Home Fiqih Sedunia Shalat Tasbih; Haditsnya Shahih Pahalanya Wadhih

Sedunia Shalat Tasbih; Haditsnya Shahih Pahalanya Wadhih

593
0
SHARE

 MUQODDIMAH

Alloh Swt mewasiatkan:

الْمَالُ وَالْبَنُونَ زِينَةُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ أَمَلًا [الكهف 46]

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia, sementara al-Baqiyatus Shalihat[1] adalah lebih baik pahalanya di hadapan Rabbmu, dan lebih baik pengharapannya.”

وَيَزِيدُ اللَّهُ الَّذِينَ اهْتَدَوْا هُدًى وَالْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ خَيْرٌ عِنْدَ رَبِّكَ ثَوَابًا وَخَيْرٌ مَرَدًّا [مريم 76]

“Dan Alloh menambahi petunjuk kepada orang-orang yang mengambil/melakukan petunjuk, dan al-Baqiyatus Shalihat itu lebih baik pahalanya di hadapan Rabbmu, dan lebih baik tempat kembalinya.”

 

  • Apa itu al-Baqiyatus Shalihat?

عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ ، قَالَ : خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَنَحْنُ فِي الْمَسْجِدِ بَعْدَ صَلاَةِ الْعِشَاءِ ، رَفَعَ بَصَرَهُ إِلَى السَّمَاءِ ، ثُمَّ خَفَضَ حَتَّى ظَنَنَّا أَنَّهُ قَدْ حَدَثَ فِي السَّمَاءِ شَيْءٌ ، فَقَالَ :… أَلاَ وَإِنَّ سُبْحَانَ اللهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ هُنَّ الْبَاقِيَاتُ الصَّالِحَاتُ. (صحيح لغيره وهذا إسناد ضعيف لإبهام الرجل الراوي عن النعمان ابن بشير وبقية رجاله ثقات)

Nu’man bin Basyir berkisah, “Rasulullah saw keluar menjumpai kami saat kami di masjid selepas isya`. Beliau melihat ke langit lalu melihat ke bawah, hingga kami kira telah terjadi sesuatu di langit. Lalu beliau bersabda … Ingatlah! Sungguh Subhanallah walhamdulillah wala ilaha illallah wallahu Akbar, itulah al-Baqiyatus Shalihat!” HR Ahmad 18353; shahih lighairihi[2].

Keajaiban Tasbih

 Nabi Dawud ‘alaihissalam adalah manusia hebat unik. Beliau mampu berbicara dengan burung, menguasai kerajaan kokoh tiada tandingan, dan tangannya mampu melekuk-lekuk besi sesuai bentuk yang diinginkannya.

 

Apa kuncinya?

وَلَقَدْ آتَيْنَا دَاوُودَ مِنَّا فَضْلًا يَا جِبَالُ أَوِّبِي مَعَهُ وَالطَّيْرَ وَأَلَنَّا لَهُ الْحَدِيدَ [سبأ : 10]

“Dan sungguh Kami telah memberikan kepada Dawud suatu kelebihan dari Kami. Wahai gunung-gunung, bertasbihlah[3] bersama Dawud, dan burung-burung[4]. Dan kami telah melunakkan besi baginya.”

Bisa jadi ada korelasi antara tasbih beliau setiap saat dengan hadiah keistimewaan yang Alloh limpahkan kepada beliau. Sebab tasbih memang wirid yang paling dicintai oleh Alloh Swt, sebagaimana akan dikupas dalilnya insyaAlloh.

 

Sementara itu, Nabi Yunus ‘alaihissalam yang dicaplok ikan jumbo di laut, akhirnya selamat juga tanpa cacat. Apa kuncinya?

فَالْتَقَمَهُ الْحُوتُ وَهُوَ مُلِيمٌ. فَلَوْلَا أَنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُسَبِّحِينَ. لَلَبِثَ فِي بَطْنِهِ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ [الصافات : 142 – 144]

“Lalu ikan itu menelannya sementara dia telah melakukan sesuatu yang menyebabkan ia dicela[5]. Maka seandainya dia dulu tidak termasuk para pakar tasbih[6], sungguh dia akan tetap berada dalam perut ikan hingga hari mereka dibangkitkan (kiamat).”

 

 Fadhilah Tasbih

 Tasbih adalah wirid paling dicintai Alloh Swt:

عَنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- « أَحَبُّ الْكَلاَمِ إِلَى اللَّهِ أَرْبَعٌ سُبْحَانَ اللَّهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. لاَ يَضُرُّكَ بَأَيِّهِنَّ بَدَأْتَ »

Dari Samurah bin Jundub/Jundab, bahwa Rasulullah saw bersabda: “Ucapan yang paling disukai oleh Alloh ada empat: Subhanallah, walhamdulillah, wa la ilaha illallah, wallahu Akbar. Tidaklah mengapa Anda memulai dengan lafal yang mana.” HR Muslim 724.

  • Lafal lain dari hadits Abu Dzarr ra:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سُئِلَ أَىُّ الْكَلاَمِ أَفْضَلُ قَالَ « مَا اصْطَفَى اللَّهُ لِمَلاَئِكَتِهِ أَوْ لِعِبَادِهِ سُبْحَانَ اللَّهِ وَبِحَمْدِهِ ».

Dari Abu Dzarr, bahwa Rasulullah saw ditanya: Ucapan apa yang paling utama? Beliau menjawab, “Apa yang telah dipilihkan Alloh untuk para malaikat-Nya atau para hamba-Nya, yaitu: Subhanallah wa bihamdihi.” HR Muslim 7101.

  • Hadits Abu Dzarr ini diriwayatkan pula oleh Turmudzi 3942, namun dengan lafal: أَىُّ الْكَلاَمِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ

“Ucapan apa yang paling dicintai oleh Alloh ‘Azza wa Jalla?” (shahih)

 

Hadits Shalat Tasbih

  • Dalam Sunan Abi Dawud 2/29 disebutkan:

304 – بابُ صَلاَةِ التَّسْبِيحِ.

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ لِلْعَبَّاسِ بْنِ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ : يَا عَبَّاسُ ، يَا عَمَّاهُ ، أَلاَ أُعْطِيكَ ، أَلاَ أَمْنَحُكَ ، أَلاَ أَحْبُوكَ ، أَلاَ أَفْعَلُ بِكَ عَشْرَ خِصَالٍ ، إِذَا أَنْتَ فَعَلْتَ ذَلِكَ غَفَرَ اللَّهُ لَكَ ذَنْبَكَ أَوَّلَهُ وَآخِرَهُ ، قَدِيمَهُ وَحَدِيثَهُ ، خَطَأَهُ وَعَمْدَهُ ، صَغِيرَهُ وَكَبِيرَهُ ، سِرَّهُ وَعَلاَنِيَتَهُ

Bab Shalat Tasbih.

Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepada Abbas bin Abdul Mutthalib: “Wahai Abbas, wahai pamanku, sukakah paman, aku beri, aku karuniai, aku beri hadiah istimewa, aku ajari sepuluh macam kebaikan yang dapat menghapus sepuluh macam dosa? Jika paman mengerjakan hal itu, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa paman, baik yang awal dan yang akhir, baik yang telah lalu atau yang akan datang, yang di sengaja ataupun tidak, yang kecil maupun yang besar, yang samar-samar maupun yang terang-terangan.

عَشْرَ خِصَالٍ : أَنْ تُصَلِّيَ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ تَقْرَأُ فِي كُلِّ رَكْعَةٍ فَاتِحَةَ الْكِتَابِ وَسُورَةً ، فَإِذَا فَرَغْتَ مِنَ الْقِرَاءَةِ فِي أَوَّلِ رَكْعَةٍ وَأَنْتَ قَائِمٌ ، قُلْتَ : سُبْحَانَ اللهِ ، وَالْحَمْدُ لِلَّهِ ، وَلاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ ، وَاللَّهُ أَكْبَرُ ، خَمْسَ عَشْرَةَ مَرَّةً ، ثُمَّ تَرْكَعُ ، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ رَاكِعٌ عَشْرًا ، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ الرُّكوعِ ، فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، ثُمَّ تَهْوِي سَاجِدًا ، فَتَقُولُهَا وَأَنْتَ سَاجِدٌ عَشْرًا ، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ مِنَ السُّجُودِ فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، ثُمَّ تَسْجُدُ ، فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، ثُمَّ تَرْفَعُ رَأْسَكَ ، فَتَقُولُهَا عَشْرًا ، فَذَلِكَ خَمْسٌ وَسَبْعُونَ ، فِي كُلِّ رَكْعَةٍ تَفْعَلُ ذَلِكَ فِي أَرْبَعِ رَكَعَاتٍ ، إِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تُصَلِّيَهَا فِي كُلِّ يَوْمٍ مَرَّةً فَافْعَلْ ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّةً ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ شَهْرٍ مَرَّةً ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ فَفِي كُلِّ سَنَةٍ مَرَّةً ، فَإِنْ لَمْ تَفْعَلْ ، فَفِي عُمُرِكَ مَرَّةً

Sepuluh macam kebaikan itu ialah:

  • Paman mengerjakan shalat empat raka’at.
  • Setiap raka’at membaca AL Fatihah dan 1 surah.
  1. Apabila selesai membaca itu, dalam raka’at pertama dan masih berdiri, bacalah; “Subhanallah wal hamdulillah walaa ilaaha illallah wallahu akbar (Maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada ilah selain Allah dan Allah Maha besar) ” sebanyak 15x
  2. Lalu ruku’, dan dalam ruku’ membaca bacaan seperti itu sebanyak 10x
  3. Kemudian mengangkat kepala dari ruku’ (i’tidal) juga membaca seperti itu sebanyak 10x
  4. Lalu sujud (pertama) juga membaca 10x
  5. Setelah itu mengangkat kepala dari sujud (duduk di antara dua sujud) juga membaca 10x
  6. Lalu sujud (kedua) juga membaca 10x
  7. Kemudian mengangkat kepala[7] dan membaca 10x.
  8. Maka jumlahnya ada 75x dalam setiap raka’at; paman melakukannya dalam 4 raka’at.
  9. Jika paman sanggup mengerjakannya 1x dalam sehari, kerjakanlah.
  10. Jika tidak mampu, kerjakanlah setiap jum’at.
  11. Jika tidak mampu, kerjakanlah setiap bulan.
  12. Jika tidak mampu, kerjakanlah setiap tahun sekali.
  13. Dan jika masih tidak mampu, kerjakanlah 1x seumur hidup.”

(HR Abu Dawud 1297, Turmudzi 482 dan berkata: “Ini hadits gharib”[8], Ibnu Majah 1386)

Intinya, shalat tasbih adalah 4 rekaat, dan caranya sama dengan shalat biasa, kecuali 5 perbedaan berikut:

  1. Harus membaca 1 surah setelah al-Fatihah.
  2. Membaca baqiyat shalihat[9] 15x setelah membaca surah.
  3. Membaca baqiyat shalihat 10x dalam semua gerakan shalat.
  4. Membaca baqiyat shalihat 10x dalam jalsah istirahah (duduk setelah sujud kedua).
  5. Tanpa duduk tasyahud awal.

Wallahu Ta’ala A’lam, wa ‘Ilmu-Hu atamm. Walhamdulillah.

 

Derajat Hadits Shalat Tasbih

  • Tuhfatul Ahwadzi 2/17 menyebutkan:

قَدْ وَقَعَ اخْتِلَافُ أَهْلِ الْعِلْمِ فِي أَنَّ حَدِيثَ صَلَاةِ التَّسْبِيحِ هَلْ هُوَ صَحِيحٌ أَمْ حَسَنٌ أَمْ ضَعِيفٌ أَمْ مَوْضُوعٌ

“Telah terjadi perselisihan di antara ulama tentang apakah hadits shalat tasbih itu shahih[10], hasan[11], dha’if, atau bahkan palsu[12]!

وَالظَّاهِرُ عِنْدِي أَنَّهُ لَا يَنْحَطُّ عَنْ دَرَجَةِ الْحَسَنِ.

Yang zhahir menurutku adalah: hadits ini tidak kurang dari derajat hadits hasan.

وَأَمَّا قَوْلُ الْحَافِظِ فِي التَّلْخِيصِ : وَالْحَقُّ أَنَّ طُرُقَهُ كُلَّهَا ضَعِيفَةٌ وَإِنَّ حَدِيثَ اِبْنِ عَبَّاسٍ يَقْرُبُ مِنْ شَرْطِ الْحَسَنِ إِلَّا أَنَّهُ شَاذٌّ لِشِدَّةِ الْفَرْدِيَّةِ فِيهِ وَعَدَمِ الْمُتَابِعِ وَالشَّاهِدِ مِنْ وَجْهٍ مُعْتَبَرٍ ،

فَجَوَابُهُ ظَاهِرٌ مِنْ كَلَامِهِ فِي الْخِصَالِ الْمُكَفِّرَةِ وَأَمَالِي الْأَذْكَارِ.

Adapun statemen al-Hafizh dalam at-Talkhish bahwa “Yang benar, semua jalur periwayatan hadits ini lemah, dan bahwa hadits Ibnu ‘Abbas mendekati derajat hasan, hanya saja dia syadz [13], karena sangat bersendiri tanpa ada mutabi’ dan syahid (yang menguatkannya) dari jalur yang mu’tabar”, maka jawaban bagi statemen ini telah jelas dari penjelasan beliau dalam kitab al-Khishâlul Mukaffirah dan Amâlil Adzkâr.

وَأَمَّا مُخَالَفَةُ هَيْئَتِهَا لِهَيْئَةِ بَاقِي الصَّلَوَاتِ فَلَا وَجْهَ لِضَعْفِهِ بَعْدَ ثُبُوتِهِ ، هَذَا مَا عِنْدِي وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.

Adapun perbedaan bentuk shalat tasbih dari shalat-shalat lainnya, maka tiada arah untuk mendha’ifkannya setelah jelas keshahihannya. Inilah pendapatku, wallahu Ta’ala A’lam.

 

  • Dalam ‘Aunul Ma’bud 4/176 disebutkan:

قَالَ السُّيُوطِيُّ : وَأَفْرَطَ اِبْن الْجَوْزِيّ فَأَوْرَدَ هَذَا الْحَدِيث فِي كِتَاب الْمَوْضُوعَات وَأَعَلَّهُ بِمُوسَى بْن عَبْد الْعَزِيز قَالَ إِنَّهُ مَجْهُول.

“Suyuthi menegaskan: Ibnul Jauzi melampaui batas, yaitu dia sebutkan hadits ini dalam kitab al-Maudhu’at[14], dan ia menilai cacat karena adanya Musa bin ‘Abdul ‘Aziz yang menurut pendapatnya sebagai rawi majhul.”

قَالَ الْحَافِظ أَبُو الْفَضْل بْن حَجَر فِي كِتَاب الْخِصَال الْمُكَفِّرَة لِلذُّنُوبِ الْمُقَدَّمَة وَالْمُؤَخَّرَة أَسَاءَ اِبْن الْجَوْزِيّ بِذِكْرِ هَذَا الْحَدِيث فِي الْمَوْضُوعَات. وَقَوْله إِنَّ مُوسَى بْن عَبْد الْعَزِيز مَجْهُول لَمْ يُصِبْ فِيهِ فَإِنَّ ابْن مَعِين وَالنَّسَائِيّ وَثَّقَاهُ.

Ibnu Hajar berkata dalam kitab al-Khishalul Mukaffirah: Ibnul Jauzi berbuat buruk ketika menyebutkan hadits ini dalam kitab al-Maudhu’at. Dan pernyataannya bahwa Musa bin ‘Abdil ‘Aziz adalah majhul, juga tidak akurat! Sebab Ibnu Ma’in & Nasa`i saja telah menilainya tsiqat.

وَقَالَ فِي أَمَالِي الْأَذْكَار : هَذَا الْحَدِيث أَخْرَجَهُ الْبُخَارِيّ فِي جُزْء الْقِرَاءَة خَلْف الْإِمَام وَأَبُو دَاوُدَ وَابْن مَاجَهْ وَابْن خُزَيْمَةَ فِي صَحِيحه وَالْحَاكِم فِي مُسْتَدْرَكه وَصَحَّحَهُ الْبَيْهَقِيُّ وَغَيْرهمْ

Ibnu Hajar berkata dalam Amalil Adzkar: Hadits ini ditakhrij oleh Bukhari dalam Juz`ul Qira`ah, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah dalam Shahihnya, dan Hakim dalam Mustadraknya. Sementara Baihaqi dan selain mereka menilainya shahih.

وَقَالَ الدَّيْلَمِيّ فِي مُسْنَد الْفِرْدَوْس : صَلَاة التَّسْبِيح أَشْهَر الصَّلَوَات وَأَصَحّهَا إِسْنَادًا.

Dailami dalam Musnadul Firdaus menegaskan, “Shalat tasbih adalah shalat yang paling tenar dan paling shahih sanadnya.”

وَقَالَ الزَّرْكَشِيّ: غَلَطَ اِبْن الْجَوْزِيّ بِلَا شَكّ فِي جَعْله مِنْ الْمَوْضُوعَات؛ لِأَنَّهُ رَوَاهُ مِنْ ثَلَاثَة طُرُق أَحَدهَا: حَدِيث اِبْن عَبَّاس وَهُوَ صَحِيح وَلَيْسَ بِضَعِيفٍ فَضْلًا عَنْ أَنْ يَكُون مَوْضُوعًا… وَالطَّرِيقَانِ الْآخَرَانِ فِي كُلّ مِنْهُمَا ضَعِيف وَلَا يَلْزَم مِنْ ضَعْفهمَا أَنْ يَكُون حَدِيثهمَا مَوْضُوعًا اِنْتَهَى.

Zarkasyi menegaskan, “Tidak diragukan bahwa Ibnul Jauzi salah dalam memasukkan hadits ini pada kelompok hadits-hadits palsu, sebab ia diriwayatkan dari 3 jalur, salah satunya adalah hadits Ibnu ‘Abbas dan ia shahih bukan dha’if apalagi palsu! … Dua jalur lainnya masing-masing terdapat rawi dha’if padanya, tetapi tidak mengharuskan hadits ini menjadi palsu gara-gara itu. Selesai.”

 

  • Dalam Hasyiyah Sunan Ibnu Majah 1/442 disebutkan:

قال السندي ثم الحديث قد تكلم في الحفاظ.

As-Sindy berkata, “Hadits ini diperbincangkan oleh para huffazh[15].”

والصحيح أنه حديث ثابت ينبغي للناس العمل به. وقد بسط الناس في ذلك.

“Namun yang benar, hadits ini shahih; pantas untuk diamalkan orang banyak, dan sungguh banyak ulama` yang menjelaskan panjang lebar dalam hal ini.”

 

Ulama` yang Melakukan Shalat Tasbih

  • Imam Tarmudzi[16] menegaskan:

وَقَدْ رَأَى ابْنُ الْمُبَارَكِ وَغَيْرُ وَاحِدٍ مِنْ أَهْلِ الْعِلْمِ صَلاَةَ التَّسْبِيحِ وَذَكَرُوا الْفَضْلَ فِيهِ.

“Sungguh Ibnul Mubarak[17] dan lebih dari satu dari kalangan ulama` berpendapat (dilakukan) shalat tasbih, dan mereka telah menyebutkan keutamaannya.” (Sunan Tarmudzi 2/335)

  • Imam Baihaqi berkata:

كَانَ عَبْد اللَّه بْن الْمُبَارَك يُصَلِّيهَا وَتَدَاوَلَهَا الصَّالِحُونَ بَعْضهمْ عَنْ بَعْض ، وَفِيهِ تَقْوِيَة لِلْحَدِيثِ الْمَرْفُوع. وَلِحَدِيثِ اِبْن عَبَّاس هَذَا طُرُق

“’Abdullah bin Mubarak biasa melakukan shalat tasbih, dan para shalihin saling meriwayatkannya sesama mereka, dan hal itu terdapat sisi penguat terhadap hadits marfu’ ini, dan hadits Ibnu ‘Abbas ini memiliki beberapa jalur.”

 

Lupa Dalam Shalat Tasbih

  • Tuhfatul Ahwadzi 2/17 menyebutkan:

قُلْت لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْمُبَارَكِ إِنْ سَهَا فِيهَا أَيْ فِي صَلَاةِ التَّسْبِيحِ أَيُسَبِّحُ فِي سَجْدَتَيْ السَّهْوِ عَشْرًا عَشْرًا قَالَ لَا إِنَّمَا هِيَ ثَلَاثُ مِائَةِ تَسْبِيحَةٍ

“Kutanyakan kepada ‘Abdullah bin Mubarak: Jika seseorang lupa dalam shalat tasbih, apakah dia melakukan sujud sahwi dengan membaca tasbih 10x? Dia jawab: Tidak, shalat tasbih hanyalah berisi 300 tasbih.”

قَالَ الْقَارِيُّ فِي الْمِرْقَاةِ : مَفْهُومُهُ أَنَّهُ إِنْ سَهَا وَنَقَصَ عَدَدًا مِنْ مَحَلٍّ مُعَيَّنٍ يَأْتِي بِهِ فِي مَحَلٍّ آخَرَ تَكْمِلَةً لِلْعَدَدِ الْمَطْلُوبِ اِنْتَهَى.

Al-Qari dalam al-Mirqat berkomentar, “Mafhum dari penjelasan di atas adalah: bila lupa dan kurang dalam membaca tasbih pada suatu gerakan shalat, maka dia baca kekurangannya itu pada tempat lain, hingga sempurna jumlah tasbih yang dituntut (300 tasbih). Selesai.”

 

Waktu Shalat Tasbih

  • Tuhfatul Ahwadzi 2/17 menulis:

الْأَوْلَى أَنْ يُصَلِّيَ صَلَاةَ التَّسْبِيحِ بَعْدَ زَوَالِ الشَّمْسِ

“Paling utama, shalat tasbih dilakukan setelah tergelincir matahari.”

فَقَدْ رَوَى أَبُو دَاوُدَ فِي سُنَنِهِ… عَبْدَ اللَّه بْنَ عَمْرٍو قَالَ : قَالَ لِي النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، اِئْتِنِي غَدًا أَحْبُوك وَأُثِيبُك وَأُعْطِيك حَتَّى ظَنَنْت أَنَّهُ يُعْطِينِي قَالَ. إِذَا زَالَ النَّهَارُ فَقُمْ فَصَلِّ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ… الخ

Karena Abu Dawud telah meriwayatkan dalam sunannya bahwa ‘Abdullah bin ‘Amr berkata, “Nabi bersabda kepadaku: Datanglah esok hari kepadaku, aku akan memberi dan menghadiahimu (sehingga kukira beliau akan memberiku sesuatu). Ternyata beliau bersabda, “Jika siang telah tergelincir, maka berdirilah lalu shalatlah 4 rekaat … dst.”

وَسَكَتَ عَنْهُ أَبُو دَاوُدَ وَالْمُنْذِرِيُّ : وَقَالَ السُّيُوطِيُّ فِي اللَّآلِئِ : قَالَ الْمُنْذِرِيُّ ، رُوَاةُ هَذَا الْحَدِيثِ ثِقَاتٌ.

Abu Dawud diam (tidak mendha’ifkan) hadits ini, juga Mundziri. Adapun Suyuthi[18] dalam al-La`ali` berkata, “Mundziri mengatakan bahwa para rawi hadits ini adalah para tsiqat.”

قَالَ الْقَارِيُّ فِي الْمِرْقَاةِ : وَيَنْبَغِي لِلْمُتَعَبِّدِ أَنْ يَفْعَلَهَا بَعْدَ الزَّوَالِ قَبْلَ صَلَاةِ الظُّهْرِ وَأَنْ يَقْرَأَ فِيهَا تَارَةً بِالزَّلْزَلَةِ وَالْعَادِيَاتِ وَالْفَتْحِ وَالْإِخْلَاصِ

Al-Qari dalam al-Mirqat berkata, “Adalah pantas bagi pecinta ibadah untuk mengamalkan shalat tasbih ini setelah tergelincir mentari, sebelum shalat zhuhur, dan membaca terkadang surah az-Zalzalah, al-‘Adiyat, al-Fath, dan al-Ikhlash.

وَتَارَةً بِأَلْهَاكُمُ وَالْعَصْرِ وَالْكَافِرُونَ وَالْإِخْلَاصِ

Dan terkadang pula membaca surah Alhakum (Takatsur), al-‘Ashr, al-Kafirun, dan Al-Ikhlash.

وَأَنْ يَكُونَ دُعَاءَهُ بَعْدَ التَّشَهُّدِ قَبْلَ السَّلَامِ ثُمَّ يُسَلِّمَ وَيَدْعُوَ لِحَاجَتِهِ ، فَفِي كُلِّ شَيْءٍ ذَكَرْته وَرَدَتْ سُنَّةٌ

Dan hendaklah ia berdoa setelah tasyahud sebelum salam, kemudian salam dan berdoa sesuai hajatnya. Semua yang telah kusebutkan ini telah ada sunnah yang diriwayatkan tentangnya. Selesai.

قُلْت لَمْ أَقِفْ عَلَى مَا وَرَدَ فِي هَذِهِ الْأُمُورِ مِنْ السُّنَّةِ إِلَّا فِي فِعْلِ صَلَاةِ التَّسْبِيحِ بَعْدَ الزَّوَالِ. وَالْأَوْلَى عِنْدِي الْعَمَلُ بِحَدِيثِ اِبْنِ عَبَّاسٍ وَأَبِي رَافِعٍ وَاللَّهُ تَعَالَى أَعْلَمُ.

Komentarku: Aku belum mendapatkan riwayat berkaitan dengan hal-hal yang ia sebutkan di atas, selain pelaksanaan shalat tasbih setelah tergelincir mentari, dan yang paling utama menurutku adalah mengamalkan shalat tasbih menurut versi riwayat Ibnu ‘Abbas dan Abu Rafi’[19]. Wallahu A’lam.

USULAN CERDAS

Jika kesulitan atau keberatan melakukan shalat sunnah tasbih tiap hari setelah tergelincir matahari, maka ada usulan cantik cerdas[20] yaitu:

  1. Melakukannya antara maghrib dan ‘isya`.
  2. Di dalam masjid.
  3. Dengan membaca 4 surah dari surah-surah musabbihat.[21]

Membaca musabbihat tiap malam sebelum tidur adalah sunnah yang telah punah; hanya segelintir tipis umat Islam yang melakukannya. Padahal fadhilahnya sungguh menakjubkan, yaitu apa? Ini dia:

عَنْ عِرْبَاضِ بْنِ سَارِيَةَ : أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَقْرَأُ الْمُسَبِّحَاتِ قَبْلَ أَنْ يَرْقُدَ وَقَالَ : إِنَّ فِيهِنَّ آيَةً أَفْضَلُ مِنْ أَلْفِ آيَةٍ.

Dari ‘Irbadh bin Sariyah bahwa Rasulullah saw biasa[22] membaca al-musabbihat sebelum tidur, dan beliau bersabda, “Sungguh padanya terdapat 1 ayat yang lebih utama daripada 1000 ayat.” HR Abu Dawud 5057 & Turmudzi 3171, dan dia menilainya hasan gharib[23].

Melakukan usulan ini sungguh cerdas, sebab ini merupakan three in one[24]; 3 sunnah tercakup dalam 1 amal, yaitu:

  1. Sunnah shalat tasbih.
  2. Sunnah ta’qib (i’tikaf antara maghrib sampai isya`).
  3. Sunnah membaca musabbihat tiap malam.

 

Alhamdulillah, Subhanallah, La haula wa la quwwata illa billah[25].

Bertasbih Saat Hati Sempit

Alloh Swt mewasiatkan:  وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّكَ يَضِيقُ صَدْرُكَ بِمَا يَقُولُونَ. فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَكُنْ مِنَ السَّاجِدِينَ

“Dan sungguh Kami tahu bahwa sempit hatimu gara-gara ucapan mereka, maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu, dan jadilah kau termasuk orang-orang yang bersujud[26].” Q.S. al-Hijr: 97 – 98.

 

Keajaiban Menyebarkan Sunnah Kepada Ummat

  • Rasulullah saw berpetuah emas: مَنْ دَلَّ عَلَى خَيْرٍ فَلَهُ مِثْلُ أَجْرِ فَاعِلِهِ

“Siapapun menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka ia mendapatkan pahala seperti orang yang melakukannya.” HR Muslim 5007, dari hadits Abu Mas’ud

 

Info dari HQA (Hamalatul Qur’an wal Atsar)

  1. KEPADA TA’MIR MASJID SEDUNIA FANA: ditawarkan bedah buku ini untuk jama’ahnya. Pembicara gratis. Hub: 0878 3601 3279 (penulis)
  2. HQA bergerak di bidang DAKWAH ISLAMIYAH, dengan menerbitkan majalah dakwah pekanan insyaAlloh, Rp. 1000. è Banyak Rp 750/eks.
  3. KEPADA MUHSININ/TA’MIR MASJID sedunia fana,
    berlangganan majalah dakwah HQA ditawarkan harga Rp 500/eks.
  4. Karya HQA diwakafkan ke berbagai PERPUSTAKAAN ma’had atau masjid. è Gratis untuk wakaf, hub: 0819 3167 8876 (Hermawan).
  5. INFAQ untuk BUKU WAKAF ABADI: Mu’amalat 922 4131 097 a/n. Muhammad Ayatullah. è Harap kirim SMS ke 0819 1533 0551 (alAtsari)
  6. SMS GRATIS taushiyah harian HQA: reg_tausiyah HQA_(nama)_(kota)
    è kirim ke 0818 25 4645 (Sahlâ) * BLOG: hqa.blogspot.com.
  7. JUDUL-JUDUL lain majalah dakwah sedunia fana:
  • 1001 Alasan Berjilbab (best seller)
  • Maksiat 2001 (best seller).
  • Peraturan Ibadah Jum’at (best seller)
  • Santri Perokok (best seller).
  • Sedunia melakukan Ta’qib (segera terbit)
  • Sedunia Shalat Tasbih (best seller)
  • Sedunia Tilawah 1 Juz (segera terbit). DLL

 

[Selesai ditulis: Jumadal Ula 1432 H/2011 M. di Maktabah Âli Abî ‘Abdillâh Turkey Jhatenk]

[1] Syaikh Samir Syam: Tiada disebutkan al-Baqiyatus Shalihat ini dalam Al-Qur’an kecuali di dua surat.

[2] NB: Takhrij hadits dinukil dari para pakar hadits kontemporer: Syaikh al-Albani, Syaikh al-Arna`uth, Syaikh Husain Salim Asad, dll. ** Syarat ini berlaku untuk semua kutaib-kutaib HADAF!, baik yang telah maupun akan dicetak. Harap dipahami. Lillahil hamdu, wallahu Akbar.

[3] Awwibi diterjemahkan: bertasbihlah, adalah tafsir Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan Qatadah. (Tafsir Mawardi 4/435. NB: Kitab tafsir ini bagus untuk shidaq alias mahar. Mumtaz isinya unik muatannya murah harganya J bila tahu tempat belinya J) ** Kitab bagus juga: جامع أحكام النساء (5 jilid 750.000 di Maktabah Islamiyah Solo) ** Juga bagus: Kitab ZUHD karya Imam Ahmad.

[4] Maksudnya: Kami perintahkan untuk bertasbih bersama Dawud juga. (Tafsir Jalalain)

[5] Yaitu pergi ke laut meninggalkan kaumnya yang mendustakan beliau, tanpa idzin dari Alloh Swt. (Tafsir Jalalain)

[6] Beliau senantiasa mengucapkan: لَا إلَه إلَّا أَنْتَ سُبْحَانك إنِّي كُنْت مِنَ الظَّالِمِينَ (Tafsir Jalalain). Tafsir Ibnu ‘Abbas: termasuk orang-orang yang melakukan shalat. Tafsir Wahb bin Munabbih (ahli kitab yang masuk Islam): termasuk ahli ibadah. (Tafsir Mawardi)

[7] Duduk setelah sujud kedua disebut jalsah istirahah (duduk istirahat; sebelum berdiri ke rekaat berikutnya)

[8] Maksudnya: dha’if. Demikianlah kebiasaan dalam Sunan Turmudzi. Wallahu A’lam.

[9] Telah lewat penjelasannya.

[10] Termasuk yang menshahihkan: Ibnu Khuzaimah, Baihaqi, dan Albani.

[11] “Termasuk mereka yang menilai shahih atau hasan hadits ini adalah: Ibnu Mandah (dan beliau telah menulis satu karya tentang keshahihan hadits ini), al-Ajurri, al-Khathib, Abu Sa’d as-Sam’ani, Abu Musa al-Madini, Abul Hasan bin Mufadhdhal, al-Mundziri, Ibnu Shalah, dan an-Nawawi dalam Tahdzibul Asma`, dan para ulama` lainnya”. (‘Aunul Ma’bud)

[12] Ibnul Jauzi menilainya palsu, namun ini dibantah para ulama.

[13] Syadz termasuk hadits dha’if. Syadz adalah hadits shahih yang menyelisihi hadits yang lebih shahih.

[14] Al-Maudhu’at: Hadits-hadits palsu. Karya Ibnul Jauzi ini banyak dikritik ulama`, karena beberapa hadits shahih bahkan ada hadits Shahih Muslim yang dimasukkan di situ.

[15] Hafizh: muhaddits yang hafal 300.000 hadits beserta sanadnya. Wallahu A’lam.

[16] Turmudzi, Tirmidzi, Tarmudzi. Silakan pilih. Benar semua. Beliau adalah Abu ‘Isa Muhammad bin ‘Isa bin Saurah at-Tarmudzi; bukan Tarmudzi Taher Indonesia itu.

[17] ‘Abdullah bin Mubarak, muhaddits mujahid zahid ‘alim tenar yang kaya raya dan dermawan besar; teman Fudhail bin ‘Iyadh ‘Abidul Haramain; murid Sufyan ats-Tsauri.

[18] Imam Suyuthi termasuk ulama` unik. Usia 40 tahun dia ‘uzlah, tinggalkan semua kajian, diam di dalam rumah hingga wafat, untuk mentahqiq semua karya yang telah ia telurkan. ** Beliau mengaku sebagai mujaddid abad itu, sehingga dikritik oleh banyak ulama`. ** Beliau membela Ibnu ‘Araby yang dinilai kafir oleh sebagian ulama`, maka beliau menulis kitab “Tanbihul Ghabiy ‘Ala Tanzih Ibni ‘Araby.” (Tafsir wal Mufassirun 4/341. NB: Ini kitab penting bagi pelajar tafsir! Demikian tegas DR. Hasan el-Qudusi kepadaku)

[19] Bukan yang dari jalur Ibnul Mubarak, yang caranya sedikit berbeda dengan riwayat Ibnu ‘Abbas ra.

[20] Ibu kita ‘Aisyah ra, adalah shahabiyah cantik cerdas. Inilah sifat wanita yang diidamkan setiap primus (pria mushalla); sudah cantik, cerdas lagi. Subhanallah. Allahul Musta’an.

[21] Menurut al-Mundziri, musabbihat adalah 6 surah yang dimulai dengan سبح atau يسبح yaitu: al-Hadid, al-Hasyr, as-Shaff, al-Jumu’ah, at-Taghabun, dan al-A’la. ** Menurut lainnya, al-Isra` termasuk musabbihat juga karena dimulai dengan سبحان.

[22] Fi’il mudhari’ yang nongol setelah كان yang madhi, pada umumnya menunjukkan kebiasaan.

[23] Menurut Syaikh ‘Abbad dalam syarah Abu Dawud (8/29), hadits ini dha’if karena dalam sanadnya terdapat ابن أبي بلال yang maqbul (jika memiliki mutabi’). ** Syaikh al-Albani menilainya dha’if dalam Dha’if Abi Dawud, lalu meralatnya dan menilainya hasan dalam Shahih Tarmudzi. (Lihat Al-Ahaditsullati Taraja’al Albani ‘an Tadh’ifiha no. 33). Wallahu A’lam.

[24] Guru kami Ust. Drs. Haryadi dan Ust. Musthafa, telah mengajarkan bahasa Inggris kepada kami, maka semoga dengan adanya kutipan Inggris di atas Alloh Swt melimpahkan pahala kepada mereka, juga kepada semua guru yang telah berjasa mengajarkan ilmu bermanfaat apapun kepada kami semua, hafizhahumullah Amien.

[25] Tiada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh Swt. Maka setelah mengetahui sunnah ini, tidak semua orang mampu mengamalkannya. Hanya mereka yang diberi taufiq oleh Alloh Swt saja yang tergerak hatinya dan bergerak tubuhnya untuk melahap dan menikmati sunnah nabawiyah yang nyaris punah ini. Wallahul Musta’an.

[26] Yaitu shalat. Nabi saw saat bersedih hati karena suatu perkara, maka beliau shalat. (hadits shahih)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here