Home Fiqih Tidak Gegabah Menerima Berita tentang Seseorang, Meski Pembawa Berita Itu Ustadzmu

Tidak Gegabah Menerima Berita tentang Seseorang, Meski Pembawa Berita Itu Ustadzmu

247
0
SHARE

SKI PEMBAWA BERITA ITU USTADZMU

Assalamu’alaikum, copas dar ikwan, mudah2an manfaat.📝قواعد التجريح باختصار من اختتام محاضرة الشيخ أ. د. سليمان الرحيلي 💙
📝 Kaidah-kaidah tajrih secara singkat dari kajian penutup Prof Sulaiman Ar-Ruhailiy حفظه الله 
   🔮Di saat tersebarnya dakwah Ahlussunnah oleh para da’i yang menyerukan untuk mengikuti dakwah para Salafusshalih ada secercah noda merah di dalam gelas yang berisikan susu putih… Yaitu adanya segolongan da’i yang memposisikan dirinya bak Imam Yahya bin Ma’in, Abu Hatim Ar-Razy dan Ali bin Al-Madiniy serta para ulama jarh wat-ta’dil lainnya dalam menjarh (mencela/mencacati), namun perbedaan 2 golongan tersebut (antara para Imam jarh wat-ta’dil dengan para da’i belakangan) sangatlah jauh, para imam jarh wat-ta’dil tersebut menjarh dengan niat agar menjaga hadits Nabi صلى الله عليه وسلم dari kesalahan, disisipi dengan yang bukan sabda Nabi صلى الله عليه وسلم atau bahkan dari perkataan yang dipalsukan sebagai hadits Nabi صلى الله عليه وسلم, adapun para da’i belakangan ini lisannya dan tulisannya lebih banyak menusuk sesama da’i Ahlussunnah dibandingkan kepada ahlul-bid’ah, bahkan mengeluarkan para da’i Ahlussunnah dari barisan Ahlussunnah hanya karena satu atau dua permasalahan ijtihadiyah yang masing-masing pendapat memiliki dalil dan wajhul istidlalnya serta didukung fatwa ulama kibar dari kalangan Ahlussunnah…
   🔮Dalam majlis penutup Daurah Syar’iyyah ke 17 di kota Batu, Syaikh Prof Sulaiman Ar-Ruhailiy ditanya tentang bagaimana dhawabith dan kaidah-kaidah ketika ada seseorang yang dijarh oleh seorang ulama atau da’i lainnya…
   🔮 Beliau menjawab bahwa orang yang dijarh memiliki beberapa kondisi :

1. Dia hanya dijarh saja oleh ulama Ahlussunnah dan tidak ada ulama yang menta’dilnya walaupun yang menjarh hanya satu ulama, maka orang seperti ini memang majruh (tercacati). 
2. Orang yang dipuji oleh sebagian Syaikh dari kalangan Ahlul-bid’ah dan dicela oleh sebagian Syaikh dari kalangan Ahlussunnah, maka orang seperti ini pun majruh. 
3. Orang yang di ikhtilafkan oleh para ulama Ahlussunnah, sebagian ulama Ahlussunnah mengatakannya sebagai orang yang baik dan pantas untuk diambil ilmunya namun sebagian ulama Ahlussunnah menjarh nya, maka ketika demikian wajib menempuh beberapa hal:
     3.1 Kita tidak boleh ta’asshub kepada pendapat seorang Syaikh pun yang kita bahkan tidak pernah keluar dari pendapat Syaikh tersebut dan membenarkan semua pendapatnya, namun kita harus objektif.
     3.2 Kita mentarjih perbedaan penilaian para ulama tersebut sesuai qawa’id tajrih, dan kita mentarjih sesuai dengan dugaan kuat yang bisa kita lakukan, (dan hanya bisa dilakukan oleh thullab ilmu bukan orang awam). 
     3.3 Sesama para ulama yang berbeda pendapat dalam jarh tersebut tidak bisa memaksakan pendapatnya kepada orang lain, dan yang tidak mengikuti pendapatnya dikatakan bukan Ahlussunnah. 
     3.4 Sesama para ulama yang berbeda pendapat tadi tentang jarh seseorang maupun para pengikutnya tidak boleh saling jarh satu sama lain, karena ini termasuk kezhaliman….selesai kutipan singkat dari Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily. 
   🔮 Sungguh mengherankan Ahlussunnah yang gembar-gembornya mengamalkan Qur an dan Sunnah sesuai dengan pemahaman para Salafusshalih, namun di zaman fitnah seperti ini tidak mengamalkan ayat tatsabbut (kroscek) :

يا أيها الذين آمنوا إن جاءكم فاسق بنبأ قتبينوا أن تصيبوا قوما بجهالة… 

“Wahai orang-orang yang beriman apabila datang kepada kalian seorang fasiq membawa berita maka periksalah bisa jadi kalian menuduh suatu kaum karena kebodohan…(QS Al-Hujurat :6).
   🔮Barangkali ada yang berkilah : “Orang yang bawa kabarnya tsiqah jadi tidak perlu diperiksa lagi…” Ma sya Allah apakah orang yang berkata demikian memang bodoh atau pura-pura bodoh bahwa sebab turunnya ayat tersebut adalah berkaitan tentang salah seorang Sahabat, yang orang paling buruk dari para Sahabat jauh lebih baik daripada orang paling baik di zaman kita, yang sahabat tersebut diutus untuk mengambil zakat, namun ketika datang mengambil zakat dia sudah ditunggu di gerbang desa oleh para penduduk desa dengan membawa pedang, karena memang demikian cara penduduk des
a tersebut menghormati para pembesar yang datang, namun sahabat tersebut melihat dari kejauhan lalu pulang kepada Nabi صلى الله عليه وسلم dan mengatakan bahwa penduduk desa tidak mau membayar zakat dan hampir-hampir Nabi صلى الله عليه وسلم mengutus pasukan perang untuk memerangi kaum tersebut…
  🔮 Apakah tidak mengambil pelajaran dari kisah Imam Al-Bukhary yang dituduh sebagai Jahmiyy oleh seorang ulama hadits di zamannya yang bahkan lebih terkenal daripada Imam Al-Bukhary ketika itu dan bahkan Al-Hafizh Ibnu Hajar dalam At-Taqrib mengatakannya sebagai Amirul-mu’minin fil hadits, beliau dituduh gara-gara seorang penanya yang bertanya tentang masalah Al-Qur an makhluk atau bukan, lalu lapor kepada Imam yang mentahdzir dengan jawaban lainnya dan Imam tersebut pun tidak tabayyun dulu kepada Imam Al-Bukhary dan langsung mentahdzirnya, hingga akhirnya tidak ada yang mau datang ke majlis Imam Al-Bukhary kecuali hanya 2 orang, dan salah satunya adalah Imam Muslim, hingga akhirnya Imam Al-Bukhary pun diusir dari Naisabur pulang ke kampung nya Bukhara, tidak cukup sampai disitu, Imam yang mentahdzir Al-Bukhary bahkan sampai menulis surat kepada Gubernur Bukhara untuk mengusir Imam Al-Bukhary karena dia Jahmiyy, akhirnya terpaksa Imam Al-Bukhary keluar ke kota kecil tempat kerabatnya di kota Khartank dan beliau meninggal disana yang jenazahnya hanya dishalatkan oleh kerabatnya, namun setelah itu kuburan beliau memancarkan bau semerbak dan Allah harumkan nama Imam Al-Bukhary sepanjang zaman sebagai orang yang mengarang kitab paling benar setelah Al-Qur an, dan Allah redupkan nama Imam yang mentahdzirnya hingga tidak dikenal kecuali oleh para penuntut ilmu hadits. 

   

   💿Barangsiapa yang menginginkan penjelasan singkat tentang qawa’id tajrih dari Syaikh Sulaiman Ar-Ruhaily tersebut maka bisa dapatkan rekaman video atau suara kepada panitia Daurah Syar’iyyah Aqadiyyah Manhajiyyah ke 17 di kota Batu, di bagian akhir daurah. 🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺🌺

Akhukum fillah Varian Ghani Hirma 

19 Syawwal 1437 H

Di jalan pulang dari kota Batu

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

*