokok bagi santri-santrinya setelah salah satu guru mereka wafat karena TBC gara-gara doyan ngerokok. Wallahu A’lam. Alloh Swt mengingatkan:

وَأَنْفِقُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلَا تُلْقُوا بِأَيْدِيكُمْ إِلَى التَّهْلُكَةِ وَأَحْسِنُوا إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِينَ  [البقرة : 195]

“Dan berinfaqlah di jalan Alloh, dan jangan kalian lemparkan tangan kalian (diri kalian) kepada kebinasaan, dan berbuat baiklah[7], sesungguhnya Alloh mencintai[8] orang-orang yang berbuat baik.”

 

Rokok Si Pembersih Ulunk

Alloh Swt menegaskan:

لِلَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِالْآخِرَةِ مَثَلُ السَّوْءِ وَلِلَّهِ الْمَثَلُ الْأَعْلَى وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ  [النحل : 60]

“Hanyalah sifat buruk itu milik orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, sementara hanya milik Alloh sifat yang tertinggi, dan Dia Mahagagah Mahabijaksana.”

Tafsir Jalalain (4/468) menjelaskan:

الْمَثَل الْأَعْلَى” الصِّفَة الْعُلْيَا وَهُوَ أَنَّهُ لَا إلَه إلَّا هُوَ

“Sifat yang tertinggi maksudnya adalah bahwa tiada sesembahan yang benar selain Dia.”

Salah satu sifat-sifat terpuji Alloh Swt adalah: Mahabersih. Diriwayatkan bahwa Sa’id bin Musayyib berpetuah:

إن الله طيب يحب الطيب نظيف يحب النظافة كريم يحب الكرم جواد يحب الجود فنظفوا

“Sungguh Alloh Mahabaik, menyukai yang baik; Mahabersih, menyukai kebersihan; Mahamulia, menyukai kemuliaan; dan Mahadermawan, menyukai kedermawanan.” Riwayat Turmudzi 2799: “Khalid bin Iyas dinilai dha’if”; riwayat dha’if.

Riwayat ini meskipun dha’if namun maknanya benar sehingga dapat diterima, dan itu sesuai hadits shahih:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ ».

Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi saw bersabda, “Sungguh Alloh Mahaindah, mencintai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang-orang.” HR Muslim 275.

Tak dipungkiri bahwa bersih termasuk keindahan. Artinya, Alloh Swt mencintai kebersihan, karena Dia mencintai keindahan.

Tak diragukan lagi oleh para dokter bahwa rokok bersifat mengotori bagian dalam tubuh manusia. Paru-paru perokok kotor, berbeda dengan non perokok.

Bahkan rokok juga mengotori bagian luar tubuh manusia; bibir perokok hitam tak nyaman dipandang, sementara bibir anak-anak indah enak dipandang karena mereka tidak merokok. Maka dapat Anda ketahui apakah rokok itu dicintai oleh Alloh Swt ataukah tidak.

Orang-orang jika melihat asap api masuk rumah, segera berusaha keras menghalaunya. Ahli hisab bersikap sebaliknya, memasukkan asap ke dalam tubuhnya, tidak cukup ke dalam rumahnya. Hmmm ….

 

Pahala Memberi Rokok

Hadits shahih menegaskan:

عَنْ سَعْدِ بْنِ أَبِي وَقَّاصٍ أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ : إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ.

Dari Sa’d bin Abi Waqqash bahwa Rasulullah saw bersabda, “Sungguh tidaklah Anda infakkan suatu nafkah dengan mengharap Wajah Alloh darinya, melainkan pasti Anda diberi pahala atasnya, hingga apa yang Anda letakkan (suapkan) pada mulut istrimu.” Muttafaqun ‘alaih (HR Bukhari 56, Muslim 4296)

Maksudnya adalah makanan yang diberikan kepada istri/keluarga, bernilai pahala jika mengharap pahalanya dari Alloh Swt. Rokok tidak termasuk di sini, karena rokok bukanlah makanan. Empat Sehat Lima Sempurna tidak pernah mendata rokok sebagai salah satu pengawalnya, apalagi sebagai anggotanya.

500 rupiah membelikan roti untuk istri Anda bisa bernilai pahala. Apalagi disertai ciuman penyejuk hati, tentu bertambah-tambah pahalanya. 5 ribu rupiah membelikan rokok untuk suami Anda takkan mendapat jaminan pahala. Sudah gitu bisa-bisa Anda akan mendapat bau abab busuk dari mulutnya. Hmmm …..

 

Rokok Penambah Iman

Seandainya di dunia ini ada pabrik rokok yang mampu menelurkan karya monumental berupa RPI (rokok penambah iman) tentu dia akan menjadi pabrik rokok nomor satu, karena semua umat Islam cerdas tanpa kecuali akan rame-rame menyerbu rokoknya. Amblas secepat kilat. Laba berlipat-lipat. Dalam hitungan menit. Sayang itu belum ada hingga kini.

Iman adalah kunci masuk surga jannah. Hadits shahih menegaskan tanpa tedeng aling-aling:

عَنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ : كُنَّا مَعَ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فِي قُبَّةٍ فَقَالَ انَّ الْجَنَّةَ لاَ يَدْخُلُهَا إِلاَّ نَفْسٌ مُسْلِمَةٌ وَمَا أَنْتُمْ فِي أَهْلِ الشِّرْكِ إِلاَّ كَالشَّعْرَةِ الْبَيْضَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الأَسْوَدِ ، أَوْ كَالشَّعْرَةِ السَّوْدَاءِ فِي جِلْدِ الثَّوْرِ الأَحْمَرِ.

Dari Ibnu Mas’ud ra: Kami dulu menyertai Nabi saw dalam suatu kubah/kemah, maka beliau bersabda, “Sungguh jannah tidak dimasuki kecuali oleh orang muslim; dan kalian di antara para pelaku syirik hanyalah bagaikan sehelai rambut putih pada kulit sapi hitam, atau bagai sehelai rambut hitam di kulit sapi merah.” Muttafaqun ‘alaih. (HR Bukhari 6528 & Muslim 552).

Iman & Islam adalah dua kata yang saling berkaitan; jika satu saja dari keduanya disebutkan, otomatis kedua-duanya masuk di dalamnya. Namun jika keduanya sama-sama disebut, maka masing-masing memiliki arti tersendiri; Iman adalah amalan batin, sementara Islam adalah amalan lahir.[9]

Iman dapat bertambah dan berkurang. Mahyam? (Bagaimana itu?) Iman bertambah dengan melakukan amal shalih; dan berkurang dengan melakukan amal tholeh[10] alias maksiat.

“Umat Islam …! Sadarilah bahwa dengan masuk ke pesantren tahfizhul Qur’an, orang akan terpaksa bertambah imannya. Apa pasal? Dia terpaksa harus banyak membaca Al-Qur’an agar hafalannya terjaga.” Demikian pesan singkat Ustadz[11] Abu Zaidan pada Ramadhan lalu.

Umat Islam …! Sadarilah bahwa merokok berapa batang pun dan berapa pak pun, Anda takkan mendapat jaminan bertambah iman. Bertambah hitam bibir, ya. Bertambah kempes kantong, ya. Bertambah busuk abab, ya. Pokoknya yang serba negatif suka ya, sementara yang serba positif selalu enggan dari ya. Demikian pesan ana sebagai penutup untuk kutaib unik ini. Sebagai pelengkap, berikut ini ana lampirkan beberapa kisah khas pesantren seputar rokok, semoga ada manfaat besar di dalamnya. Amien.

 

Kisah Pesantren Seputar Rokok

  1. Usulan untuk KPU

Alhamdulillah, suatu saat salah satu ikhwan berkunjung ke sebuah pesantren yang para santrinya betul-betul perokok. Apa pasal? Kyainya adalah bekas SPU (Santri Perokok Ulung), dan kini menjabat sebagai KPU (kyai perokok ulunk). Setelah ngobrol banyak dengan kyai, dia minta izin menyampaikan suatu saran untuk kebaikan pesantren. Pak KPU mengizinkan, Alhamdulillah. “Satu usulan saja pak KPU, alangkah cantik ayu seandainya para santri ini mulutnya bersih tidak hitam-hitam. Yaitu dilarang saja dari merokok.” Jawab KPU, “Sungguh baik usulan Anda, tetapi karena Anda bukan orang dalam, maka tidak bisa saya pedulikan.” He?! Aneh betul jawabannya ya. Tapi itulah fakta, dan hingga kini –sepengetahuan ana- para santri masih saja menjabat SPU karena kyainya masih duduk sebagai KPU.

 

  1. Ta’jilan Pabrik Rokok

Alhamdulillah, di suatu pesantren di Jawa Barat, pada bulan Ramadhan terkadang menerima sumbangan/hadiah berupa makanan ta’jilan (buka puasa). Sore itu pada tahun 1431 H, suatu hadiah besar mampir ke pesantren. Ternyata dari para kaya. Pabrik rokok. Para santri senang. Masing-masing menenteng sebungkus besar makanan siap lahap. Pak kyai melihat itu, bertanya, “Dari mana eta?” (Darimana itu?) Saat tahu asal-usulnya, tidak banyak komentarnya. Satu jari telunjuknya diacungkan lalu digeserkan ke kanan dan ke kiri. “Jangan satu pun masukkan makanan itu ke perut!”, tandasnya tegas. Paginya santri dikumpulkan. Ditanya. Mengapa tidak makan hadiah dari pabrik rokok? Ada yang menjawab:  ما حرم أكله حرم ثمنه (Apapun yang haram dimakan, haram pula harganya: hasil dari penjualannya). Karena pesantren itu bermadzhab seperti sebagian MUI (yaitu mengharamkan rokok[12]), maka konsekwensinya adalah anti makan sesuatu dari laba hasil penjualan rokok yang haram tersebut. Yah, sikap non plin-plan memang harus dijaga. Hmmm ….

 

  1. Moncong Dua

Alhamdulilah, suatu saat seorang santri melihat orang kencing berdiri. Sambil ngisep rokok. Rokok dijepit erat oleh kedua bibirnya. Dalam benaknya santri berkata, “Buruk sekali bentuknya.” “Di atas, moncong sebatang rokoknya mengeluarkan asap. Di bawah, moncong juga untuk ganti oli [13].” “Moncong dua! Jelek sekali bentuknya.”

 

Menu Kutayb

Muqaddimah

  1. Mengapa Ditulis Kutaib Ini
  2. NLR: Nama Lain Rokok
  3. STR: Sifat “Tercantik” Rokok
  • Renungan
  1. Rokok Sang Penyelamat
  2. Rokok Si Pembersih Ulunk
  3. Pahala Memberi Rokok
  4. Rokok Penambah Iman
  5. Kisah Pesantren Seputar Rokok
  • Usulan untuk KPU
  • Ta’jilan Pabrik Rokok
  • Moncong Dua

 

الحمد لله الذي بنعمته تتم الصالحات

و بارك اللهم في أوقاتنا آمين. وحركاتنا آمين. وسكناتنا آمين. و فيما أعطيتنا آمين.

[Selesai ditulis pada: Dzul Qa’dah 1431 H/2010 M di salah satu masjid Indonesia]

[1] Rokok tidak tercantum dalam daftar makhluk-makhluk pilihan; tidak ada satu pun ayat dan hadits yang menyebutkan fadhilahnya. –ed.

[2] Mahasuci: demikianlah penulisan yang benar; disambung antara “maha” dengan kata gabungannya; bukan: Maha Suci. Wallahu Ta’ala A’lam. –ed.

[3] Duduk di samping orang berbau wangi, Alhamdulillah. Duduk di samping abab rokok, inna lillah. –ed.

[4] Manusia jika telah berusia 60 tahun, berarti ia telah “berbaju kafan” di mata orang-orang yang melihat dengan mata hakekat. Apa pasal? Rasulullah saw bersabda yang artinya: “Usia umatku antara 60 hingga 70 tahun.” HR Turmudzi 2331, hadits hasan. –ed.

[5] Istilah ini disebut di dalam Al-Qur’an pada juz ‘Amma; dengan makna lain (bukan perokok). –ed.

[6] Imam Nuwairi: “Asad (singa) memiliki 1000 (seribu) muradif (sinonim)”. Demikian dijelaskan oleh Syaikhuna Ustadz Maftuhin Shaleh an-Nadwi al-Lughawi, pendiri Ma’had ar-Raudhah Lamongan, rahimahullah. –ed.

[7] Salah satu sikap berbuat baik adalah tidak menjerumuskan diri dalam kebinasaan. Maka ayat ini termasuk dalam bab ذكر العام بعد الخاص : menyebutkan yang umum (berbuat baik) setelah yang khusus (tidak membinasakan diri sendiri). –ed.

[8] Jika Alloh Swt cinta, maka Alloh Swt menjamin mengabulkan permohonannya dan memberikan perlindungan kepadanya jika meminta perlindungan, sebagaimana disebutkan oleh hadits qudsi shahih dalam kitab Arba’in Nawawiyah. –ed.

[9] Dalam bahasa Arab disebut: لفظان إذا اجتمعا تفرقا وإذا تفرقا اجتمعا (Dua kata yang jika berkumpul justru berpisah, dan jika berpisah justru berkumpul). Contoh lain: Fakir & miskin. Saat disebutkan dua-duanya, maka fakir adalah lebih papa daripada miskin. Demikian madzhab yang lebih kuat menurut Prof. Ali ash-Shabuni penulis Shafwatut Tafasir yang best seller meskipun perlu dikoreksi beberapa paham seputar akidah yang tercantum di dalamnya. –ed.

[10] صالح (baik) adalah kebalikan dari طالح (busuk), sebagaimana منتعس (santri ngantukan sontoloyo) kebalikan dari منتعش (santri semangat membara). –ed.

[11] Baca: Akhuna. Ustadz dalam bahasa Arab berarti: Professor. Tidak benar ana dijuluki professor karena kutaib-kutaib yang ana telurkan selalu saja tipis 12 halaman. Penulis kacangan. J –ed.

[12] Konon sebagian KPU berpesan, “Kita takkan larang orang merokok, karena bisa-bisa dana dari pabrik rokok untuk pesantren kita bisa macet total.” Hmmm …. –ed.

[13] Istilah dari UsAlim untuk orang yang buang air kecil. J Dalam bahasa Arab, memang hal-hal “buruk” sering dikinayahkan; tidak disebutkan secara tegas. Misalnya menyebutkan “menutupinya” dengan arti “menjimaknya”. “Menunaikan hajat” dengan arti BAGJ (buang air gede jumbo). –ed.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here